Pulang sekolah kali ini Arka mengajak Alya untuk ke apartemennya, yang mengetahui adanya apartemen ini hanyalah orang tua dan teman-temannya.
Dulu Arka sering sekali menginap disini, tapi semenjak kelas 12 ini bundanya memerintahkan agar ia tinggal dirumah saja, alhasil apartemennya ini hanya ia kunjungi seminggu sekali.
Arka menekan password unitnya lalu masuk ke dalam sambil menggenggam tangan Alya.
"Tunggu sini, aku mau ganti baju dulu sekalian ambilin kamu minum," tutur Arka saat mereka sudah duduk di sofa yang tersedia disana.
Apartemen Arka ini bisa dibilang cukup luas, dengan dua kamar, ruang tamu, dan dapur yang terpisah
Alya menarik seragam yang dikenakan Arka, membuat laki-laki itu kembali ke posisi awalnya, "Kenapa, Al?"
"Aku juga mau ganti, gerah," ujar Alya dengan nada melas.
Peluh dikening gadis itu seolah membenarkan ucapannya, membuat Arka dengan inisiatifnya menghapus peluh Alya dengan tangan kosongnya tanpa jijik.
"Yaudah, ayo ke kamar aku!" ajak Arka sambil menawarkan tangannya untuk digenggam dan tentunya disambut genggaman hangat tangan halus Alya.
Tenang saja, mereka berdua tau batasan mereka, mereka memiliki prinsip yang sama untuk tidak menodai diri mereka sebelum menikah.
Kalo ciuman mah maklumin aja lah ya, wkwk.
Setelah 15 menit, Arka dan Alya kembali ke ruang tamu, mereka berencana untuk menonton film bersama.
Masalah ganti baju tadi, tenang saja, mereka terpisah. Alya mengganti bajunya di kamar mandi, sedangkan Arka diluar --masih di dalam kamar.
Arka mengambil remote dan mulai menyalakan benda berbentuk persegi itu, "Mau nonton film apa, Yang?"
"Emm, terserah deh," jawab Alya.
Jujur saja, gadis itu hanya ingin merebahkan diri, terserah film apa yang ingin ditonton, yang penting tubuhnya berada di posisi nyaman.
Kini keduanya duduk di sofa Arka yang sudah diubah menjadi kasur mini, Arka merentangkan tangannya agar bisa digunakan sebagai bantalan oleh Alya.
"Horror aja ya," ucap Arka sembari memilih salah satu tayangan yang terlihat menyeramkan.
Seperti yang kalian tahu, Alya tidak terlalu suka film horror, bukannya takut, hanya saja muka-muka menyeramkan yang keluar tiba-tiba cukup membuat jantungnya berdebar kencang
Mereka pun menonton dengan damai, tanpa teriakan karena Alya hanya menyembunyikan wajahnya di balik lengan Arka sepanjang film.
Mungkin hanya lonjakan terkejut dari tubuh Alya yang dengan sigap diberi elusan di kepala dan lengannya dari Arka.
Tanpa sadar keduanya kini sudah terpejam dengan posisi saling berpelukan, membiarkan televisi yang tadinya mereka tonton menjadi berbalik menonton mereka.
Mari kita tinggalkan pasangan ini sejenak, biarkan mereka beristirahat, karena pasti akan ada konflik lagi kedepannya, membuat keduanya harus menyiapkan fisik dan hatinya dengan baik
•••••
Drrtt drrttt
Getaran handphone Devan yang berada di tas Alisya membuat gadis itu meraba sling bag -nya.
Devan dan Alisya memang sedang hangout bersama, tapi tidak hanya berdua, ada Naissa juga Zico disini.
Mereka sedang berbincang santai di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah.
"Dev, ini ada telfon," ujar Alisya menyerahkan ponsel milik Devan.
Dahi Devan mengkerut bingung menatap username si penelfon, "Bunda?"
"Bunda Yola, Dev?" tanya Zico.
Zico dan Devan memang sudah sangat dekat dengan keluarga Arka, bahkan mereka turut memanggil kedua orang tua Arka dengan panggilan Ayah dan Bunda.
Alisya dan Naissa yang tidak mengetahui siapa Bunda Yola yang mereka maksud itu hanya diam, berusaha menyimak.
"Halo, Bun, ada apa?" sapa Devan terlebih dahulu.
"Halo, Arka lagi sama kamu nggak? Daritadi Bunda telfonin gak diangkat," tanya Bunda Yola di seberang sana.
Devan kembali bingung, Arka tidak bisa ditelfon? Lalu adiknya? Bukankah Alya tadi pulang bersama Arka?
"Nggak lagi sama Devan sih Bun, nanti coba Devan cek ke apart dulu, siapa tau Arka -nya disana."
"Oh iya, minta tolong ya Dev, nanti kabarin Bunda kalo Arka ada di apart -nya," pinta Bunda Yola.
"Iya Bun, nanti Devan kabarin."
"Yaudah, makasih ya Dev. Bunda tutup dulu mau arisan soalnya," kekeh Bunda Yola.
Bundanya Arka ini memang masih sangat aktif di dunia per- arisanan. Bahkan setahun sekali bunda bersama geng -nya akan berlibur ke luar negeri.
"Oke, Bun."
Kemudian telfon pun ditutup sepihak dari Bunda.
Zico yang sudah kepo karena Devan tadi membawa nama Arka akhirnya bertanya, "Kenapa, Dev?"
"Arka ditelfonin Bunda nggak diangkat," jawab Devan santai sambil mencoba menghubungi adiknya, "Ayo cek ke apart."
Alisya dan Naissa lagi-lagi hanya menurut, tapi dari pembicaraan Zico dan Devan tadi mereka bisa menyimpulkan bahwa si penelepon tadi adalah Bunda Arka.
20 menit perjalanan, akhirnya mereka ber- empat sampai di basement apartemen Arka.
Devan memimpin jalan mereka sambil menggenggam tangan Alisya, diikuti oleh Zico yang lengannya sudah dipeluk mesra Naissa semenjak mereka turun dari motor.
Sesampainya di lantai 7, mereka melangkah menuju unit Arka yang terletak di ujung.
Mereka langsung saja masuk setelah Devan memasukkan password -nya, Devan dan Zico memang diberi kebebasan oleh Arka jika ingin ke apartemen -nya kapanpun mereka mau.
"ASTAGA KALIAN BERDUA ABIS NGAPAIN!!?"
.
.
.
.
.
.
.
Ini part ter- boring sih.
Menuju konflik tapi masih bingung alurnya ya gini nih.
Jangan bosen-bosen ya, wkwk.
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Novela Juvenil[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
