Mobil milik Devan memasuki kawasan sekolah yang masih tampak sepi, mereka bertiga kemudian turun dan beranjak menuju kelas Alya dan Alisya.
Sesampainya di kelas para gadis itu, Devan pamit untuk melanjutkan langkah ke arah kelasnya.
"Tumben sepi," ujar Alisya sambil melihat sekeliling.
Di kelas mereka saat ini hanya terisi Alya, Alisya, dan 3 orang siswi nerd yang berkumpul di pojok depan kelas dengan buku di tangan mereka.
Bukannya merespon, Alya malah melamun memikirkan video yang ia terima tadi.
"Al!" tegur Alisya, "Ngelamunin apa sih pagi-pagi? Ada masalah?"
Alya hanya menggelengkan pelan, gadis itu tengah bergelut dengan pikirannya sekarang.
Akhirnya Alya memutuskan untuk keluar dari kelas setelah sebelumnya mengirimkan pesan pada seseorang.
"Eh, mau kemana?" tanya Alisya sembari mencekal pelan tangan Alya yang ingin beranjak.
"Bentar."
Hanya itu yang diucapkan Alya sebelum pergi dengan terburu-buru. Terlihat diluar kelas Naissa berpapasan dengan Alya, mereka mengobrol sedikit dan akhirnya berpisah, Alya meneruskan langkahnya, dan Naissa masuk ke dalam kelas.
"Alya kenapa?" tanya Alisya penasaran.
"Deketan!"
Kemudian Naissa menceritakan apa yang sudah dibahasnya dengan Alya tadi, membuat Alisya mendelik seketika, "Gila, ya!?"
"Biasalah," balas Naissa santai sambil duduk di bangkunya dengan nyaman.
•••••
"Lo apain Alya kemarin?" tanya Arka dengan nada rendah pada Salsa yang sudah bersimpuh di hadapannya.
Pagi tadi ia memang sengaja menjemput Salsa ke rumahnya, lalu kemudian menyeret gadis itu kasar sampai ke rooftop sekolah.
Mengingat cerita Alya kemarin, Arka benar-benar tidak bisa menahan emosinya.
"Gue nggak ngapa-ngapain, Ar," bela Salsa dengan suara yang lemah.
Arka yang sudah geram langsung saja menjambak rambut ombre gadis itu, memaksanya untuk berdiri.
Terdengar ringisan pelan dari bibir dengan lipstick merah nyala itu, "Ssshh, ampun, sakit, Ar."
Sudah dikatakan bukan jika Arka itu kejam? Arka tidak pandang bulu pada siapapun yang mengusik hidupnya.
Dan Salsa? Gadis itu dengan berani menyentuh miliknya.
"Ini yang lo lakuin ke Alya, kan?" ujar Arka mengeratkan jambakannya.
Tidak ada kata iba sedikitpun pada diri Arka saat ini, "Jangan pernah sekalipun lo ganggu Alya lagi, ngerti?"
Salsa yang wajahnya sudah pucat hanya bisa mengangguk patuh.
Sialan.
Untuk saat ini memang ia kalah, tapi nanti? Salsa pastikan Arka dan Alya akan segera berpisah.
Kemudian Arka melepaskan jambakannya dengan kasar, terdengar derapan langkah dari tangga rooftop.
Salsa yang mengetahui siapa orang dibalik sana dengan gesitnya segera memeluk dan berusaha mencium bibir Arka.
Tepat pada saat targetnya membuka pintu yang terhubung ke rooftop itu.
•••••
Alya kini tengah melangkah santai dengan sedikit berlari melewati koridor yang sudah mulai terisi.
Tujuannya kali ini adalah rooftop sekolah, ia ingin memastikan kebenaran video dan pesan yang diterima saat ia ada dimobil Devan tadi.
Setelah sampai di tangga yang menghubung ke pintu rooftop, Alya menghembuskan nafasnya perlahan.
Dengan perlahan pula, setelah meyakinkan diri, ia melangkah menaiki undakan tangga itu satu per- satu.
Sekali lagi ia menghela nafasnya pelan, kemudian tangannya terangkat untuk membuka pintu usang itu.
Kriekkk
Tepat pada saat pintu terbuka, matanya membulat menatap Salsa yang melingkarkan tangannya di leher Arka, dan jangan lupakan bibir gadis itu yang menempel di dagu Arka.
"ARKA!"
Teriakan Alya tadi membuat Arka terlonjak kaget dan dengan segera menghempaskan tubuh Salsa dengan kasar.
Salsa kembali meringis menerima perlakuan kasar Arka, tapi tidak apa, targetnya sudah masuk perangkap.
Gadis ini sebenarnya sudah mengetahui apa yang Arka ingin lakukan padanya, membuatnya harus memutar otak mencari strategi baru.
Dengan tatapan dinginnya yang jarang diperlihatkan Alya pada siapapun, gadis itu melangkah ke arah dimana Arka dan Salsa berada.
Arka yang melihat hal itu pun menjadi panik seketika, "Al, kamu salah paham, aku nggak--"
"Diem!" sela Alya dengan suara pelan tapi menusuk.
Arka kembali panas dingin ditempatnya, jangan sampai gara-gara hal ini Alya meninggalkan dirinya, tidak akan ia biarkan.
Sesampainya di tengah-tengah Arka dan Salsa --dengan kondisi Salsa yang masih terduduk, Alya melemparkan tatapan menghunusnya pada mereka berdua.
"Bagus ya, pacarnya siapa, yang ciuman siapa," sindir Alya dengan nada sinisnya, "Untung meleset tadi, coba aja di bibir, gue penggal lo."
Ucapan Alya tadi membuat Arka semakin kalut, padahal ia tidak tau kalimat itu ditujukan untuk siapa sebenarnya.
"Bangun!" titah Alya pada Salsa yang sedari tadi hanya menyimak.
Menjadikan tangan kanannya sebagai tumpuan, Salsa mulai berdiri sembari menepuk-nepuk pelan rok bagian belakangnya yang kotor.
"Kenapa kalo gue cium Arka? Lo inget kan kalo lo tuh cuma mainannya Arka, bitch."
Plakkk
Suara tamparan keras terdengar menggema disana, bukan berasal dari tangan Alya, namun dari telapak tangan Arka yang sedari tadi hanya bisa mengepal menahan amarah saat Salsa mulai bicara.
"Jaga mulut lo, bangsat!" bentak Arka membuat Salsa gemetar seketika.
Seumur-umur ia bersekolah di HARVASH, belum pernah ia melihat Arka semarah ini.
"Udah!"
.
.
.
.
.
.
.
Mbak mbak uler be like, wkwk.
Putus ga? Putus ga?
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Roman pour Adolescents[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
