Extra Part 1

81 0 0
                                        

Pagi itu bukan sekadar terang; matahari seolah turun terlalu rendah, memaksakan cahayanya masuk ke setiap celah, seolah ingin menelanjangi segala rahasia yang terkubur di bawah hari yang suci itu. Butir-butir embun yang bergelantungan di ujung daun bukan lagi sekadar sisa malam, melainkan kristal-kristal tajam yang memantulkan cahaya perak, menari-nari dengan liar di halaman—seolah merayakan sesuatu yang megah sekaligus mengerikan.

Udara yang hangat terasa begitu statis, mencekik dalam ketenangannya. Tidak ada keriuhan manusia. Dunia seakan menahan napas, menyisakan kicau burung yang melengking ganjil; suara yang tak lagi terdengar seperti nyanyian, melainkan rentetan doa putus asa yang dikirimkan langsung dari langit yang terlalu biru. Di tengah kesucian itu, ada getaran yang tak kasat mata—sebuah tanda bahwa kedamaian ini hanyalah selaput tipis yang siap robek kapan saja.

 Di tengah kesucian itu, ada getaran yang tak kasat mata—sebuah tanda bahwa kedamaian ini hanyalah selaput tipis yang siap robek kapan saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Genta berdiri mematung, membiarkan oksigen masuk ke paru-parunya dengan ritme yang dipaksakan hingga stabil. Di hadapannya, kemegahan acara pertunangan itu terpampang nyata, namun di kepalanya, jam seolah berhenti tepat tiga bulan lalu. Tiga bulan sejak "kejadian itu" merobek poros hidupnya, meninggalkan lubang yang kini coba ia tambal dengan senyum formal dan setelan jas yang terasa terlalu sesak.

Dunia memang tidak pernah ramah pada mereka yang patah; ia terus berputar tanpa permisi.

"Vika adalah pilihan terbaik, Mama yakin," bisik Gina. Suara mamanya lembut, namun jemarinya yang menggenggam tangan Genta terasa seperti rantai emas yang mengikatnya pada kenyataan baru. Kata-kata itu adalah payung di tengah badai, tapi Genta bertanya-tanya, apakah ia sedang dilindungi atau sedang dikurung agar tidak lari kembali ke kegelapan?

Lalu, tepukan di bahunya menyusul—berat dan penuh tuntutan logis. "Lupakan cinta pertama itu, Genta. Jalani hidupmu," titah Papanya. Sebuah kalimat yang terdengar seperti vonis mati bagi masa lalu, sekaligus perintah untuk mengubur dalam-dalam apa pun yang pernah membuat jantungnya berdetak liar. Bahkan Ijo, yang biasanya jenaka, kini menjelma menjadi cermin yang kejam. "Beri Vika kepastian, Ta. Dia punya perasaan."

Suara-suara itu bergaung, menyatu menjadi dinding yang menggiring langkahnya menuju satu titik: Vika.

Saat pintu terbuka dan Vika muncul, seolah-olah seluruh cahaya matahari pagi itu berpusat padanya. Gadis itu berdiri di sana dengan senyum yang bergetar karena gugup—sebuah ketulusan yang telanjang dan tanpa tuntutan. Tatapannya tidak meminta Genta untuk menjadi pahlawan, ia hanya menawarkan diri untuk menjadi tempat bernaung.

Genta menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa perih di dadanya bergesekan dengan harapan baru yang dipaksakan tumbuh. Lembaran lama mungkin tidak akan pernah benar-benar putih kembali; ada bekas coretan yang terlalu dalam untuk dihapus. Namun, di bawah langit yang bersih dan saksi mata yang menanti, Genta memantapkan kakinya. Jika ia tidak bisa berlari menuju kebahagiaan yang ia inginkan, maka ia akan belajar berjalan menuju kebahagiaan yang ada di depannya.

Bersama Vika, ia memilih untuk mulai menulis, meski jemarinya masih sedikit gemetar.


....

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang