Wedding

66 3 0
                                        

Jiaya kembali ke kehidupannya yang gemerlap sebagai model internasional, tetapi hatinya tidak lagi tenang. Adegan di bandara terus menghantuinya: Genta yang sakit, Genta yang merespons pelukannya, dan bisikan Genta, "Kalau kamu memang masih mau, gantian kamu yang datang ke Indonesia."

Kalimat itu bukan permohonan, tetapi tantangan yang diselipkan dengan kerentanan. Genta tidak mengejarnya, tetapi dia mengundang.

Selama ini, Jiaya selalu merasa bahwa ia telah menemukan kebahagiaan dan stabilitas dalam pekerjaannya, terutama setelah perpisahan menyakitkan dengan Genta. Kehadiran Juan, meskipun profesional, memberikan rasa hormat yang menutupi luka lama. Ia bahagia, tetapi kebahagiaan itu terasa... sendiri.

Apa emang salah gua ya? Jiaya sering bergumam di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang dikagumi banyak orang. Kenapa gua bahagia sendirian? Sementara dia... dia kesakitan.

Rasa bersalah atas kegagalannya di masa lalu dan rasa iba karena Genta sakit bercampur dengan getaran nostalgia yang tiba-tiba menguat. Jiaya menyadari bahwa perasaannya terhadap Genta tidak sepenuhnya mati, hanya terkubur dalam-dalam di bawah ambisi dan kebanggaan.

Jiaya butuh menguji perasaannya. Apakah dorongan untuk menemui Genta lagi di Indonesia hanyalah sekadar rasa bersalah dan kasihan karena ia telah meninggalkannya? Atau, apakah itu adalah pengakuan jujur bahwa ia masih mencintai lelaki itu, terlepas dari segala risiko dan kerumitan?

Jiaya membuat keputusan: ia akan kembali ke Indonesia.

Keputusan itu datang beberapa minggu kemudian.

.

.

.

Hari Pernikahan Ijo dan Lucy

Pagi di Jakarta terasa cerah dan sibuk. Genta sudah berdiri tegak di samping Ijo, sahabatnya, di area altar. Sebagai groomsman kehormatan, Genta mengenakan tuksedo yang dibuat khusus, auranya kuat dan elegan. Genta fokus menenangkan Ijo yang tampak gugup. Setelah berbulan-bulan kembali ke rutinitas, Genta merasa dirinya sudah sepenuhnya pulih dari drama di New Zealand. Jiaya? Ia sudah menjadi kenangan yang tertutup rapi oleh pekerjaan.

Di barisan tamu, Vika duduk di bagian depan. Ia mengenakan gaun formal yang anggun, dan, sebagai sentuhan akhir, ia mengikatkan scarf sutra pemberian Genta di lehernya, sebuah detail kecil yang menambah keanggunannya. Genta meminta Vika datang, karena ia membutuhkan kehadirannya, walau hanya sebagai rekan.

Musik mulai mengalun, menandakan prosesi dimulai.

Lucy, sang pengantin wanita, masuk dengan anggun, didampingi barisan bridesmaid yang cantik. Genta tersenyum, berfokus pada kebahagiaan sahabatnya. Setelah bridesmaid utama selesai berbaris, tiba-tiba, suasana di ruangan itu berubah. Semua mata tertuju ke arah pintu masuk. Bisikan terdengar dari para tamu.

 Bisikan terdengar dari para tamu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang