Rumah keluarga Vika belum pernah terasa sepi ini. Tidak ada lagi tumpukan katalog vendor di atas meja, tidak ada lagi perdebatan kecil tentang warna seragam keluarga. Semua kotak seserahan yang tadinya memenuhi sudut ruang tamu kini telah hilang. Kosong. Hanya menyisakan jejak debu tipis di lantai marmer.
Vika berdiri di depan cermin kamar, menatap wajahnya yang nampak pucat. Tangannya gemetar saat ia perlahan melepas cincin emas putih itu dari jari manisnya. Lingkaran logam yang dulu dipilih dengan penuh tawa di toko perhiasan itu kini terasa begitu berat—terlalu berat untuk terus melingkar di sana.
Ia memasukkan cincin itu ke dalam kotak beludru kecil, menutupnya dengan bunyi klik yang terdengar seperti vonis terakhir.
"Sudah siap?" suara ibunya terdengar dari balik pintu, pelan dan penuh simpati.
Vika menarik napas panjang, mencoba menelan sesak di tenggorokannya. "Sudah, Bu. Mas Genta sudah di depan?"
"Sudah. Dia menunggumu."
Vika melangkah keluar rumah dengan tas kecil di tangannya. Di luar, Genta berdiri di samping mobilnya. Wajahnya nampak kaku, matanya merah—mungkin kurang tidur, atau mungkin karena terlalu banyak hal yang ia pikirkan belakangan ini. Tidak ada senyum sambutan. Tidak ada pelukan hangat.
Genta menerima kotak beludru yang disodorkan Vika. Ia menatap kotak itu cukup lama sebelum memasukkannya ke dalam saku jas tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Terima kasih sudah mau datang, Mas. Maaf kalau semuanya jadi berantakan seperti ini," bisik Vika, suaranya pecah di ujung kalimat.
Genta hanya mengangguk pelan. "Ini yang terbaik untuk kita sekarang, Vik. Kita tidak bisa terus-terusan memaksakan sesuatu yang memang belum waktunya."
Genta membuka pintu mobil untuk Vika. Mereka berkendara dalam keheningan yang mencekik. Vika menatap keluar jendela, melihat jalanan kota yang dulu sering mereka lalui dengan tawa, kini terasa asing. Harapan tentang gaun putih dan janji di depan penghulu seolah menguap bersama angin yang masuk melalui celah kaca.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung besar. Genta mematikan mesin, namun ia tidak segera turun. Ia menggenggam kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siap menghadapi ini?" tanya Genta, suaranya rendah.
Vika mengangguk pasrah. "Siap atau tidak, kita harus menyelesaikannya hari ini."
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung, namun ada jarak yang lebar di antara mereka. Di dalam, sudah menunggu Pak Rendra dan Bu Ratna, serta orang tua Genta. Wajah mereka semua nampak serius, seolah sedang menghadiri sebuah prosesi yang menyedihkan.
Genta mengeluarkan kotak cincin itu lagi, membukanya di depan semua orang.
"Pak... Bu..." Genta memulai, suaranya bergetar. "Maaf karena kami harus membatalkan semua rencana yang sudah disusun sejak tahun lalu."
Vika menunduk, air matanya jatuh membasahi lantai. Pembaca mungkin akan merasa detak jantung mereka berhenti di sini.
Namun, Genta melanjutkan kalimatnya sambil mengeluarkan seuntai kalung berlian dari saku jasnya yang lain—sebuah kejutan yang ia simpan rapat-rapat.
"Kami membatalkan rencana pernikahan yang sederhana itu... karena setelah saya pulang dari Paris, saya sadar Vika pantas mendapatkan yang lebih baik. Kami ingin mengganti semuanya. Bukan sekadar penundaan, tapi sebuah awal baru yang lebih megah dari yang pernah kita bayangkan."
....
"Terima kasih sudah ikut meneteskan air mata bersama Vika di beberapa paragraf terakhir tadi. Kisah mereka resmi berakhir di sini— Terima kasih telah setia menemani perjalanan ini sampai ke garis terakhir yang sebenarnya. See you on the next journey!"
KAMU SEDANG MEMBACA
TOXICLOVE (REVISI)
Literatura Feminina"Kamu pukul aku, kamu jepit aku, kamu jambak aku. Apa itu yang kamu bilang sayang? Tubuh aku, mental aku..kamu rusak." "Aku capek." Hubungan yang biasa kita sebut toxic relationship berakar pada permasalahan di masa lalu. Trauma yang membuatnya mela...
