"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak."
"Aku capek."
Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
Sore itu, setelah kerja, Genta kembali terhanyut pada dorongan yang bahkan tak mau ia akui. Ia menyetir tanpa sadar sampai akhirnya mobilnya berhenti di depan rumah bercahaya hangat itu.
Rumah Jiaya.
Ia menarik napas dalam. Hanya memastikan dia baik-baik saja. Itu saja. Ia yakinkan dirinya. Genta memencet bel.
DING DONG.
Pintu terbuka—dan wajah pertama yang muncul membuat langkah Genta otomatis berhenti. Bukan Jiaya.
Tapi Juan.
Pria bermata biru kehijauan itu terbelalak kaget. Sangat kaget, sampai napasnya terdengar tersedak kecil sebelum ia berusaha menormalkan ekspresi. "Loh—Pak Genta? Ngapain kesini? Ada apa?"
Logat luar negerinya terdengar jelas, ringan, tapi suaranya menegang halus.
Genta tidak langsung menjawab. Ia menatap Juan, bingung dan... terguncang. "Juan?" gumamnya. "Kamu... di Indonesia?"
Juan tersenyum tipis, ramah, tapi ada sesuatu di balik itu. Sesuatu yang hanya pembaca bisa lihat—kerutan kecil di antara alis, petunjuk bahwa ia tahu kenapa Genta muncul di rumah ini... tapi memilih pura-pura tidak tahu.
"Yeah, I'm here," jawab Juan santai. "Baru datang tadi dua jam yang lalu. Surprise visit." Nada surprise visit itu terdengar... tidak sepenuhnya jujur.
Sebelum Genta sempat membalas, suara langkah lembut terdengar dari dalam.
Jiaya muncul.
Dan di pelukannya—seorang anak laki-laki kecil.
Rambut coklat lembut. Mata bulat besar. Pipi gembul yang memerah karena baru bangun tidur. Dan pemandangan itu menghantam Genta seperti pukulan telak. Jiaya memegang anak itu seperti sesuatu yang sangat berharga. Jordy melingkarkan tangannya di leher Jiaya, seolah ia tidak mau dilepaskan.
"Astaga... Genta?" suara Jiaya pecah sedikit. Terkejut. Canggung. Bingung.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Genta menatapnya tanpa mampu bersuara. Untuk sesaat, udara serasa hilang dari ruangan itu Jiaya mencoba menjelaskan, sementara Jordy menempel erat di bahunya.
"J-Juan baru datang." Ia tersenyum kikuk, sedikit kaget elihat Genta berdiri di depan rumahnya malam itu. Jordy mengubur wajah di pundaknya, manja dan nyaman—seperti sudah bertemu Jiaya berkali-kali.
Tapi Genta tidak tahu itu.
Yang ia lihat hanyalah...
Sebuah keluarga kecil, yang tidak ada dirinya di dalamnya.
"Pak Genta?" Juan memotong, "Serius, ada perlu apa kesini?"
Genta mengusahakan senyum—yang tidak berhasil. "Saya cuma..." napasnya memburu. "...mau pastikan Ibu Jiaya baik-baik saja. Kemarin malam beliau mabuk di pesta pernikahan sahabat kami."