Sorak ramai kembali memenuhi lapangan utama SMA Harvash, kedua orang yang menjadi sumber sorakan itu sedang saling berdiri berhadapan, memberikan tatapan tajam masing-masing.
Seperti yang telah direncanakan kemarin, Arka kembali menantang Reza, mengganti permainan yang kurang fair kemarin.
"Anggep pertandingan kali ini buat nentuin siapa yang pantes deketin Alya, siapapun yang kalah harus ngejauh dari Alya," ucap Reza pelan yang hanya bisa di dengar keduanya.
Arka yang mendengar itu tanpa sengaja mengeraskan rahangnya,
"Ok."
Alya, Naissa, Alisya, Devan dan Zico menatap mereka dari kursi pemain, begitupun dengan teman-teman Reza. Pertandingan kali ini cukup membuat Alya menatap penuh kekhawatiran.
Priitttt
Tanda pertandingan sudah dimulai, tangan Arka yang masih terlihat lemah itu membuat Alya merasa sangat khawatir, laki-laki itu memaksa untuk melepas sendiri gipnya tadi pagi.
"Semoga ga kenapa-kenapa ya tuhan," batin Alya yang masih menatap cemas pada Arka yang tengah menggiring bola oren itu.
Prittt prittt
Bunyi peluit bertanda berakhirnya pertandingan itu membuat Alya menghembuskan nafasnya lega, ia terlalu mengkhawatirkan Arka tadi, tapi ternyata lelaki itu mampu memenangkan pertandingan ini.
"Nih minum dulu," ucap Alya menyodorkan air mineral dingin yang sudah dibuka penutupnya itu pada Arka yang baru saja menepi.
"Keren banget kak, main basket pake tangan lemes gitu bisa menang," ujar Naissa sambil menatap penuh kagum pada Arka.
Zico yang melihat itu entah mengapa menjadi hareudang sendiri, membuatnya meraup wajah Naissa agar tidak terlalu memandang Arka,
"Halah!"
"Eh, gue mau ke toilet bentar ya," ucap Alya yang tiba-tiba berdiri dari duduknya itu.
"Mau ditemenin gak?" tawar Arka yang sudah selesai menyeka keringatnya.
"Gausah deh, ke toilet doang ini," tolak Alya, ia pun segera beranjak dari sana menuju toilet.
"Ngantin aja yuk, ntar chat Alya aja suruh langsung ke kantin," ucap Devan yang direspon anggukan setuju dari Alisya, "Boleh kuy!"
•••••
"Al!"
Alya yang baru saja keluar dari toilet dan akan menyusul teman-temannya itu hanya memutar bola matanya malas melihat Reza di depannya.
Jujur saja, ia sangat muak dengan manusia dihadapannya ini, "Kenapa?"
"Mending lo jauhin Arka deh," ucap Reza tiba-tiba.
Alya yang mendengar itu hanya mengerutkan dahinya untuk merespon.
"Arka tuh cuma main-main sama lo Al!"
Lagi-lagi Reza menghadangnya membuat ia menghembuskan nafas panjangnya.
"Bodo," jawab Alya lalu meninggalkan Reza yang hanya mengumpat pelan, sendiri disana.
•••••
"Kok lama?" tanya Arka menyambut Alya yang baru saja datang.
"Ada masalah dikit," jawab Alya.
"Gue udah pesenin lo makan Al," ucap Alisya yang duduk didepannya, tepat disamping Devan.
Alya hanya mengangguk dan mulai melahap nasi goreng yang sudah dipesankan Alisya itu.
Selama mengunyah makanannya, Alya merasa selalu diperhatikan, dan benar saja, ketika ia menoleh, tatapan matanya bertubrukan dengan tatapan mata Arka yang tajam tapi meneduhkan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Ficção Adolescente[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
