-ARKALYA 05-

823 16 0
                                        

Drrtttt drrttt

"Halo Bang, lo dimana?"

"Aduh, maaf ya Al, gue ada kerja kelompok di rumah temen, lo naik ojek online aja bisa, kan?"

"Ishh Bang Devan mah, tau gitu tadi gue bareng Alisya atau Naissa aja."

"Yaudah deh Abang minta maaf yah, ntar Abang beliin es krim yang banyak deh, yayaya?"

"Yaudahlah, dah." Alya menutup sambungan teleponnya dan beralih membuka aplikasi ojek online itu, tapi --

"Ck, gue gaada kuota!! Gimana nih?" Alya berdecak kesal dan menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari angkutan umum yang lewat, tiba-tiba ada satu motor sport hitam yang berhenti di depannya, "Arka! Ngapain lo disini?"

"Ya mau nganterin lo pulang lah! Devan bilang dia pulang duluan tadi, lo sih daritadi ngeyel banget disuruh bareng juga pulangnya!"

"Ya kan gue gatau kalo Bang Devan pulang duluan."

"Udahlah cepet naik!"

"Iya-iya bawel!" Alya segera menaiki motor Arka dengan menggerutu seperti biasa.

Setelah Alya berhasil naik, Arka dengan segera menjalankan mesin motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah Alya, yang juga rumah Devan sehingga ia sudah hafal betul jalan menuju kesana. Perjalanan mereka hanya diisi dengan keheningan, Arka yang fokus pada jalanan di depannya, dan Alya yang memejamkan matanya menikmati angin sore yang menerpa wajah dan rambutnya.

Deg

Arka yang melihat Alya tersenyum sambil memejamkan matanya itu ikut menarik sedikit sudut bibirnya sebelum akhirnya ia menetralkan kembali wajahnya menjadi datar, jangan lupa dengan debaran jantungnya yang juga sedang ia ajak untuk berkompromi sekarang.

Keheningan itu berjalan cukup lama hingga akhirnya Alya menyadari bahwa jalan yang sedang dilaluinya bukan jalan menuju rumahnya, "Arka, ini kan bukan jalan rumah gue!"

"Berisik." Jawaban singkat yang keluar dari mulut Arka itu berhasil membolakan kedua bola mata Alya. "Gue udah izin Devan," lanjut Arka.

"Yaudah, serah!"

•••••

"Turun!" Setelah 20 menit perjalanan, Arka memberhentikan motornya di daerah---

"PANTAI!!!!!"

Alya yang melihat hamparan pasir dan lautan di depan matanya itu segera turun dari motor dan berlari menuju tempat favoritnya.

Melihat itu Arka hanya geleng-geleng kepala sambil menarik sedikit sudut bibirnya, dan segera menyusul Alya menuju pantai. "Dasar bocah!" batinnya.

"Arkaaaa bagus banget pantainya, bersih bangettt," seru Alya semangat. Gadis itu memutar-mutar tubuhnya menikmati sejuknya angin sore dengan suara deburan ombak yang sangat menenangkan.

"Mau main kesana nggak?" tanya Arka menggerakkan kepalanya menunjuk pada pinggiran pantai yang terkena deburan ombak.

"Mau dong! Ayo!"

Alya menarik tangan Arka menuju pinggiran pantai dan sedikit bergidik ketika merasakan air pantai yang dingin mengenai kakinya. Arka yang ditarik begitu saja hanya pasrah dan mengikuti gadis di depannya ini.

"Segerrrr!!!!"

Setelah kurang lebih 30 menit mereka bermain di pantai itu, mereka memutuskan untuk pulang karena hari semakin sore.

Ditengah perjalanan pulang Arka merasakan tubuh Alya yang bergetar, Arka pun segera menepikan motornya didepan warung kopi yang sedang tutup saat itu.

"Dingin?" tanya Arka membalikkan badannya menghadap Alya.

"Hah?"

"Lo kedinginan ga?" tanya Arka memperjelas ucapannya.

"Nggak kok, gue gapapa, udah lanjut aja perjalanannya keburu makin sore nih!" seru Alya yang memeluk dirinya sendiri untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya akibat baju yang dikenakannya setengah basah akibat cipratan air pantai tadi.

"Nih pake, gausah nolak! Cepet!" Arka menyodorkan jaket yang ia pakai kepada Alya.

"Gak ah, lo aja yang pake, lo pasti kedinginan juga kan?"

"Gue cowok! Dingin segini doang mah udah biasa, udah cepet pake!"

"Dih, emang cowok gabisa kedinginan? Emang cowok bukan manusia yang bisa ngerasain dingin? Apa jangan-jangan lo bukan manusia ya? LO VAMPIR KAN, NGAKU AJA DEH!"

Arka hanya memutar bola matanya malas menanggapi ocehan tidak jelas gadis yang sedang duduk di jok belakangnya itu, "Pake atau gue turunin lo disini?"

Alya yang mendengar hal itu segera mengambil lalu memakai jaket Arka, sangat tidak lucu bukan jika ia benar-benar ditinggal disini, pasti keluarga tercintanya itu akan menangis meraung-raung karena anggota keluarga mereka yang paling disayang ini tidak pulang kerumah.

"Jangan ngelamun!"

Suara Arka tadi menyadarkan Alya dari pikiran anehnya dan mereka akhirnya melanjutkan perjalanan ke rumah Alya.

.
.
.
.
.
.
.

 Pipipipip
See you di next part-!!

To be continued,
-N

ARKALYA (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang