"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak."
"Aku capek."
Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
Genta tiba di apartemennya sendirian. Ia mandi, mencoba membersihkan dirinya dari ketegangan yang ia rasakan di taman tadi. Fokus. Setelah mandi, Genta duduk di sofa. Ia meraih ponselnya yang ia matikan selama beberapa jam. Notifikasi masuk, termasuk pesan dari Risa.
Genta membuka pesan itu.
Risa:Ta, Jiaya mabuk nih.
Genta menekan play pada video singkat itu. Ia melihat Jiaya yang rapuh, mata sayu, dan tawa sedih yang diakhiri bisikan. "Hi Genta (kekeh)."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Genta merasakan hantaman emosi yang luar biasa. Ia tahu, Jiaya yang mabuk adalah Jiaya yang hancur, dan ia yang menyebabkan itu. Semua pertahanan profesionalnya, semua tekadnya , hancur. Karena di Indonesia, sudah tidak ada keluarga yang menemaninya di sini.
Genta bangkit, mengambil jaket, dan menyambar kunci mobil dari meja. Hati Pria Genta mengambil alih. Ia harus menemukan Jiaya. Di meja, Genta melihat catatan Vika: "Jangan lupa besok meeting sama Pak Arka, Pak. Apapun yang terjadi. Selamat beristirahat."
Genta membeku. Otaknya berteriak, Jangan pergi! Kamu akan terlihat lemah! Tapi hatinya berteriak lebih keras, Dia kesakitan karena kamu!
Genta meremas catatan Vika, lalu melemparnya. Ia tidak peduli. Tugas, harga diri, dan yang harus menunggu.
Genta membuka pintu dan bergegas keluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Venue After Party
Genta mengemudi dengan kecepatan tinggi. Saat ia tiba kembali di venue, pesta sudah jauh lebih sepi. Hanya tersisa beberapa teman dekat di meja-meja yang berantakan. Genta langsung mencari Risa, yang sedang membereskan barang-barang di sudut.
Risa menoleh, terkejut melihat Genta kembali. "Genta? Lo... lo balik lagi?"
"Jangan banyak tanya! Jiaya mana?" desak Genta.
"Dia... dia masih di sofa di belakang. Tadi dia muntah sedikit, jadi gue biarin dia tidur di sana dulu," jawab Risa, menunjuk ke sebuah sofa besar yang tersembunyi di balik dekorasi bunga.