Arka beserta Devan, Zico, dan Aldo kini sudah sampai di sekolah.
Mereka sedang memikirkan cara bagaimana melewati gerbang sekolah mereka yang cukup tinggi ini.
Menepuk dahinya pelan, Arka baru mengingat jika sekolah ini milik ayah -nya,
"Goblok banget anjing," batinnya.
Namun tidak akan sempat jika ia meminta kunci pagar ini pada ayahnya, toh sepertinya ayahanda tercintanya itu tidak akan mau repot-repot membawa kunci gerbang sekolah kan?
"Gimana, Ar?" tanya Zico akhirnya.
"Manjat!" jawab Arka tegas.
Laki-laki itu dengan cepat melompat pelan menaiki gerbang, dan dengan segera diikuti Devan juga Aldo.
Sedangkan Zico menggelengkan kepalanya melihat tingkah grasa-grusu Arka, apalagi setelah melihat bahwa gerbangnya tidak tergembok.
"Emang lagi goblok semua temen gue," ucapnya pelan sambil memperhatikan ketiga temannya yang sudah mendarat sempurna di dalam.
Aldo yang melihat Zico hanya santai-santai saja segera mengomando temannya itu, "Buruan manjat, anjing!"
"Biriin minjit, injing!" cibir Zico pelan.
Ia kemudian melangkah dengan tenang, membuka pengunci bagian bawah gerbang, dan mendorong gerbang besar itu santai.
Arka, Devan, dan Aldo yang melihat itu seketika melongo.
"Jalan, jangan kayak orang bego lo pada," seru Zico yang sudah berjalan mendahului mereka, "Malu-maluin."
Seketika ketiganya tersadar dan berlalu menyusul Zico.
Mereka memang mengetahui titik keberadaan Alya berada di sekolah, namun, letak tepat dimana Alya berada belum terdeteksi.
Menelusuri koridor hingga kantin, sampailah mereka ke arah belakang sekolah.
"ARRGGHHH!"
Suara teriakan seseorang yang berasal dari gudang membuat mereka semua terlonjak dan was-was, "Itu suara Alya!" seru Arka pelan.
"Ke gudang sekarang!" perintah Devan, "Pelan-pelan!" sambung Arka.
•••••
"Hai, cantik!" dapa Audrey dengan nada mengejek.
Alya yang melihat keberadaan Salsa dan Audrey tidak merasa heran sedikitpun, tapi Reza?
"Bingung, ya?" tanya Salsa kali ini.
Ya, 3 siluet manusia tadi rupanya adalah Salsa, Audrey, dan juga Reza.
Salsa melangkah mendekat ke arah kursi yang tengah diduduki Alya, ia menendang pelan kaki kursi itu hingga membuat Alya hampir saja terjungkal.
"Ini akibat lo udah ambil Arka dari gue," desis Salsa sambil mengapit dagu Alya kencang, "Lo udah ngerubah Arka!"
Menghempaskan dagu Alya, kini ia menarik rambut indah Alya hingga gadis itu terdongak.
"Ssshhhh," eluh Alya merasakan sakit yang menjalar di kulit kepalanya, rambutnya serasa ingin rontok sekarang.
Namun, bukannya takut, Alya malah membalas tatapan Salsa dengan tatapan yang sangat tajam, ingin sekali rasanya menggunting rambut Salsa hingga habis.
"Mau gue colok tuh mata, hah!?" sentak Salsa.
Audrey menarik Salsa pelan ke belakang, kini gilirannya.
Plakkk
"Gue sebenernya nggak ada masalah apa-apa sih sama lo, tapi ngeliat tingkah lo yang nge- sok itu bikin gue jengkel tau?" jelas Audrey.
Memang gadis itu tidak ada dendam ataupun masalah sama sekali dengan Alya, bukan seperti Salsa ataupun Reza.
"Terus?" ujar Alya pelan, lakban di mulutnya memang sudah terlepas sejak tadi.
Plakk
Sekali lagi tamparan dari Audrey mendarat di pipi Alya, berhasil membuat sudut bibir gadis itu terkoyak dan mengeluarkan darah segar.
"Siapa suruh lo jawab?" tanya Audrey dengan tatapan intimidasi -nya.
Sedangkan Reza saat ini tengah menatap penuh arti pada ketiga gadis di hadapannya, diam-diam sudah terdapat sebuah pisau lipat kecil di tangannya, "Minggir!"
Audrey menyingkir memberi jalan pada Reza.
"Hai, Sayang?" sapa Reza diakhiri kekehannya.
Mendengar panggilan sayang yang dilontarkan Reza membuat perutnya bergejolak seketika, mual sekali.
"Gue sayang banget sama lo, Al," ujar Reza sambil menerawang jendela lebar di belakang Alya.
Namun setelah itu dengan cepat ia menatap tajam kedua mata Alya, "Tapi lo malah lebih milih bajingan itu daripada gue."
Reza mendekat, menyentuh pipi halus Alya dengan pisau lipatnya, menimbulkan ringisan pelan dari Alya, "Sshhhh."
"Cantik," ujar Reza menatap tetesan darah yang mengalir melewati leher Alya, "Tapi masih kurang."
Kemudian ia menambahkan beberapa sayatan pada beberapa bagian tubuh Alya.
Menatap puas pada hasil karya -nya, selanjutnya ia mundur membiarkan Salsa dan Audrey menyelesaikan semuanya.
"Sakit?" tanya Salsa sambil tertawa pelan, "Lemah!"
Tanpa basa-basi lagi, Audrey menyiram Alya dengan satu botol alkohol yang diambilnya dari uks tadi, "Tuh kasih alkohol biar sembuh!"
"ARRRGHHHH!"
Rasa perih seketika menjalari tubuh Alya, gadis itu sudah sangat lemas, badannya terasa panas dan perih.
Namun, bola matanya membulat seketika melihat Salsa yang sudah berdiri 5 langkah di depannya.
"Say bye to the world, Alya," ujar Salsa yang tengah menyodorkan pistol tepat ke arah kepalanya.
Reza dan Audrey menampilkan senyum remehnya ke arah Alya, dan Alya hanya bisa memejamkan matanya, berharap ada yang menolong dirinya secepatnya.
"1," hitung Salsa.
"2,"
"3."
Brakkkk
DOR!
DOR!
"Happy sweet seventeen to me."
.
.
.
.
.
.
.
Dor-dor!!
Kok dua kali? Maruk banget.
Kira-kira siapa aja yang kena tembak?
See you di next part-!!
To be continued,
-N
KAMU SEDANG MEMBACA
ARKALYA (END)
Fiksyen Remaja[Non-baku] "Gue gaakan lepasin lo gitu aja!" "Gue ngaku kalah." . . . Defalya Deynira, Gadis cantik dengan tubuh proporsional itu mulai memasuki kehidupan baru di lingkungan barunya. Ia menginjakkan kakinya kembali di kota Jakarta ini setelah sekian...
