-ARKALYA 27-

480 8 0
                                        

Sepeda motor yang ditumpangi Arka dan juga Alya itu akhirnya berhenti, bertepatan dengan hujan yang semakin mereda.

Menolehkan kepalanya ke arah belakang, laki-laki itu terbelalak melihat Alya yang menggigil kedinginan, dengan sesegera mungkin ia membawa Alya turun dan masuk ke dalam rumahnya.

Ya, Arka membawa gadis itu kerumahnya.

"Astaga, Arkaa! Kamu apain anak orang itu?!"

Teriakan dari seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu membuat Arka menghentikan langkahnya, ia lupa bahwa Bunda dan Ayah -nya sedang berada dirumah saat ini.

"Nanti Arka ceritain, Bun. Bunda tolong bantuin Arka gantiin baju Alya, ya?" pinta Arka panik ketika melihat Alya sudah tak sadarkan diri.

"Iya, udah buruan bawa ke kamar tamu kalau gitu, Bunda ambilin baju ganti dulu buat temen kamu," perintah Bunda -nya yang segera dipatuhi oleh Arka.

Ia meletakkan tubuh gadis itu dengan sangat hati-hati, menatap lekat pada wajah Alya yang terlihat memucat, seketika ia merasa disergap perasaan bersalah.

Bagaimana bisa ia berlaku kasar pada gadisnya?

"Maaf, Al," cicit Arka dengan suara pelan.

Tanpa ia sadari, sang Bunda menyaksikan semua yang ia lakukan, tak terkecuali lontaran maaf laki-laki itu pada gadis yang terbaring lemah didepannya.

"Kamu ganti baju juga, sana! Abis itu nanti Bunda bikinin sup ayam biar anget," ujar Bunda yang membuat Arka tersentak dari lamunannya.

Arka akhirnya mengangguk pelan dan mulai melangkah meninggalkan kamar tamu tempat Bunda -nya akan menggantikan pakaian Alya.

"Arrgghhhh, fuck!" 

Lagi-lagi Arka menggeram frustasi dan mengumpati dirinya sendiri karena telah melakukan hal yang mungkin saja akan membuat Alya semakin membencinya.

•••••

"Ck," decak Devan khawatir setelah berkali-kali ia mencoba menelfon Alya namun tidak mendapat jawaban satu pun.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan adik cerewetnya itu belum kembali sampai sekarang.

Ia akhirnya memilih untuk mendudukkan diri di sofa yang ada di kamarnya, menggulirkan layar ponsel yang ada di genggaman -nya, mencoba mencari siapapun yang sekiranya mengetahui keberadaan Alya.

Hingga netranya menangkap sebuah kontak bertuliskan nama "Arka". Jarinya pun tergerak untuk menghubungi nomor itu, namun ia tidak yakin adiknya ada bersama laki-laki itu setelah kejadian di lapangan tadi.

Tapi akhirnya ia memutuskan untuk menekan icon call dan menghubungi Arka, tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?

"Halo?" sahut Arka di seberang sana tepat pada deringan ke-5.

"Alya ada sama lo?" tanya Devan tanpa basa-basi.

"Iya, dia ada sama gue dirumah, tadi keujanan jadi gue bawa kerumah, sekarang lagi digantiin baju sama Bunda," jawab Arka.

Akhirnya Devan bisa bernafas lega, untung saja adiknya baik-baik saja saat ini.

"Sorry, Dev," lanjut Arka.

"Hmm, jagain adek gue, gue pegang omongan lo waktu itu. Kalo sampe Alya nangis lagi karena lo, gue pastiin lo ga bakalan bisa ketemu dia lagi," ujar Devan yang diselingi nada peringatan pada Arka, "She's my sister. Break her heart, i'll break your face."

Setelah mengucapkan hal itu, Devan langsung mematikan sambungan teleponnya kemudian beranjak untuk membersihkan dirinya. Soal Alya, Arka pasti akan menjaga adiknya dengan baik.

•••••

Sudah lima belas menit berlalu, Arka masih saja duduk diam di pinggiran ranjangnya. Tadinya laki-laki itu berniat untuk mandi dan mengganti pakaiannya yang basah kuyup, namun panggilan telepon dari Devan tadi membuatnya mengurungkan niat.

Sampai sekarang ia masih enggan untuk beranjak menuju kamar mandinya, ia teringat ucapan terakhir Devan tadi. 

Bukan, bukan tentang laki-laki itu yang akan menghancurkan wajahnya jika ia menyakiti hati Alya, tapi ucapan Devan yang mengatakan bahwa ia tidak akan bisa bertemu Alya lagi jika membuat gadis itu menangis.

Ia jadi membayangkan bagaimana jika ia tidak bisa bertemu gadisnya lagi, entah jadi apa hidupnya jika itu benar-benar terjadi.

Tidak ingin pikirannya menjadi melayang kemana-mana, Arka memutuskan untuk mengambil handuk dan menuju kamar mandinya.

Di dalam sana, ia tidak langsung melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, laki-laki itu malah beranjak menuju kaca wastafel yang terdapat di dinding kamar mandinya.

Ia melihat bekas luka yang sudah mengering disudut bibirnya bekas bogeman mentah yang ia terima dari Devan dua hari yang lalu. Hal itu membuatnya kembali menerawang apa yang terjadi hari itu.

Flashback on

Hari itu, Arka sedang bergelut dengan pikirannya tentang balas dendam yang ia lakukan pada gadis yang telah berani mengganggu kegiatannya. 

Bohong bila laki-laki itu tidak terpikirkan tentang ucapan Zico yang mengingatkan bahwa gadis itu adalah adik dari sahabat mereka. Arka yang waktu itu sedang terpancing emosi memang tidak memperdulikan hal itu, siapa suruh gadis itu mengacaukan acaranya. 

Namun, lama-kelamaan laki-laki itu seolah tersadar dan berpikir keras, apa yang telah ia lakukan selama ini?

Akhirnya laki-laki itu beranjak keluar rumahnya, kemudian mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan diatas rata-rata.

Hingga 20 menit kemudian, sampailah ia di sebuah rumah yang akhir-akhir ini sering ia hampiri.

Rumah Devan dan Alya.

Laki-laki itu memilih untuk menelepon Devan dan menyuruhnya untuk keluar rumah.

"Ngapain lo malem-malem kesini? Nyari Alya?" tanya Devan setelah ia sampai di hadapan Arka.

"Gue nyari lo, buruan ambil motor lo, ikutin gue. Gue mau ngomong sesuatu sama lo, penting," ujar Arka dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Devan hanya mengernyitkan dahinya bingung namun ia tetap melakukan apa yang Arka katakan.

Akhirnya kedua lelaki tampan itu sampai di sebuah taman yang sepi, Arka mengajak Devan duduk di salah satu bangku taman yang tak jauh dari tempat motor mereka terparkir.

"Mau ngomong apaan lo?" tanya Devan to the point.

Laki-laki itu sudah teramat penasaran dengan apa yang Arka ingin bicarakan.

Arka menarik nafasnya perlahan dan memberanikan diri untuk mengutarakan apa yang ia ingin katakan pada sahabatnya ini, "Sorry, Dev. Gue mau ngakuin kalo gue deketin adek lo selama ini karena pengen bales dendam yang waktu---"

Bughhh

.
.
.
.
.
.
.

Ternyata babang Devan gak terlalu kaget karena udah tau, hwhw.
See you di next part-!!

To be continued,
-N

ARKALYA (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang