-ARKALYA 28-

507 7 0
                                        

"Eunghh,"

Lenguhan pelan terdengar dari seorang gadis cantik yang baru saja membuka kedua kelopak mata indahnya setelah 1 jam tidak sadarkan diri.

Gadis itu --Alya, mengerjapkan matanya perlahan guna menyesuaikan cahaya yang merangkak masuk ke retina matanya.

Ketika ia sudah sepenuhnya membuka mata, gadis itu melihat seorang wanita paruh baya sedang tersenyum kearahnya, dimanakah ia saat ini?

"Ada yang sakit badannya?" tanya wanita paruh baya tadi sembari membantu Alya yang berusaha mendudukkan dirinya. "Enggak Tante, emms-saya dimana ya?"

Belum sempat pertanyaan -nya dijawab, gadis itu dikejutkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Arka disana.

Ah, ia ingat, tadi ia dibawa pergi oleh laki-laki itu, tapi, wanita didepannya ini?

"Tante Bundanya Arka, kamu juga panggil Bunda aja, ya?" ujar wanita paruh baya tadi yang baru diketahui Alya sebagai ibunda dari Arka.

"Iya, Tante, eh, B-bunda," ucap Alya ragu.

Bunda Arka hanya tersenyum manis menanggapi jawaban gugup Alya, lalu kemudian memilih untuk berdiri dan beranjak, memberikan waktu untuk sang putra yang sepertinya sedang ada masalah dengan gadis cantik didepannya ini.

"Yaudah, Bunda tinggal dulu ya, mau siapin makan buat kamu. Kamu sama Arka dulu disini, kalau bandel jewer aja Arka gapapa," pamit Bunda pada Alya dengan kekehan di akhir kalimatnya. Sedangkan Alya hanya bisa menjawab dengan anggukan dan senyuman kikuknya.

Selepas kepergian Bunda Arka, keheningan melanda keduanya. Alya yang kembali menunduk entah memikirkan apa, juga Arka yang saat ini tengah mencari cara bagaimana agar Alya mau mendengarkan penjelasannya.

Perlahan sepasang kaki Arka bergerak mendekat ke arah Alya yang masih menunduk diatas ranjang.

"Al," panggil Arka pelan.

Alya yang merasa namanya dipanggil itu akhirnya menghela nafasnya perlahan lalu mendongak menatap tepat pada kedua mata Arka yang tengah menatapnya sendu.

Gadis itu memutuskan untuk menghadapi Arka, ia tidak mungkin akan selalu menghindar dari laki-laki dihadapannya ini, akan lebih baik jika masalahnya cepat diselesaikan agar tidak mengganggu masing-masing dari mereka.

"Cepet," jawab Alya yang sudah memalingkan wajahnya lurus ke arah depan.

Arka yang mendengar hal itu mengerti jika Alya mempersilahkannya untuk menjelaskan semuanya.

Flashback on

"Sorry, Dev. Gue mau ngakuin kalo gue deketin adek lo selama ini karena pengen bales dendam yang waktu---"

Bughhh

"Maksud lo apa, anjing!?" tanya Devan dengan intonasi yang keras. Ia tidak menyangka sahabatnya ini akan melakukan hal keji itu pada Alya.

Arka akhirnya bangkit dan memegangi sudut bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar itu, bogeman Devan benar-benar menyakitkan.

"Sorry, Dev. Biarin gue ngomong sampe selesai," ucap Arka pelan di akhiri ringisannya.

Sedangkan Devan hanya kembali menatap Arka datar, dan Arka tau bahwa itu artinya Devan mempersilahkan untuk melanjutkan ucapannya.

"Gue emang niatnya bales dendam ke Alya karena dia ganggu bullying kita waktu itu, pas lo ngejar Alya, Salsa nyaranin ke gue buat bikin Alya baper dan tinggalin gitu aja,--"

"Terus lo mau!!?" sentak Devan emosi memotong pembicaraan Arka.

"Ya," jawab Arka tegas.

Sedangkan Devan sudah siap untuk mengeluarkan makiannya lagi, namun suara Arka kembali menginterupsi membuatnya mengurungkan niat, "Awalnya gue emang cuma mau bales dendam ke adek lo, tapi lama-kelamaan gue juga gabisa boongin diri gue sendiri kalo gue udah sayang sama dia, gue cinta sama dia."

"Jangan harap gue bakal kasih lo ijin buat tetep deket-deket sama Alya!" ujar Devan menegaskan, ia tidak ingin adiknya tersakiti hanya karena rencana bodoh Arka.

Arka yang mendengarkan hal itu seketika menjadi panik, "Please -lah Dev, gue janji bakal jagain Alya, gue beneran cinta sama dia Dev, lo tau gue gak pernah main-main, kan? Gue ngajak lo ketemu disini, ngomongin semua ini, karena gue emang serius mau pacaran sama adek lo, Dev," mohon Arka panjang lebar, ia tidak ingin jauh dari Alya.

Devan kini menatap Arka intens, menimbang-nimbang apakah laki-laki ini sanggup menepati janjinya?

Akhirnya ia memutuskan untuk berlalu ke arah motornya, namun sebelum itu, ia menepuk pundak Arka pelan dan membisikkan sesuatu padanya, "Jaga dia, gue percaya sama lo!"

Akhirnya Arka bisa bernafas lega kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan perasaan senang yang sulit dijabarkan.

Flashback off

"Percaya, sama aku?" tanya Arka sambil menggenggam kedua tangan Alya erat dan mengubah gaya bicaranya menjadi aku-kamu.

Sedangkan Alya yang ditanya malah mengeluarkan isakannya, membuat Arka kalang kabut dan akhirnya memilih untuk mendekap erat gadis itu,"Ssssttt, kok nangis?"

Arka kemudian mengusap pelan punggung Alya dan mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut, membiarkan Alya menumpahkan seluruh air matanya, kemudian ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengusahakan agar gadis yang di dekapnya sekarang tidak akan mengeluarkan air mata kesedihan lagi.

.
.
.
.
.
.
.

Baikan ga yaaaa?
Mana udah pake aku-kamu babang Arkanya.
See you di next part-!!

To be continued,
-N

ARKALYA (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang