Ke- enam pemuda pemudi itu masih asik berbincang ria di sofa ruang tamu apartemen Arka.
Posisi mereka yang berada disamping kekasih masing-masing membuat mereka semakin nyaman dan enggan untuk berpindah.
Drrttt drrrttt
Getaran handphone Alya mengalihkan atensi semua teman-temannya.
Matanya membola melihat username si penelpon, dengan raut wajah bahagia ia menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
Semua yang ada disana seketika bingung melihat Alya sebahagia itu, bahkan Arka tadi sempat memicing curiga pada handphone keluaran terbaru milik Alya itu.
Namun, sapaan yang dikeluarkan Alya selanjutnya membuat mereka mengangguk mengerti, "Halo Ma!"
Devan pun sama terkejutnya ketika Alya ternyata sedang berbicara dengan mamanya, membuat laki-laki itu mendekat ke arah Alya.
Kedua orang tuanya memang belum kembali saat ini, membuat Alya dan Devan sering murung karena tidak bisa menyusul ke rumah kakek nenek -nya.
"Halo, Al, kamu sama Devan lagi dimana?"
"Lagi main Ma," jawab Alya sambil melirik ke arah teman-temannya, "Kenapa?"
"Mama sama Papa udah dirumah," ucap Rita --Mama Alya dan Devan di seberang sana.
Alya dan Devan seketika membolakan matanya antara terkejut dan senang, "Serius Ma?"
"Serius Sayang."
"Yaudah, Alya sama Bang Dev pulang sekarang Ma," ujar Alya antusias, "See you Ma!"
"See you Sayang."
Dengan segera Alya mematikan panggilannya dan menyambar tas sekolahnya yang berada di belakang sofa, "Guys, gue balik duluan gapapa, kan?"
"Gapapa lah, Al, lagian gue juga mau balik ini," ujar Zico.
"Bang Devan anter Lisya dulu gih," titah Alya pada Devan.
Alisya tadi kesini bersama Devan, jadi tidak mungkin ia membiarkan abangnya menelantarkan Alisya.
"Eh gausah, kalian pasti pengen cepet pulang, kan? Ini kebetulan nyokap gue ada di cafe depan," cegah Alisya.
Ibu dari gadis itu memang tadi mengabari jika dirinya berada di cafe dekat apartemen milik Arka, tadinya ia menyuruh Alisya menyusul untuk menemaninya arisan, tapi Alisya menolak karena mereka masih seru-serunya mengobrol.
Devan yang mendengar hal itu dengan cepat menoleh ke arah Alisya, "Beneran, Yang?"
Alisya mengangguk menjawab pertanyaan Devan.
"Ayo, aku anterin ke Mama kamu," ajak Devan, "Aku nggak akan tenang kalo nggak liat kamu bener-bener aman, seenggaknya sampai ketemu Mama kamu."
Menerima ajakan Devan, kedua sejoli itu akhirnya meninggalkan unit Arka terlebih dahulu lalu disusul oleh Zico dan Naissa.
Kini hanya tersisa Arka dan Alya, "Ar, aku pulang dulu ya?"
"Aku anter."
"Eh, gausah, nanti kamu cape," ujar Alya sambil menahan tangan Arka yang ingin meraih kunci mobilnya.
"Aku nggak akan capek cuma karena nganter kamu Sayang," tutur Arka lembut sambil menggenggam tangan Alya seperti biasa, "Yaudah yuk!"
•••••
Sesampainya di depan pagar rumah Alya, terlihat sebuah mobil mengisi pekarangannya.
Alya yang sudah mengetahui bahwa itu mobil yang biasa digunakan mama papanya semakin antusias, "Itu mobil Mama sama Papa, Ar!"
Melihat tingkah menggemaskan Alya membuat Arka tak bisa menahan diri lagi untuk mengecup pipi gembil gadis itu.
"Yaudah, ayo turun!" ajak Arka setelah membukakan pintu untuk Alya.
Lagi-lagi ia membeku karena perlakuan dadakan Arka.
"MAMA! PAPA! ALYA PULANGG!" teriak Alya heboh yang membuat Arka menarik lengan gadis itu pelan agar mendekat ke arahnya, "Jangan teriak-teriak Sayang, nggak baik."
Jantung Alya seketika berpacu dua kali lebih cepat, sepertinya ia memang benar-benar harus check up ke dokter masalah ini.
Setelah itu mungkin ia memilih untuk mengunjungi orang pintar, ingin menanyakan kenapa masalah jantungnya ini hanya bermasalah ketika ia berada di dekat Arka.
"Eh, udah nyampe?" tanya Mama Rita basa-basi, "Bawa pacar nih?"
Arka yang merasa bahwa dirinya -lah yang disebut oleh Mama Alya dengan segera mengulurkan tangan, mencium tangan wanita itu lembut, "Arka, Tante."
"Panggil Mama aja," ujar Mama Rita sambil menepuk pundak Arka pelan.
"Iya, Ma."
"Pelukan nggak ngajak-ngajak," seru Papa Alya dari lantai atas, "Eh, bawa anak siapa nih?"
Sekali lagi, Arka mendekat dan mencium punggung tangan Papa Alya sama seperti tadi ia menyalami mama Rita, "Arka, Om, pacarnya Alya."
Alya seketika merona, mendengar Arka yang mengakui dirinya sebagai pacar di depan orang tuanya membuat hati gadis itu menghangat.
"Panggil Papa aja," ujar Dandi --Papa Alya, "Biar sama, sama Alya Devan."
"Iya Pa," ucap Arka sambil sedikit menunduk.
"Eh iya, Devan kemana ini?" tanya Mama Rita ketika sadar bahwa putranya belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Bang Devan masih nganter pacarnya Ma," tutur Alya.
Sedangkan mama papa -nya hanya menjawab dengan anggukan kemudian mereka berbincang-bincang ringan di ruang tamu.
"Pa, Ma, Arka izin pulang dulu, takut dicariin Bunda," pamit Arka sopan.
Tak terasa sudah satu jam Arka menghabiskan waktu bersama keluarga Alya, Devan pun sudah datang sejak tadi.
"Hati-hati, ya?" peringat mama Rita pada Arka yang sudah siap untuk pulang, "Al, anterin Arka -nya ke depan."
Alya mengantarkan Arka sampai dimana mobilnya terparkir, gadis itu berdiri sedikit agak jauh dengan kekasihnya, "Udah sana buruan pulang!"
"Ngusir?"
"IYA!" ujar Alya sambil melototkan matanya yang bumannya terlihat menyeramkan namun menggemaskan dimata Arka.
"Haha, yaudah aku pulang dulu, ya?"
Cuppp
"Love you, Sayang."
.
.
.
.
.
.
.
Masih dalam pantauan bund, sksk.
Jangan bosen-bosen ya bacanya!
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Novela Juvenil[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
