Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 21 - Dia yang menyebut nama Gray

1.1K 169 27
                                        

"Bu Lyn," panggil Malvin.

Lyn yang baru saja keluar dari toilet terkejut dengan kemunculan Malvin yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

"Iya," jawab Lyn sedikit gugup karena rasa terkejutnya belum sepenuhnya hilang.

"Aku mau bicara sama Bu Lyn," ucap Malvin serius.

"Kalau mau bicara, bicara aja langsung. Kenapa harus bertanya dulu?"

"Itu," Malvin terdiam sejenak. Dia ingin menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu pikirannya namun ragu.

Kening Lyn berkerut. Dia menunggu kalimat Malvin namun sampai detik ini anak itu masih belum mengeluarkan suara.

"Kalau tidak jadi lebih baik kita kembali ke meja. Sepertinya Airin dan Edwards menunggu kita."

Lyn hendak melangkah pergi namun Malvin menahan tangannya. Lyn menatap tangannya yang dipegang Malvin untuk beberapa saat kemudian dia menatap Malvin dan memberi kode untuk segera melepaskan tangannya.

"Maaf Bu Lyn. Tapi, aku harus bicara di sini dan harus sekarang juga," ucap Malvin setelah dia melepas genggaman tangannya pada tangan Lyn dengan canggung.

"Kalau begitu katakanlah."

"Begini," Malvin menarik napas sejenak. "Kenapa ibu tiba-tiba setuju untuk bergabung bersama kami setelah melihat keberadaan Edwards? Tadinya ibu menolak ajakan Airin untuk bergabung. Namun, saat melihat Edwards ibu tiba-tiba berubah pikiran. Apa benar ibu setuju bergabung karena Edwards?"

Malvin tahu, dia tidak seharusnya mempertanyakan ini. Tapi, sejak tadi hal itu mengganggu pikirannya. Dia merasa seperti ada yang mengganjal. Terlebih, Malvin melihat ekspresi wajah Bu Lyn yang seketika berubah saat pertama kali melihat Edwards di kafe ini.

Lyn tidak langsung menjawab.

"Oke. Apa hanya itu yang ingin kamu tanyakan?"

Malvin mengangguk.

"Ya, kamu benar. Saya memang berubah pikiran karena dia," jawab Lyn membuat Malvin terkejut.

Malvin tidak menyangka jawaban Bu Lyn akan seperti itu. Jikalau pun memang benar alasan Bu Lyn untuk bergabung bersama mereka itu benar karena Edwards, tidak bisakah Bu Lyn mengelak saja? Malvin rasa itu akan lebih baik.

"Tapi, kenapa Bu Lyn? Memangnya apa yang ada di dalam diri Edwards sehingga hal itu bisa mempengaruhi keputusan Bu Lyn?"

Malvin sungguh tidak mengerti. Dan dia tidak bisa memungkiri jika hal ini membuat dirinya sedikit cemburu. Ya, sedikit... Ah tidak, sebenarnya dia benar-benar cemburu dan juga cemas.

"Saya rasa saya tidak perlu menjawab pertanyaan mu yang satu ini," ucap Lyn kemudian segera melangkah kembali ke meja mereka.

Malvin tidak bisa berkata apapun lagi, dia mengikuti Lyn kembali ke meja mereka.

Hal yang dapat Malvin rasakan saat kembali ke meja mereka adalah perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba menghinggapi perasaannya. Dia dapat melihat tatapan Edwards yang berbeda dari biasanya ketika ia dan Bu Lyn tiba tadi.

"Sudah hampir malam. Sepertinya kita semua harus pulang," ucap Edwards setelah melihat jam di tangannya.

"Ih, kok pulang sih? Kita kan belum lama di sini," protes Airin dengan ekspresi kecewa yang tidak bisa ia tutupi.

"Kami di sini untuk belajar gitar. Dan itu sudah selesai beberapa menit yang lalu," jawab Edwards membuat Airin semakin cemberut.

"Edwards benar. Sebaiknya kita semua pulang," jawab Lyn setelah melihat jam di ponsel. Dia masih mempunyai beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.

Killer, Lover! [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang