Langit di atas rumah Vika mulai berubah warna menjadi jingga yang memar, menandakan senja yang sebentar lagi habis. Vika masih bergeming di kursi rotan terasnya. Ujung kakinya yang bergoyang-goyang adalah satu-satunya tanda bahwa ia sedang dilanda kecemasan yang tertahan.
Setiap kali ada bunyi notifikasi dari ponsel tetangga atau suara motor yang lewat, jantungnya melonjak kecil, hanya untuk jatuh kembali saat menyadari layarnya tetap gelap.
17.45.
Angka itu seperti vonis. Biasanya, jam ini adalah "jendela" kecil di mana dua dunia mereka bersinggungan. Saat Genta membuka mata di Paris yang masih dingin, dan Vika bersiap menutup harinya di Indonesia yang mulai temaram. Sebuah pesan "Pagi, Vik" biasanya cukup untuk menjadi bensin bagi Vika agar bisa tidur dengan tenang.
Tapi hari ini, barisan chat itu berhenti di laporan cuaca tadi malam.
Vika menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang hitam. Ada gurat kelelahan dan keraguan yang mulai merayap. Apakah dia sedang sibuk? Atau dia terlalu lelah dengan tuntutan pesanku? Pikiran-pikiran liar mulai membangun sarangnya di kepala Vika. Di tengah kesunyian teras itu, rasa insecure yang selama ini ia tekan kembali muncul, membisikkan kemungkinan-kemungkinan yang menyakitkan.
Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Jemarinya yang sedikit dingin mulai menyentuh papan ketik virtual. Ia sempat menghapus kalimatnya berkali-kali. Ia tidak ingin terlihat menuntut, tapi ia lebih tidak tahan dengan ketidakpastian ini.
Akhirnya, dengan sisa keberanian yang ada, ia mengetik:
Vika — 17.46:
Mas udah bangun?
5 menit... 10 menit... 20 menit...
Tidak ada tanda terbaca. Vika menggigit kuku. Hatinya mulai dipenuhi pikiran aneh—benar-benar hal kecil saja bisa memicu insecurity-nya. "Masih tidur kali... atau mungkin hp-nya lowbat... atau... atau..." Dia langsung menepis pikiran terakhir yang muncul.
Di sisi lain dunia, saat itu Genta masih terjebak meeting presentasi bersama tim Eropa—meeting yang jauh lebih panjang dari perkiraan. Genta memijat pelipisnya. Satu ruangan penuh orang berbicara cepat dengan aksen berbeda-beda membuat kepalanya terasa penuh.
Setelah meeting selesai, ia baru sadar, ia baru lihat 5 chat tak terbaca dari Vika.
Vika — 17.46:
Mas udah bangun?
Vika — 18.10:
Mas? Kenapa belum bangun juga?
Vika — 18.37:
Mas sibuk ya? Gapapa kok, aku cuma tanya.
Vika — 18.40:
Mas, aku masakin sayur hari ini.
Vika — 18.41:
(foto makanan)
Vika — 19.02:
Mas??
Genta mengusap wajah—lelah, tapi juga merasa bersalah.
Ia cepat mengetik.
Genta:
Maaf, Vik. Saya baru kelar meeting. Panjang banget hari ini. Kamu udah makan?
Balasan muncul sangat cepat, seolah Vika menunggu sejak berjam-jam lalu.
Vika:
Aku kira mas kenapa-kenapa...
Genta:
Nggak, Vik. Cuma kerjaan.
Ada jeda. Lalu kalimat yang membuat Genta menghela napas berat lagi:
Vika:
Mas masih mau kabarin aku tiap hari kan?
Genta menatap chat itu lama.
Bukan karena tidak mau. Tapi karena ia sadar... semakin lama ia di sini, semakin banyak waktu yang ia habiskan untuk bekerja sampai lupa dunia luar. Beberapa hari berikutnya, kejadian serupa berulang. Genta telat balas, dan Vika makin intens mengirim kabar atau pertanyaan.
Di sebuah kamar hotel di jantung Paris, Genta merebahkan tubuhnya yang seolah remuk. Lampu meja yang temaram mempertegas garis kelelahan di wajahnya. Ponselnya bergetar—sebuah pesan dari Vika masuk, membawa keceriaan domestik tentang bumbu dapur dan rencana esok hari. Namun, bagi otak Genta yang sudah tumpul oleh angka dan negosiasi, pesan itu terasa jauh.
Ia mengetik satu kata, tanpa emoji, tanpa basa-basi: "Oke."
Di belahan bumi lain, Vika duduk di tepi tempat tidurnya, menatap satu kata itu seolah-olah itu adalah dinding beton. Satu kata yang meruntuhkan semangatnya yang tadinya meluap. Di kepalanya, skenario buruk mulai menari—Apakah dia bosan? Apakah aku terlalu berisik?
Ketegangan itu memuncak lewat barisan teks yang penuh keraguan, hingga akhirnya Vika melepaskan ketakutan terbesarnya: "Aku takut Mas jadi kebiasaan tanpa aku."
Kalimat itu seperti sengatan listrik yang memaksa mata Genta terbuka lebar. Ia menyadari bahwa di Paris yang beku, ia hampir kehilangan jangkar emosionalnya. Tanpa berpikir dua kali, ia menekan ikon kamera. Persetan dengan matanya yang perih; ia harus melihat wajah itu.
Layar ponsel menyala, menampilkan Vika dalam balutan daster rumahan dengan rambut yang diikat asal. Mata gadis itu nampak bengkak, sisa dari perdebatan batin yang melelahkan.
"Lho, kok kamu sedih? Lihat sini," ucap Genta. Suaranya serak, namun ada kelembutan yang ia paksakan muncul dari balik sisa energinya.
Vika menggembungkan pipinya, sebuah mekanisme pertahanan untuk menyembunyikan getar di bibirnya. "Mas jangan cuma 'oke' kalau aku cerita. Aku tuh ngomong sama calon suami, bukan ke chat bot," protesnya. Ada nada terluka yang dibalut gurauan pahit dalam suaranya.
Genta tertawa kecil—tawa yang lebih mirip desahan lega. Ia menatap wajah di layar itu, menyadari betapa kontrasnya kehidupan mereka saat ini. "Iya, iya... maaf. Saya janji bakal lebih perhatian. Otak saya tadi cuma lagi macet, Vik."
Melihat Genta yang tersenyum meski dengan mata yang merah karena kurang tidur, gunung es di hati Vika perlahan mencair. Ia mengangguk pelan, menyisakan senyum tulus yang selama ini menjadi alasan Genta untuk tetap bertahan di negeri orang.
"Ya sudah. Aku cuma mau Mas ingat kalau aku masih di sini. Menunggu Mas pulang," bisik Vika.
Kehangatan yang tadi sempat hilang kini kembali memenuhi rongga dada Genta. Jarak ribuan kilometer seolah terlipat menjadi hanya sejarak layar ponsel. Di tengah dinginnya malam Paris, Genta akhirnya menemukan alasan untuk kembali bermimpi tentang rumah.
"Aku ingat, Vik. Selalu ingat. Terima kasih."
....
"Dengan ditutupnya lembaran ini, Genta dan Vika akhirnya menemukan bahwa cinta bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke pelaminan, melainkan tentang seberapa siap kita saling menggenggam dalam jarak dan ketidakpastian. Terima kasih sudah menemani perjalanan mereka dari dinginnya Paris hingga hangatnya sudut dapur di Jakarta. Sampai jumpa di kisah-kisah selanjutnya, di mana cinta selalu punya cara untuk pulang."
-Author
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
ChickLit"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
