toxiclove
Malam Pertama – Apartment
Begitu pintu tertutup, Genta bergerak seakan kehilangan kendali, seperti takut kesempatan terakhirnya akan hilang begitu saja. Napasnya berat, gerakannya terburu-buru, sorot matanya memadukan panik dan keinginan yang sulit dibendung. Tapi tepat sebelum ia melangkah terlalu jauh, pandangannya menangkap Jiaya di bawahnya—rambut kusut, pakaian acak, raut wajah sedikit terkejut. Sesaat, dunia terasa melambat, seakan menahan napas bersamanya.
Air mata jatuh cepat, tanpa bisa ditahan.
"Maaf... maaf... aku salah..." gumamnya berulang.
Jiaya spontan menariknya ke pelukan, menepuk punggungnya pelan, menenangkan gelombang emosi Genta.
"Shhhh... iya. Aku maafin," bisiknya lembut, seakan memeluk tidak hanya tubuh Genta tapi juga semua rasa bersalahnya.
Genta menumpukan kedua tangan di sisi tubuh Jiaya, posisinya seperti push-up. Wajah mereka sangat dekat, cukup untuk merasakan napas satu sama lain. Otot lengan Genta menegang, bukan karena lelah, tapi menahan diri. Jiaya menatapnya dari bawah, lalu mengusap pipinya yang menirus — gerakan pelan, ragu, tapi tulus. Ada kesempurnaan yang terasa sedikit terlalu "pas," seperti momen ini terlalu lancar untuk sepenuhnya nyata.
"Lan... lanjutin," ucap Jiaya lirih.
"Lanjutin apa yang mau kamu lakuin."
Genta menelan ludah, menunduk sedikit. Udara di antara mereka tebal, hampir tak nyata, seakan setiap detik bisa hilang begitu saja.
Tangannya kembali menyentuh pipi Genta, pelan.
"Aku serius... kalau itu dari kamu, aku siap."
Tangan Jiaya bergerak perlahan ke belakang Genta, memberi izin yang tak perlu diucapkan. Ada jeda singkat, berat, seakan dunia menahan napas.
Genta menempelkan dahinya ke dahi Jiaya, bisikan nyaris tak terdengar:
"Kalau aku lanjut... aku gak akan setengah-setengah."
Jiaya membalas tanpa berkedip.
"Aku tahu."
Mereka tidak lagi membutuhkan kata-kata. Yang menjawab adalah gerakan yang semakin mantap, perlahan tapi pasti. Malam itu terasa panjang, intens, tapi juga terlalu mulus, terlalu ideal. Bahkan canggung yang biasanya ada, seolah hilang begitu saja.
Genta terbangun dengan napas belum stabil, kepala terasa ringan. Bathrobe terasa dingin, rambut masih basah dari shower. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel, mengetik pesan:
"Vik, bisa tolong kirimkan pakaian lengkap saya ke sini, ya?"
Notifikasi balasan masuk:
Vika: "Baik, Pak. Saya urus sekarang."
Bel hotel berbunyi. Genta membuka pintu, resepsionis menyerahkan tas pakaian rapi. Teleponnya bergetar:
Genta: "Udah sampe, makasih, Vik. Saya kira kamu yang bakal anterin."
Vika: "Sama-sama, Pak. Saya langsung pulang ke hotel."
Genta: "Oh begitu... ya sudah. Besok kamu jemput saya di sini ya. Kita harus pulang ke Jakarta."
Vika: "Baik, Pak."
Di balik layar, Vika menatap ponsel, sadar akan batasnya sendiri, dan hanya bisa berbisik:
"Sadar, Vik... kamu cuma bagian latar cerita orang lain, bukan pemerannya."
Keesokan paginya, suara shower membuat Genta membuka mata. Ia menatap pintu kamar mandi, tidak mengetuk, hanya berdiri sejenak dan menempelkan punggung di pintu, menimbang harus bicara atau memberi ruang.
"Ay..." panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Genta menunduk, duduk di tepi ranjang, memegangi tengkuknya. Ia sadar ini bukan pagi biasa, dan mungkin ada banyak hal yang Jiaya rasakan tapi tak mudah dibicarakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
