Roti

1.1K 129 8
                                        

Mobil berhenti perlahan di area parkir yang berbatasan langsung dengan hamparan pasir. Mesin dimatikan, dan untuk beberapa detik, yang terdengar hanya suara angin yang menyusup lewat celah kaca serta debur ombak yang samar tapi terus-menerus, seperti napas panjang yang tak pernah berhenti.

Pintu mobil pertama terbuka duluan, disusul mobil kedua. Begitu kaki mereka menyentuh tanah, udara laut langsung menyambut—hangat, asin, dan membawa aroma khas yang sulit dijelaskan, campuran garam, pasir, dan sesuatu yang terasa sangat... bebas.

Langit siang itu cerah, biru terang tanpa awan tebal. Matahari menggantung tinggi, cahayanya memantul di permukaan laut sampai terlihat seperti ribuan serpihan kaca kecil yang berkilau. Garis horizon tampak jelas, seolah laut dan langit berjanji untuk bertemu di sana.

Beberapa detik, tak ada yang bicara.

Semua hanya melihat.

"Gila..." Reza akhirnya bersuara pelan, hampir seperti tidak sadar dia bicara keras.
"Bagus banget."

Risa langsung menarik napas dalam-dalam, membentangkan tangan sedikit.
"Ini sih bukan bagus lagi... ini obat stres."

Karina tersenyum kecil, berjalan lebih dulu ke arah pasir.
"Makanya orang Bali jarang marah lama. Liat beginian tiap hari."

Rara berdiri di samping Jiaya, matanya lebar, benar-benar memandang laut seperti anak kecil yang pertama kali melihat sesuatu yang luar biasa.
"Kak... lautnya biru banget..."

Jiaya menoleh dan tersenyum lembut.
"Iya. Aslinya emang selalu lebih bagus dari foto."

Mereka mulai berjalan ke arah pantai. Pasir terasa hangat di telapak kaki, butirannya halus dan bersih. Angin sesekali bertiup lebih kencang, membuat rambut beterbangan dan suara tawa terdengar lebih ringan.

Haje sudah lebih dulu melepas sandal, lalu berlari kecil ke arah air.
"Yang terakhir nyentuh air traktir kelapa!"

"Woi curang!" teriak Ijo sambil mengejar.

Reza menyusul sambil ketawa, Jevan hanya menggeleng tapi tetap ikut jalan lebih cepat. Suasana langsung hidup—teriakan, tawa, suara ombak, semua bercampur jadi satu, menciptakan momen yang terasa seperti potongan film yang tidak ingin berhenti.

Karina dan Risa menggelar tikar di area yang agak teduh, menaruh tas-tas, speaker kecil, dan botol minum. Musik pelan mulai mengalun, lagu santai yang cocok dengan angin dan cahaya siang itu.

Jiaya berdiri sebentar menghadap laut, merasakan angin menyentuh wajahnya. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan. Minggu-minggu terakhir penuh emosi, sakit, dan kekacauan—tapi sekarang, untuk pertama kalinya setelah lama, semuanya terasa... pelan.

Tenang.

Dia mulai membuka outer panjang yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Kain tipis itu dilepas perlahan, dilipat, lalu ditaruh di atas tas.

Risa juga melepas outer-nya, Karina sudah lebih dulu sejak turun mobil. Rara masih sedikit ragu, tapi Jiaya menyenggol lengannya pelan.
"Gapapa, santai aja. Kita di sini semua."

Rara akhirnya tersenyum kecil.

Di dekat mobil, Genta sedang membantu menurunkan cooler box bersama Ijo. Dia mengangkatnya, lalu tanpa sengaja menoleh ke arah Jiaya—

Dan berhenti.

Dari tadi Jiaya ternyata sudah memakai bikini, hanya tertutup outer panjang. Sekarang, di bawah matahari siang yang terang, kulitnya terkena cahaya langsung. Rambutnya tertiup angin, sedikit berantakan, tapi justru terlihat hidup. Wajahnya santai, senyumnya kecil, matanya menyipit karena cahaya.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang