Awan mendung, semilir angin ringan memeluk tubuh tanpa izin, serta langkah kaki gontai tak tahu kemana harus menuju—bagai lupa arah jalan pulang. Sore ini hidup, tapi terasa sedikit tak berharga. Menggenggam harapan ia berjalan terus mengikuti alamat langit Utara.
Jay bergeming, menikmati tiap langkah kakinya menjejaki tanah di bumi ini. Motornya jauh terparkir di tempat yang seharusnya, ia pergi ke pantai seorang diri, mencecah pasir putih dan beberapa gulungan ombak yang menyapa kaki. Kedua tangannya menelusup ke jaket kulit yang ia kenakan. Hampir tujuh ribu senja, kanvas hatinya kosong, tak terisi nama siapa pun.
Bertukar perasaan bukan hal yang mudah bagi Jay, ia memang dikategorikan sebagai orang yang mudah jatuh cinta sekalipun pada pandangan pertama. Namun hatinya masih enggan menangkap cinta yang bertebaran didepan mata. Jay sungkan membuang waktunya, terlalu malas pula mengontrol detak jantung bila ada perempuan yang mengajak mengadu rayu.
Terperanjat, ia tak sengaja melihat sepasang kaki lain, tiga meter di pandangan lurus manik mata, mendongak perlahan, Jay menganga kecil tak percaya. Perempuan yang menghalangi jalan Jay kini mengenakan kaus kuning sewarna kunyit, celana joger hitam serta kemeja linen berwarna soft mint menggantung dilengan kirinya. Itu Gempita.
"Aren, akhirnya kita ketemu lagi." Jay tersenyum ringan menyapa.
Hampir seminggu tidak bertemu, paras Gempita yang ayu sedikit layu. Masih kacau sebab tak kunjung menemukan rumah tetap untuk tinggal. Sementara ini Gempita dan Sunoo tinggal di rumah pribadi milik Jungkook. Jauh dari jangkauan teman-teman dekatnya. Sunoo masih bisa memunculkan diri di lingkungan sekolah, tapi ia sama sekali tak membuka suara bila ditanya menetap dimana.
Gempita ruai, tak sekukuh Sunoo ketika badai menghadang. Menghindari teman-teman sering pemudi itu lakukan, perihal tersebut bagai mendarah daging, tidak bisa lepas begitu saja dari dalam diri Gempita. Kapas di punggung tangan kirinya jadi pertanda sang pemudi baru pulang dari dirumah sakit saking dropnya, tapi ia tak mengirim surat ke sekolah.
"Kenapa?"
Surya yang hampir lenyap puluh menit berikutnya di ujung horizon menyemburkan warna lembayung, membuat cakrawala sore cerah itu indah. Namun seiring detik waktu berjalan, bulir bening mengalir perlahan dari sudut mata Gempita. Menunduk, surai hitam yang jatuh langsung diterbangkan angin yang berembus enteng.
Ternyata benar, jangan tanyakan 'kenapa' bila seseorang tengah menahan emosi pilu dalam badan. Itu justru akan menerbitkan air mata tak tertahan. Jay mendekat dengan langkah pelan, takut Gempita akan berlari ketika sadar mereka hampir tak berjarak. Satu usapan lembut tangan besar Jay merangkul semua beban luka yang ada di bahu Gempita.
Jay merasa petang ini ada hati yang merasa lebih rumpang dibanding dirinya. Awal pertama pertemuannya dibulan ini saja sudah bisa dikategorikan buruk, air muka keduanya sama-sama seperti matahari yang terpaksa puruk. Awan hitam tebal melapisi obsidian mereka.
Menandaskan tangis, Gempita memundurkan tungkainya. Kenapa bisa ia bertemu dengan Jay di sini? Untuk apa Jay di sini? Baseball cap yang menaungi kepalanya menutup sebagian cahaya senja yang menimpa paras tampannya. Jay tersenyum kisaran lima detik.
"Aku nggak mau memperburuk keadaan kamu, tapi kenapa kamu masih suka lari? Bukannya itu malah bikin capek berlebihan?"
Jay menghapus sisa air mata di pipi Gempita. Sorot mata Jay begitu teduh, membawa ketenangan yang dalam bersama suara debur ombak yang datang masuk leluasa ke indra dengar. Ujarannya barusan mengundang senyum getir Gempita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dekap ; Jay
Novela JuvenilKalau sahabatan sama Jay dan Jake, pacarannya sama Sunghoon, lanjut Heeseung, nanti nikahnya sama siapa ya? ⚠️ Cliche moments, there are a lot of typos #1 Jasuke 23082022 #1 Jiyoon 19062021 #1 Parkjongseong 21072021 # 2 Soeun 06062022 #22 Jay 110220...
