30 menit berlalu, Arka dan Alya, lebih tepatnya Arka, baru saja menyelesaikan permainan PS -nya sambil mengajari Alya cara untuk memainkan permainan adu strategi dan kecepatan tangan itu.
"Gimana? Udah bisa?" tanya Arka pada gadis yang masih berada di pangkuannya.
Alya menolehkan kepalanya ke arah belakang, menganggukkan kepalanya pertanda ia sudah bisa bermain sendiri.
Melihat itu Arka segera mengambil stik PS yang tidak terpakai dan memberikannya pada Alya.
Alya refleks bangun dari duduknya untuk mengambil stik itu, lagipula ia sudah duduk lama di pangkuan Arka, jantungnya semakin tidak sehat.
Namun pergerakannya itu segera dihentikan dengan tarikan pelan oleh Arka, "Mau kemana?"
"Ya pindahlah, kan mau main, lagian lo juga pegel ntar," jawab Alya.
"Disini aja," ujar Arka yang sudah menempatkan posisi Alya sama seperti sebelumnya.
Ia memegang stik PS -nya tepat di depan perut rata Alya, membuat posisi mereka terlihat sangat intim sekarang ini.
Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi jantung Alya saat ini, sudah ingin memberontak rasanya.
Akhirnya Alya pun pasrah dan mereka memainkan permainan yang sama, dengan Arka yang menjadi pemenangnya.
"AH CURANG!" teriak Alya sebal menatap Arka di belakangnya.
"Curang apanya?" tanya Arka yang harus menunduk untuk melihat wajah gadis itu.
"Gatau, ah!"
Alya kemudian menaruh stik PS itu, menarik diri dari pangkuan Arka dan mengambil handphone di tas -nya.
Entah kenapa ia merasa kesal saat ini, padahal permainan tadi berjalan seperti seharusnya, tidak ada kecurangan apapun seperti yang dikatakan Alya.
Ia akhirnya memilih untuk men -scroll akun Instagram -nya, mengabaikan Arka yang saat ini masih terpaku menatap gadis itu.
"Gausah ngambek, sini," ucap Arka sambil menarik pelan lengan Alya.
"Siapa yang ngambek sih!" Alya melirik sinis pada Arka, ia tidak bergerak sedikit pun, mengabaikan tarikan-tarikan pelan tangan Arka.
Arka yang melihat hal itu terkekeh pelan, tatapan sinis di wajah Alya bukannya mengerikan, tapi malah menambah kesan cute gadis itu.
"Mau nonton film nggak?" bujuk Arka.
"Film apa?" tanya Alya dengan nada ketusnya, ia masih memasang tatapan sinis jika menatap Arka sampai saat ini.
"Ada deh, sini makanya," jawab Arka yang sudah berada diatas kasur king size -nya, membuat mata Alya kembali membola, apa-apaan itu.
"Dosa bego, bukan muhrim!"
Arka yang mendengar jawaban Alya menyernyitkan pelan dahinya, beranjak dari kasur nyaman itu dan bergerak menuju sofa yang di duduki Alya.
Ttakk
"Awhh, ihh, ARKA!"
Sentilan pelan mendarat di bibir plum Alya, entah mengapa, Arka merasa terganggu mendengar Alya mengucap kata-kata kasar itu, yang sebenarnya ia sendiri pun jauh lebih sering menggunakan kata yang jauh lebih kasar.
Entahlah, ia tidak ingin gadisnya menjadi gadis yang kasar.
Gadisnya? Haha.
"Udah sini," ucap Arka menarik pelan tangan Alya yang masih mengusap-usap bibirnya itu.
Alya akhirnya menurut, duduk di depan Arka, diatas kasur milik lelaki itu, dan jangan lupakan tangan berat Arka yang melingkar apik di pinggang rampingnya.
Tiba-tiba lampu kamar Arka menjadi redup, namun sebelum Alya melayangkan protesnya, TV berukuran 48 inch di depannya itu menyala, menampilkan salah satu film horror, genre film yang paling ia benci.
Film pun akhirnya dimulai, di tengah-tengah, Arka memilih untuk menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, membuat Alya mau tidak mau turut tertarik ke belakang, bersandar dengan nyaman di dada bidang arka.
Alya mulai menikmati film -nya, namun,
"AAAAA ARKA SETANNYA JELEK BANGETT!!"
Alya berteriak karena mendapati jumpscare yang ada di film itu, mengambil salah satu bantal di sampingnya untuk menutupi pandangannya.
"Ngapain ditutup, udah gaada tuh," ujar Arka mengambil bantal yang masih di genggam erat Alya, merapikan sedikit rambut Alya yang menjadi acak-acakan karena bersembunyi di balik bantal tadi.
"Udahan yukkk," rengek Alya pelan dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, gadis itu merasa sangat ketakutan sekarang.
"Bentar lagi selesai," ucap Arka yang sudah menatap tampilan mengerikan itu kembali.
"Arka takutttt!"
Arka akhirnya kembali menunduk dan mendapati raut wajah Alya yang sudah siap menumpahkan air matanya.
Melihat hal itu, Arka hanya terkekeh pelan dan memutar pelan tubuh Alya, membuat tubuh mereka berhadapan dengan Alya yang menduduki paha Arka.
"Tidur aja, ntar dibangunin kalo udah selesai film -nya," ujar Arka.
Ia menarik pelan tubuh mungil gadis itu hingga terhempas ke dada bidangnya, mengambil selimut tebal di sampingnya dan mendekapnya erat, menutupi seluruh tubuh gadis itu.
Alya yang diperlakukan seperti itu hanya bisa berusaha menetralkan detak jantungnya yang sudah tidak bisa di deskripsikan dan berusaha untuk memejamkan matanya.
•••••
"Mau kemana lagi nih?" tanya Zico yang masih memegang sisa popcorn milik Naissa tadi.
Devan, Alisya, Zico, dan Naissa baru saja selesai menikmati tayangan lebar yang lumayan menakutkan itu. Jangan berharap ada adegan uwu-uwu disini, yang ada hanyalah Alisya dan Devan yang menatap layar datar, serta Zico yang sibuk menegur Naissa agar mengecilkan suara kunyahannya.
"Mau makann!"
"Pengen pulang."
Kedua suara yang keluar bersamaan itu membuat Devan dan Zico saling pandang, mereka bingung harus mengikuti permintaan yang mana.
"Yaudah kalian makan dulu aja, gue pulang duluan," ucap Alisya memecah keheningan.
"Gue anter!"
Devan segera menarik tangan Alisya menuju keluar mall, meninggalkan Naissa dan Zico yang menatap cengo mereka berdua.
"Gila, temen-temen gue lagi pada jatuh cinta nih," ujar Zico disertai gelengan dan decakan pelan.
"Emang lo nggak Zic?" tanya Naissa dengan satu butir popcorn yang sudah siap santap di tangan kanannya.
"Kayaknya sih iya, deg-deg an mulu kalo deket ama orangnya," jawab Zico sambil melirik ke arah Naissa, berharap gadis itu sadar bahwa yang dimaksud Zico adalah dirinya.
"Lah sama dong," ucap Naissa yang membuat bahu Zico menyeluruh seketika.
"Sama siapa?" tanya Zico dengan hembusan pasrah, sepertinya ia tidak akan mendekati gadis ini lagi, dia tidak setega itu menghancurkan hubungan orang.
"Lo."
.
.
.
.
.
.
.
Semoga suka sama ceritanya,
gabosen bosen buat say thank you buat yang udah baca cerita ini.
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Tienerfictie[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
