Pandangan Malvin terus tertuju pada sosok yang memakai hoodie hitam itu. Sedikit lagi dia akan tiba di seberang sana dan menangkap pria yang terus memperhatikan Lyn itu. Namun, semuanya hancur saat seorang pengemudi mobil membunyikan klakson dengan sangat kencang.
TIIITTTTTTTT!!!!
Mobil itu berhenti. Tepat satu meter di samping Malvin. Hampir saja mobil itu menabraknya.
Pengemudi itu membuka kaca jendela mobil. "WOI, BOCAH! Kalau mau mati jangan di sini! Gantung diri kek, apa kek. Jangan di jalanan kayak gini! Kalau kamu ketabrak mobil saya dan mati, kan saya juga yang repot!" bentak pengemudi mobil itu pada Malvin. Dari mimik wajahnya, sangat jelas kalau bapak itu sangat emosi.
Ya, kalau dipikir-pikir lagi, siapa yang tidak emosi jika ada seseorang yang tiba-tiba lari, tanpa lihat kanan-kiri, menyeberang jalan dan hampir tertabrak oleh mobilmu.
Malvin yang sadar bahwa ini adalah kesalahannya langsung mengucapkan kata maaf dan segera menepi. Pengemudi itu hanya mampu menggerutu kesal dan kembali melajukan mobilnya.
Malvin yang telah tiba di seberang, melihat ke tempat di mana orang yang memakai hoodie hitam tadi berdiri. Pemuda itu seketika mengumpat saat tidak menemukan orang yang memakai hoodie hitam itu di mana pun.
"Sial!" Malvin merasa kesal. Apa orang itu pergi saat melihat keberadaan Malvin? Tapi, rasanya tidak mungkin. Kecuali jika orang itu mengenal dirinya.
"Malvin."
Malvin berbalik. Dia terkesiap saat melihat Lyn sudah berada di hadapannya.
"Eh, Bu Lyn," jawab Malvin gugup.
Mata Lyn sedikit memicing. "Kamu kenapa ada di sini?" tanya Lyn curiga.
Awalnya Malvin bingung hendak menjawab apa.
"Ya, ini kan tempat umum Bu. Enggak ada alasan khusus kenapa saya bisa di sini," jawab Malvin sukses membuat Lyn terdiam.
Lyn merutuki kebodohannya sendiri karena telah melempar pertanyaan itu.
"Bu Lyn sendiri?" tanya Malvin memecah keheningan yang tercipta di antara mereka.
"Saya baru beli bunga di toko itu." Lyn menunjuk toko bunga yang tidak jauh dari mereka.
Malvin mengangguk-angguk. Sepertinya Lyn tidak tahu jika tadi ada orang yang terus-menerus mengikuti dan memperhatikan dirinya.
"Cantik," gumam pemuda itu.
Lyn tersenyum. Dia menyentuh kelopak bunga yang ada di tangannya. "Mawar merah memang cantik. Tapi sayang, dia berduri. Harus siap terluka jika ingin memilikinya," ucap gadis itu kemudian mengalihkan pandangan dari bunga mawar itu ke arah Malvin.
"Bukan bunga mawar itu, Bu. Yang saya maksud cantik itu adalah Bu Lyn," sambung Malvin kemudian menyengir tanpa dosa.
"Malvin!" Nyaris saja buket bunga mawar itu mendarat di wajah Malvin. "Sudah saya katakan, berhenti bersikap seperti itu kepada saya."
"Ya, mana bisa secepat itu Bu. Semua kan ada prosesnya. Lagi pula ya Bu. Siapa yang tahu kalau besok atau lusa Bu Lyn berbalik menyukai saya," goda Malvin tidak ada habisnya. Lagian, mana bisa dia menjauhi dan melupakan perasaannya pada Bu Lyn secepat itu.
"Malvin!" Nada penuh peringatan itu kembali terdengar dari Lyn.
Bukannya takut, Malvin malah tertawa kecil.
"Kenapa ketawa?" tanya Lyn karena merasa tidak ada ada yang lucu.
Entah perasaan Malvin saja, tapi dia merasa jika Bu Lyn sedang berusaha menghindari kontak mata dengannya. Dan walau hanya sebentar, Malvin sempat melihat ekspresi Bu Lyn yang tersipu dalam beberapa detik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Killer, Lover! [TAMAT]
General FictionSMA SANJAYA kedatangan siswa baru dari Amerika. Dia bernama Edwards Robertson. Dia baik, tampan, dan pintar. Hanya saja dia sedikit tertutup dan tidak suka bergaul. Namun, hal itu justru membuat orang-orang semakin penasaran akan sosoknya. Dia menja...
![Killer, Lover! [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/260229322-64-k287116.jpg)