"Bener ini rumahnya?" tanya Anhar pada Jovas saat mereka berempat telah tiba di depan sebuah rumah berlantai dua dengan halaman yang cukup luas.
"Dari lokasi yang Edwards kasih, kayaknya ini udah bener," jawab Jovas melihat maps sekali lagi.
"Ya udah ayo turun! Gue udah enggak sabar pengin ketemu sama calon mertua gue," kelakar Cecile dari kursi belakang.
"Calon mertua? Kepedan banget loh," komentar Airin yang duduk di sebelah Jovas di dekat kursi kemudi.
Mereka memang sengaja memisahkan tempat duduk antara Airin dan Cecile untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa saja terjadi antara kedua gadis itu.
Jovas berinisiatif mengambil foto rumah itu dan mengirimkannya pada Edwards.
"Edwards bilang rumahnya udah benar kok. Tunggu sebentar lagi, dia bakalan dateng buat bukain pagar," beritahu Jovas kepada teman-temannya.
Mendengar hal itu, Cecile buru-buru mengeluarkan cermin dan memastikan penampilannya tetap oke. Dan saat melihat lipstiknya sedikit memudar, gadis itu segera memolesnya kembali membuat Airin memutar bola mata melihat kelakuan gadis itu.
"Apa lo liat-liat?" tanya Cecile pada Airin yang terlihat menatapnya sinis dari spion dashboard.
Airin diam tidak lagi menanggapi Cecile. Tidak lama, muncul Edwards yang berlari dari dalam rumahnya dan membukakan pintu pagar untuk mereka. Setelah pintu pagar terbuka, barulah Jovas kembali menjalankan mobil memasuki pekarangan rumah Edwards.
"Rumah lo asik juga. Banyak pepohonan rindang. Adem banget di sini woy," komentar Anhar menikmati angin segar di tempat itu.
"Bener banget. Gue langsung ngerasa nyaman begitu menginjakkan kaki di sini," lanjut Jovas memuji rumah Edwards yang memancarkan aura positive.
"Enggak perlu berlebihan. Ayo masuk," ajak Edwards mengajak keempat orang itu untuk segera memasuki rumahya.
Sontak keempat orang itu kembali berdecak kagum saat berada di dalam rumah Edwards. "Gila! Rumah lo canggih bener. Dari luar keliatan biasa aja. Tapi, begitu masuk semuanya langsung berubah," kelakar Jovas merasa kagum setelah melihat bagian dalam rumah Edwards.
"Mewah dan modern. Beda banget kalau di lihat dari luar yang keliatan cukup lusuh," Airin ikut memberi review pada rumah ini. Mata gadis itu langsung tertarik pada beberapa lukisan yang terpajang di beberapa bagian dinding rumah.
"Wah, makin enggak sabar jadi istri Edwards biar bisa tinggal bareng di rumah ini," celetuk Cecile mendapat tatapan tajam dari ketiga temannya ; Anhar, Jovas, terlebih dari Airin. Sementara Edwards hanya tertawa kecil sebagai tanggapan.
"Jadi, di mana kita ngerjain tugasnya?" tanya Airin sekalian untuk mengingatkan Cecile dengan apa tujuan mereka datang ke tempat ini.
"Di sana, di ruang keluarga. Lebih nyaman," jawab Edwards. "Oh ya, kalian duluan aja. Aku mau nyiapin minuman sama beberapa camilan buat kita," ucap Edwards.
Teman-temannya serempak mengangguk. "Makanannya yang enak dan banyak ya, Ed," pinta Jovas bercanda.
"Siap," ucap Edwards yang langsung menuju dapur. Tidak lama, cowok itu kembali dengan lima minuman di nampan dan beberapa toples berisi camilan di nampan yang lain.
"Emang di rumah lo enggak ada asisten rumah tangga?" tanya Anhar merasa heran melihat Edwards menyiapkan sendiri makanan dan minuman untuk mereka. Di lihat dari sisi manapun, jelas-jelas keluarga Edwards sangat mampu untuk mempekerjakan asisten rumah tangga.
"Oh, ada sih. Hanya saja sedang cuti beberapa hari ini. Lagi pula, untuk menyiapkan semua ini sendiri bukanlah yang sulit bagi ku," ungkap Edwards menjelaskan.
"Terus, nyokap sama bokap lo di mana? Gue mau kenalan nih," tanya Cecile.
Tiba-tiba ekspresi wajah Edwards berubah. Yang tadinya cerah, mejadi sedikit murung.
"Apaan sih nanya-nanya kayak gitu? Enggak sopan tahu," celetuk Jovas memberi peringatan pada Cecile.
"Apanya yang enggak sopan? Gue cuma mau kenalan aja kok. Bagian mananya yang salah coba?" tanya Cecile tidak mengerti.
"Serah lu deh!" ucap Jovas tidak ingin berdebat lagi.
"Nyokap itu Mama, ya? Dan, Bokap itu Papa?" tanya Edwards sok tidak mengerti bahasa gaul mereka.
"Bener. Nyokap itu Mama. Bokap itu Papa," Kali ini Airin yang menjawabnya.
"Oh, gitu," Edwards tersenyum tipis. Cowok itu mengelus lehernya pelan merasa malu karena kurang paham. "Mamaku lagi kerja. Sementara, Papaku ... udah enggak ada," ungkap cowok itu.
"Innalillahi...," ucap Anhar spontan.
"Semoga Tuhan Yesus senantiasa memberimu kesabaran," ucap Jovas sembari mengelus lengan Edwards sebagai bentuk rasa simpatinya.
"Yang sabar ya Edwards. Aku tahu kalau kamu itu adalah orang yang kuat," ucap Cecile merasa sedih mendengar pengakuan dari Edwards.
"Sudah lama. Sudah tidak apa-apa kok," ucap cowok itu meyakinkan teman-temannya. "Udah, udah. Ayo kita mulai saja ngerjain tugasnya. Semakin cepat selesai. Semakin banyak waktu kita untuk bermain di rumah ini," lanjut Edwards kemudian tersenyum tipis.
Sementara Airin, sejak tadi hanya fokus menatap lukisan-lukisan menawan di rumah itu.
🍁
Jangan lupa baca TRAITOR juga ya guys....
Makasih.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
Ficción GeneralSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)