Hot Tea

42 0 0
                                        

Pagi harinya, Genta terbangun tanpa alarm. Setelah meminum vitamin, ia mengenakan kaus polo dan celana jeans, tampilan yang sangat santai, jauh dari jas dan dasi yang biasa ia kenakan. Ia meninggalkan catatan singkat di meja bahwa ia akan keluar dan akan kembali sore, lalu meninggalkan kamar suite 707.

Vika, yang mendengar pintu tertutup, hanya menghela napas. Ia menatap pesan dari Genta, lalu ke laptopnya, memutuskan untuk mengurus tiket penerbangan terlebih dahulu sebelum benar-benar mengambil 'cuti' yang diberikan Genta.

Genta berjalan santai di pusat perbelanjaan kelas atas kota tersebut, menikmati kebebasan dari pengawasan Adrian dan Vika. Ia berhasil mendapatkan beberapa tas jinjing dan set kopi premium untuk para manajer dan staf kantornya.

Saat berjalan melewati butik aksesori, pandangannya tertuju pada sebuah pajangan. Itu adalah butik khusus yang menjual berbagai jenis scarf sutra dari desainer lokal. Genta berhenti. Ia sebenarnya tidak perlu membelikan Vika sesuatu yang khusus—hadiah untuk Vika seharusnya sama dengan yang lain: set kopi atau cokelat mahal. Namun, entah kenapa, kakinya tidak bisa bergerak.

Pikirannya langsung melayang ke Vika. Bukan Vika yang panik menyeka keringatnya di kamar hotel, melainkan Vika yang profesional dan selalu rapi di kantor.

Sejak lama, Genta menyadari satu detail kecil yang konsisten dari penampilan Vika: scarf. Vika hampir selalu memiliki scarf di sekitarnya. Terkadang itu melingkari lehernya dengan simpul yang elegan saat meeting dengan klien penting. Di waktu lain, scarf itu diikatkan dengan apik di gagang tas kerjanya. Bahkan, ia ingat pernah melihat Vika menggunakannya sebagai penutup rambut saat harus pergi ke gudang yang berdebu.

Vika tidak hanya memakainya; Vika membuatnya terlihat sebagai bagian penting dari gayanya. Ia selalu memperhatikan, meskipun tidak pernah mengakuinya.

Genta memindai deretan scarf di etalase. Matanya terhenti pada satu motif: sutra lembut dengan warna dasar ungu perak, dihiasi sulaman halus berbentuk bunga krisan berwarna ungu pucat. Motifnya tidak terlalu mencolok, elegan, dan terlihat sangat berkelas.

Dia menghela napas. Kenapa ia repot-repot memikirkan ini?

Ini bukan untuk Vika. Ini untuk apresiasi karena dia sudah menyelamatkan pekerjaan dan nyawaku, batin Genta mencoba membenarkan.

Dengan langkah yang terasa aneh—sedikit gugup, sedikit malu—Genta memasuki butik itu.

"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pramuniaga dengan ramah.

"Saya mau lihat yang itu," kata Genta, menunjuk scarf perak-ungu.

Saat pramuniaga itu dengan hati-hati melepaskan scarf dari gantungan dan membentangkannya di meja, tekstur sutra halus itu tampak berkilau.

"Ini adalah motif Chrysanthemum Series kami, Tuan. Sangat cocok untuk suasana formal dan kasual. Bahannya sutra murni, dijahit tangan," jelas pramuniaga itu.

Genta hanya mengangguk. Ia sudah membayangkan scarf itu melingkari leher Vika, atau diikat di tas kerjanya. Ia tahu, dari semua oleh-oleh yang ia beli hari ini, hanya barang ini yang dipilih dengan pertimbangan pribadi.

"Saya ambil," kata Genta tanpa banyak bicara, dan meminta pramuniaga membungkusnya dalam kotak hadiah kecil yang elegan.

Genta keluar dari butik dengan kotak kecil di tangannya, barang yang paling ia pilih dengan hati-hati disembunyikan di antara kantong belanjaan besar berisi kopi dan pernak-pernik kantor. Ia merasa lega telah menyelesaikan tugasnya sendiri, meskipun hatinya masih sedikit berdebar setiap kali memikirkan scarf sutra berwarna perak-ungu yang baru ia beli.

TOXICLOVE (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang