Kalau ada typo tandai ya, belum sempat ngedit soalnya.
Terima kasih dan happy reading!!!
🔥
Sinar hangat mentari menerpa wajah Lyn melalui celah tirai yang sedikit tersibak di kamar itu. Mata gadis jelita itu mengerjap, menatap langit-langit kamar yang terasa asing.
"Di mana ini?" gumam gadis itu. Lyn bangun, mengubah posisinya yang tadinya berbaring menjadi duduk. Gadis itu mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi sebelumnya.
Mata gadis itu terbebelak ketika mengingat di mana tempat ia terakhir berada.
"Mungkinkah ini--" Lyn menggeleng dan mencoba turun dari atas kasur.
Namun, "Auw!" Gadis itu meringis. Dia baru menyadari bahwa kedua pergelangan tangannya telah dijerat dengan kain merah berbahan sutera. Di mana kain merah itu kemudian diikat di masing-masing sisi tiang yang ada di kepala ranjang.
Lyn tidak bisa bangkit. Panjang kain yang menjerat masing-masing pergelangan tangannya dibuat hanya sebatas ia bisa duduk dan berbaring saja. Untuk bangkit atau sekadar duduk di tepi ranjang dan menapak lantai saja tidak bisa.
Sebenarnya siapa yang telah melakukan ini padanya? Lyn bertanya dalam hati.
"Edwards?!" gumam gadis itu. Mungkinkah anak itu yang melakukannya? Tapi, bagaimana mungkin? Ada ibunya yang bersama mereka waktu itu.
Pintu kamar itu terbuka. Lyn langsung menoleh. Dan sesosok pria tampan berbadan tegap nan tinggi muncul dari sana.
"Sudah bangun," ucap laki-laki itu dengan suara berat yang khas.
"Apa maksudnya ini, Edwards?" tanya Lyn tidak habis pikir.
Edwards mengambil kursi kayu yang berada di depan meja rias. Menariknya mendekat ke ranjang kemudian duduk dengan santai di sana sembari berpangku tangan. Tatapannya berbinar ke arah Lyn. Senyum lebar anak itu tidak sedikit pun memudar sejak ia memasuki kamar ini.
"Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini padamu," ucap Edwards riang kemudian tertawa kecil.
Lyn mengabaikannya. Gadis itu menghempas-hempaskan tangannya berharap kain yang menjerat tangannya bisa terlepas.
"Berhenti main-mainnya Edwards. Sekarang lepaskan aku! Ini sama sekali tidak lucu!" Lyn gusar, benar-benar gusar. Dia menatap Edwards dengan tatapan berapi-api.
"Calm down, baby. Calm down."
Edwards bangkit dari duduknya. Menghampiri Lyn kemudian mengelus rambutnya.
Lyn berpaling, berusaha mengelak dari sentuhan Edwards namun sia-sia saja.
"Aku sudah lama ingin mengatakan kalau kamu lebih cantik dari enam tahun yang lalu."
Ucapan Edwards itu membuat Lyn tidak bisa berkata-kata. Banyak hal yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Enam tahun yang lalu? Tidak! Tidak mungkin! Anak ini pasti sedang bercanda! gumam Lyn dalam hati.
"Perjelas kata-katamu! Jangan buat aku berpikiran yang macam-macam," ucap Lyn kesal.
Edwards kembali duduk di kursi kayunya. Menyilangkan kaki dengan angkuh kemudian menatap Lyn seolah ia sedang berpikir.
"Biar aku tebak. Saat ini kamu pasti sedang berpikir bahwa mungkin aku adalah seseorang yang sudah lama kamu kenal."
Mata Lyn seketika terbelalak. "Bagaimana bisa kamu--, tidak--, tidak, ka-kamu, tidak mungkin! tidak mungkin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
General FictionSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)