toxiclove
Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis apartemen, lembut dan tidak terlalu terang. Aroma kopi dari mesin otomatis mulai tercium—Juan memang sempat mengatur timer sebelum tidur, hanya kebiasaan lama agar pagi terasa lebih mudah. Langkah kaki dari kamar terdengar pelan. Jiaya keluar dengan rambut sedikit berantakan namun tetap terlihat segar; oversized shirt, tanpa make-up yang berlebihan, hanya real morning look—jujur dan apa adanya. Juan sudah duduk di sofa, membuka sedikit laptop, bukan bekerja penuh, hanya mengecek jadwal cepat. Saat Jiaya muncul, ia menutup laptop pelan—bukan refleks terpaksa, tapi bentuk respect.
Jiaya berjalan mendekat, matanya masih sayu tapi senyumnya keluar duluan.
"Morning..."
(Selamat pagi...)
Suara serak habis bangun tidur membuatnya terdengar manis tanpa usaha.
Juan mengangguk kecil, suaranya rendah seperti biasanya.
"Morning."
(Pagi.)
Jiaya berdiri di depan Juan tanpa banyak kata. Lalu, dengan gerakan spontan yang jujur dan ringan, dia membungkuk sedikit, memegang bahu sofa sebagai tumpuan, lalu memberi morning kiss soft, cepat, bukan agresif — lebih seperti ucapan: thank you for being here.
Juan tidak kaget, tidak membalas terlalu berlebihan, hanya menatapnya setelah itu dengan sedikit half-smile yang jarang muncul.
"You sleep well?"
(Kamu tidur nyenyak?)
Jiaya mengangguk sambil duduk di sampingnya, menyender ringan.
"Mhm... Maybe because you were here."
(Iya... Mungkin karena kamu ada di sini.)
Juan menatapnya sebentar, tetapi tidak mengomentari kalimat itu. Bukan karena tidak suka—justru karena ia menghargainya.
"Coffee's ready. I made it how you like."
(Kopinya sudah jadi. Aku bikin sesuai seleramu.)
Jiaya menatapnya sambil tersenyum kecil.
"See? That's why morning kiss is legal."
(Tuh kan? Makanya morning kiss itu legal.)
Juan menghela napas pendek sambil tersenyum sangat tipis—senyum yang hanya muncul kalau dia merasa soft amused.
"Finish your coffee first."
(Minum kopinya dulu.)
Jiaya pura-pura cemberut sebentar, tapi menurut. Bibirnya tetap menyungging senyum sepanjang jalan menuju dapur.
Jiaya duduk di meja dapur dengan mug kopi favoritnya, kaki menggantung santai di kursi bar. Juan sedang memotong buah dengan rapi, seperti kebiasaan pagi yang tidak pernah ia lewatkan. Setelah beberapa tegukan kopi, Jiaya membuka pembicaraan pelan, bukan ragu—hanya ingin menyampaikan dengan cara yang tepat.
"I'll have a photoshoot today... and there will be a male model in the concept."
(Aku ada photoshoot hari ini... dan bakal ada model cowok di konsepnya.)
Juan tidak langsung menoleh, tapi terdengar paham. Ia menyelesaikan memotong buah dulu, baru menjawab—showing emotional control.
"Okay. What kind of shoot is it? Fashion? Editorial?"
(Oke. Photoshoot konsep apa? Fashion? Editorial?)
"Editorial. Couple shots, kinda romantic theme."
(Editorial. Tema couple gitu, agak romantis.)
Juan mengangguk pendek, tidak terlihat terganggu. Ia mengambil mangkuk buah lalu meletakkannya di depan Jiaya.
"That's your job. I already know what comes with it."
(Itu pekerjaan kamu. Aku sudah tahu risiko dan konsekuensinya.)
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
