Mendapat serangan tiba-tiba membuat Arka shock dan dengan tidak sengaja melepaskan genggamannya dari tangan Alya.
Ingin marah rasanya, namun melihat ke arah gadis yang memeluknya seketika emosinya terlupakan, terganti dengan raut wajah yang terlihat begitu senang.
Dengan segera Arka membalas pelukan gadis itu, mengelus punggung dan surainya lembut, membawa tubuh gadis itu bergoyang pelan ke kanan dan ke kiri.
Alya yang melihat itu seketika merasa sesak, rasanya lebih sakit daripada mengetahui bahwa Arka hanya menjebaknya dulu.
Mungkin karena semakin hari ia semakin jatuh dalam pesona Arka. Tangannya refleks terangkat memegang bagian dadanya menahan nyeri.
Di tengah drama live itu, tiba-tiba Bunda Arka datang dan menghampiri mereka, "Eh, ada Alya."
Arka yang tersadar seketika melepaskan pelukannya dan menengok ke arah Alya.
Baru ia ingin membuka suaranya, namun ia dibuat terdiam dengan sorot mata Alya yang tidak biasa.
Mata gadis itu berkaca-kaca, menyorot Arka dengan pandangan marah, benci, dan kecewa.
Sedari tadi Arka mengajaknya ribut sampai ia diseret-seret, dan sampai sini ia masih harus menyaksikan kekasihnya itu berpelukan dengan perempuan lain.
Setelah menyakiti fisiknya sekarang Arka menyakiti hatinya?
Tanpa disadari, langkah Bunda Yola semakin mendekat ke arah Alya, dan Alya tidak ingin terlihat lemah saat ini.
"Yaampun Alya, kamu kenap--"
Belum selesai bunda berbicara, Alya sudah berlari tepat setelah satu tetes air matanya jatuh, dan hal itu tak luput dari pandangan Arka, Yola, maupun gadis asing tadi.
Refleks Arka melangkahkan kakinya untuk segera mengejar Alya, namun lengannya tertahan oleh gadis tadi, "Dia siapa?"
"Tunggu sini dulu," ujar Arka pelan sambil berusaha melepas rangkulan gadis itu di lengannya.
Tetapi, gadis itu seperti mengerahkan seluruh tenaganya, "Bilang dulu itu siapa lo, Bang?"
•••••
Setelah berlari lumayan jauh dari rumah Arka, Alya menyempatkan diri untuk menengok ke arah belakang berharap mendapati Arka yang mengejar dirinya.
Namun nihil, laki-laki itu tidak menampakkan batang hidungnya sampai saat ini.
Ia tersenyum miris, disini ia berjalan lontang-lantung dengan keadaannya yang cukup kacau.
Sampai ia menghentikan langkahnya di sebuah halte yang tampak kosong, mungkin karena sedang hujan.
Ya, ketika Alya memutuskan untuk pergi dari rumah Arka tadi, seketika hujan lebat datang mengguyur tubuh gadis itu.
Dan sekarang kepalanya terasa sangat berat, ia menyandarkan tubuh dan kepalanya pada kursi tunggu yang tersedia di halte itu.
Tanpa disadari, seseorang tengah memperhatikan dirinya dengan lekat, namun, belum ada niat untuk menghampiri gadis itu.
Alya yang merasa kepalanya semakin memberat, perlahan pandangannya terasa kabur, hingga semuanya menjadi gelap
Tepat pada saat itu, seseorang ber- pakaian serba hitam datang menghampirinya, mengangkat tubuh gadis itu lalu dimasukkan ke dalam mobil Range Rover putih miliknya.
"Segampang ini ternyata."
•••••
Arka kini bertumpu pada lututnya dengan nafas yang terengah-engah sambil mengusap wajahnya kasar.
Setelah menjawab pertanyaan gadis tadi yang ternyata bernama Leony, dengan segera Arka melangkahkan kakinya berlari menyusul Alya.
Melihat sorot mata gadis itu membuatnya kalut, ia tidak berniat menyakiti gadisnya.
Membayangkan tetesan air mata Alya yang keluar, dan jangan lupakan luka-luka bekas tadi di sekolah yang masih belum diobati membuat Arka semakin stres.
Ia kalut, ia takut gadisnya kenapa-kenapa, takut jika Alya memilih untuk meninggalkannya.
Menatap halte kosong di seberangnya, Arka memilih berteduh sebentar dan mengeluarkan handphone dari jaket parasut yang dikenakannya.
Ia mendial nomor telpon Devan, berharap mendengar adanya Alya didekat Devan sana.
Selang beberapa detik, terdengar suara Devan di seberang sana, "Halo, Ar."
"Dev, Alya udah pulang?" tanya Arka tanpa basa-basi.
"Lah, bukannya tadi sama lo?" ujar Devan dengan nada bingung.
Hal itu membuat Arka kembali mengusap wajahnya kasar, berarti Alya belum kembali, kemana gadisnya itu?
"Tadi sama gue, tapi pas nyampe rumah, --"
Arka menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi mulai dari ia dan Alya sampai ke rumahnya, Leony yang tiba-tiba datang memeluknya, hingga Alya yang berlari begitu saja meninggalkan rumahnya.
Mendengar itu Devan menjadi khawatir, apalagi sekarang sedang hujan, "Terus gimana adek gue, anjing!?"
"Gue bakal cari dia sampai ketemu." final Arka.
"Harus! Kalo sampe adek gue kenapa-napa, gue gak akan biarin lo liat Alya lagi," ancam Devan.
Mendengar ancaman keras dari Devan lagi membuatnya benar-benar dilanda rasa cemas, ia tidak ingin berpisah dari Alya.
Faktanya, bukan hanya Alya yang sudah semakin jatuh dalam pesona Arka, namun, Arka pun juga sudah benar-benar tenggelam dalam perasaannya pada gadis itu.
"Siapa?" tanya Devan dari seberang sana.
"Apanya siapa?" tanya balik Arka yang tidak mengerti dengan pertanyaan Devan.
"Ck, Leony, siapa?"
Astaga, ternyata Devan menanyakan siapa gadis yang memeluknya itu.
Dengan tenang Arka menjawab, "Sepupu gue."
.
.
.
.
.
.
.
Sepupunya Arka toh ternyata.
Terus, Alya tadi dibawa siapa?
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Fiksi Remaja[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
