"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak."
"Aku capek."
Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Juan..." Hanya satu kata, tapi suaranya pecah.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya mulai naik turun, napasnya terputus-putus. Bukan tangis yang keras—ini jenis tangis yang sakit, yang ia tahan bertahun-tahun, yang begitu pecah langsung meruntuhkan semuanya.
"Juan... I'm sorry..." Ia mengulanginya lagi—lebih pelan, lebih pecah. "I'm so... so sorry."
Jiaya berpindah duduk dari sofa, seolah terjatuh ke lantai di depan Juan. Tangannya mencari-cari lutut Juan, memegangnya seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahan dunianya agar tidak runtuh.
"Aku—aku salah. Semua salahku. Aku takut... Aku malu... Aku nggak mau kamu lihat bagian aku yang jelek. Aku nggak mau kamu lihat aku lemah."
Napasnya patah lagi.
"Aku... aku nggak mau kamu ninggalin aku karena masa lalu aku, Juan. Makanya aku sembunyiin... aku pikir aku bisa handle sendiri. Tapi aku salah. Aku salah besar..."
Jiaya menunduk semakin rendah, air matanya menetes ke celana Juan.