Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 48 - Berada di antara kegelapan

482 76 4
                                        

Dan ... klik! Ternyata titik merah itu adalah sebuah tombol dan satu detik kemudian pintu di depan mereka terbelah dua dan bergeser ke arah yang berlawanan, persis seperti pintu lift yang terbuka.

Lagi, baik Malvin dan Lyn sama-sama membulatkan mata. Ternyata semudah itu. Namun, bukan hanya itu yang membuat mereka terkejut. Begitu pintu itu terbuka sepenuhnya, sesosok yang sangat mereka kenali berdiri di depan mereka dengan pandangan yang sama terkejutnya seperti mereka.

"Bu Lyn? Malvin?" gumam orang itu menatap mereka berdua bergantian dengan raut wajah syok.

"Anhar," ucap Lyn dan Malvin di waktu yang hampir bersamaan.

Reiki dan Jovas saling pandang dan langsung menghampiri Anhar yang masih berada di dalam lemari.

"MALVIN!? BU LYN!?" ucap Jovas dan Reiki bersamaan. Awalnya mereka berpikir bahwa Anhar bercanda saat menyebut nama Malvin dan Bu Lyn tadi. Tapi, setelah mendengar suara Malvin dan Bu Lyn yang menyebut nama Anhar mereka mulai menyadari bahwa ucapan teman mereka yang bernama lengkap Anhar Sultan Agung tadi itu bukanlah candaan semata. Kini dua sosok yang mereka cari-cari selama ini telah nyata di hadapan mereka.

"Kalian ... Kenapa tiba-tiba ada di sini? Edwards, dia ..." Malvin benar-benar bingung dengan situasi yang terjadi sekarang ini. Awalnya hanya dia yang berada di rumah ini. Kenapa tiba-tiba ada sahabat-sahabatnya juga di sini?

"Ceritanya panjang, Vin. Kita enggak bisa cerita sekarang. Soal Edwards lo enggak perlu khawatir. Kita udah kirim dia ke tempat yang jauh," jawab Jovas seadanya. 

"Tapi, sumpah! Gue seneng banget kalau ternyata kalian baik-baik aja," ucap Reiki. "Tapi, si Edwards badjingan itu benar-benar gila ... Awas aja kalau ketemu nanti lehernya gue pijek-pijek," sambung Reiki merasa kesal sekaligus gemas pada Edwards. Saking gemasnya, dia ingin sekali melempar cowok itu ke dalam kawah gunung merapi sekarang juga.

"Udah. Nanti dulu bacotannya. Kita harus buru-buru pergi. Perasaan gue tiba-tiba enggak enak," ucap Anhar menyadarkan teman-temannya di mana tempat mereka berada sekarang.

"Bener. Kita harus buru-buru pergi. Enggak tahu kenapa, bulu kuduk gue juga tiba-tiba berdiri," ungkap Reiki. "Auranya memang beda ya kalau di tempat tinggalnya setan."

"HUSHHH! Sembarangan!" sela Jovas. "Si Edwards bngst itu bukan setan ogeb. Tapi, iblis. Hiiihhh!!!"

"Kalau begitu, ayo!" ajak Lyn. Gadis itu meraih lengan Malvin, hendak membantunya lagi berjalan. Namun, Jovas dan Reiki dengan sigap mengambil alih.

"Soal Malvin serahkan aja sama kita-kita," ucap Reiki sembari mengambil alih Malvin dari tangan Lyn. "Iya enggak, bro?" ucapnya pada Jovas.

Jovas yang berada di sisi lain tubuh Malvin mengangguk. "Yoi, bro!"

Kelima orang itu berjalan beriringan dengan Anhar yang berada di barisan terdepan. 

Tepat saat kaki mereka menginjak lantai luar dari ruangan ini, tiba-tiba  ... klik!

Gelap! Tidak ada sedikit pun cahaya di rumah ini. Seluruh penerangan di rumah ini tiba-tiba mati begitu saja.

"Ini ... kenapa ya?" tanya Reiki sembari menelan ludah. Dia paling takut dan parno dengan kegelapan.

"Mungkin memang lagi ada pemadaman listrik. Udah. Enggak usah panik. Santai aja. Nyalain aja senter hp kalian." Anhar mencoba menenangkan suasana. 

Mereka semua masih berpikir positif hingga tiba di pintu keluar.

Cklek! Cklek! Cklek!

"Ini ... Kenapa pintunya enggak bisa dibuka?" heran Anhar. Seingatnya saat mereka pertama masuk tadi, dia hanya menutup pintu ini tanpa menguncinya. Tapi ... kenapa sekarang pintu ini tidak bisa dibuka?

Reiki melepas lengan Malvin dari bahunya pelan.

"Jangan bercanda dong. Enggak lucu," ucap Reiki tidak percaya dengan kata-kata Anhar dan memilih untuk mencobanya sendiri.

Dan ... hasilnya sama. Pintu itu tidak bisa dibuka. Dikunci.

"Lo yakin, tadi enggak ngunci pintu ini?" tanya Jovas mulai berpikiran buruk.

"Gue yakin. Tadi, gue cuma nutup pintu ini. Enggak ngunci sama sekali biar kita keluarnya mudah," jelas Anhar. "Lagian gue enggak punya kunci pintu ini. Kunci yang dikasih Mr. Liem juga cuma bisa dipake buat buka pintu. Enggak bisa dipake buat ngunci pintunya lagi."

"Tunggu!" Lyn bereaksi. "Mr. Liem yang kalian maksud itu ... Paman Liem? Pengacara Liem?"

Anhar mengangguk. "Benar," ucapnya.

Paman Liem? Kenapa dia terlibat? Apa karena aku berada di sini juga? batin Lyn.

"Ya udah. Kan tinggal pake kunci itu lagi. Beres deh," usul Jovas.

"Benar juga. Harusnya masih bisa digunakan dua kali lagi," ucap cowok itu sembari mengambil kunci pemberian Mr. Liem dari saku kemudian memasukkannya ke dalam lubang kunci, mencoba seperti tadi.

Dia mencoba membuka pintu dan hasilnya ... "Tetap enggak bisa dibuka," ucap Anhar yang membuat semua panik seketika.

"Gimana ceritanya enggak bisa!" Jovas mulai cemas.

"Mana gue tahu. Mungkin kuncinya error. Atau mungkin udah pernah dipakai sebanyak dua kali sebelum kita," jawab Anhar.

Jovas melepas papahannya dari Malvin. "Sebentar, bro, ini pegangin senternya dulu," ucapnya pada Malvin dan menghampiri Anhar yang berada di pintu. "Sini, biar gue yang nyoba," ucap Jovas kemudian meminta kunci itu dari Anhar.

"Nah, ambil. Enggak percayaan banget sih sama temen sendiri," gerutu Anhar.

Jovas mencoba membuka pintu dengan kunci pemberian Mr. Liem. Dan sama seperti yang dialami Anhar sebelumnya, Jovas juga gagal membuka pintu itu.

"Enggak bisa, kan?" tanya Anhar sedikit jengkel.

"Iya, iya. Lo bener. Gue salah. Nah, kuncinya gue balikin," ucap Jovas memberikan kunci itu lagi pada Anhar dan kembali ke belakang untuk menopang tubuh Malvin yang bisa ambruk kapan saja.

"Ngomong-ngomong ... Di mana Reiki?" tanya Lyn yang baru saja menyadari bahwa tinggal mereka berempat saja di sini.

🍁

Jangan lupa tinggalkan jejak teman-teman...

Thanks and see u again di part selanjutnya...

Btw, aku berniat untuk membunuh beberapa karakter. Namun, belum yakin bakalan tega ngelakuin itu huhuhu...

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang