[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA, TERIMAKASIH]
[BELUM DI REVISI]
Warning! 18+
Murder scene, strong language.
Harap bijak dalam memilih bacaan
Summary:
Jayden dan Bella adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun hubungan mereka yang manis itu...
Bella melangkahkan kakinya di koridor sekolah yang tampak sepi. Tentu saja, tak banyak siswa yang berada di sekolah menyadari sekarang masih pukul enam pagi.
Bella memang sengaja berangkat pagi-pagi, dengan harapan agar tidak bertemu dengan Jayden yang kemungkinan besar akan mendatangi rumahnya untuk berangkat bersama.
"Bella!"
Sebuah teriakan menggema di koridor sekolah. Bella yang merasa namanya dipanggil pun menolehkan kepalanya dan mendapati Elga yang sedang berjalan ke arahnya.
"Nggak perlu teriak-teriak kali, gue pasti pasti denger," ujar Bella sedikit kesal pada Elga yang kini berjalan di sebelahnya. Sedangkan yang diingatkan hanya tertawa kecil sebagai respon.
"Tumben banget lo berangkat jam segini?" tanya Elga, keduanya lalu berjalan beriringan menuju kelas mereka.
"Pengen aja, terus lo? Ngapain lo berangkat jam segini juga?" Bukannya menjawab pertanyaan yang diberikan, Bella malah ganti melontarkan pertanyaan lain.
"Hari ini jadwal gue piket, jadi gue harus berangkat pagi-pagi. Gue nggak mau diamuk sama si cerewet Arga."
Arga adalah ketua kelas mereka, seorang pria yang begitu cerewet namun tidak bisa dipungkiri jika dirinya adalah seorang ketua kelas yang bertanggung jawab dalam mengurus kelas.
Bella menganggukkan kepalanya paham mendengar balasan temannya itu.
"Oh iya, kenapa lo berangkat sendiri? Jayden mana?" tanya Elga saat menyadari kejanggalan tersebut, biasanya pemuda selalu menempel pada Bella dimana pun kecuali saat bel masuk berbunyi.
Elga mengeryitkan keningnya saat Bella tak kunjung menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.
"Kenapa lo diam aja? Kalian lagi berntem ya?"
Bella melirik sekilas kearah Elga kemudian mengangguk kecil sebagai balasan. "Ya, kita sempat ada masalah kemarin."
"Oh ya? Pantas aja dia keliatan panik waktu nanya ke gue lo ada dimana," ujar Elga yang membuat Bella menatap penuh tanya ke arah temannya.
"Kapan dia nyari gue?" tanya Bella kemudian.
"Kemarin, waktu lo lagi tugas di UKS."
Bella menggumam kecil. "Kita udah baikan setelah itu, sekarang masalahnya udah beda lagi."
Elga menolehkan kepala dengan cepat, menatap sang sahabat degan pandangan yang sulit diartikan.
"Serius? Sebenarnya berapa banyak masalah yang menimpa hubungan kalian? Seingat gue, dulu kalian baik-baik aja deh sebelum-"
Bella menolehkan kepalanya karena Elga yang menghentikan perkataannya, gadis itu bahkan menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
Bella menaikan sebelah alisnya. "Sebelum apa?"
Elga mengendikkan bahunya singkat sebelum akhirnya memilih untuk melanjutkan kalimatnya. "Sebelum Luna datang."
Elga kemudian memusatkan perhatiannya karena Bella menghela napas panjang setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Keningnya berkerut, apa-apaan dengan respon itu?
"Tunggu, jangan bilang kalau gue benar? Luna yang jadi penyebab dari masalah kalian?" tanya Elga yang dibalas anggukan kecil oleh Bella.
"Lo benar, dia emang penyebabnya."
Elga menyibak surainya kebelakang lalu menggeleng kecil tanpa sepengetahuan Bella. Elga tidak menyangka jika Luna berhasil melancarkan rencananya. Ia jadi penasaran, apa yang telah dilakukan gadis tersebut hingga berhasil membuat sepasang sejoli yang selama ini terkenal harmonis itu menjadi bertengkar. Luar biasa sekali gadis itu.
Elga menghentikan langkahnya karena Bella yang secara tiba-tiba berhenti di depannya. Ia menolehkan kepalanya ke samping berniat untuk bertanya, namun ia urungkan saat melihat wajah temannya yang terlihat kaku dengan kedua mata yang menatap lurus ke depan.
Elga menolehkan kepalanya, mengikuti arah pandang Bella yang tertuju pada seorang pria yang berdiri tepat di depan mereka. Ia kemudian melangkahkan mundur untuk memberikan mereka ruang untuk berbicara.
"Tolong minggir, ini jalan umum," ujar Bella yang ditujukan pada pria yang menghalangi jalannya. Karena tak mendapatkan respon apapun, Bella mendongakkan kepalanya menatap pria tersebut. "Apa gue perlu ngulangin perkataan tadi, Jayden?"
Hati Jayden serasa dicubit mendengar Bella berbicara tanpa menggunakan aku-kamu kepadanya. Hal itu membuat Jayden semakin yakin jika kekasihnya itu benar-benar marah kepadanya. Hah, tentu saja, siapa orang yang tidak akan marah jika dikecewakan berkali-kali?
"Kita perlu bicara," tutur Jayden yang akhirnya membuka suara setelah beberapa saat.
"Kayaknya cuma lo deh, gue nggak ada keperluan apapun sama lo." Bella hendak melangkan kakinya untuk pergi sebelum sebuah tangan mencekal lengannya.
"Aku-kamu Bella, bukan lo-gue. Jangan bertingkah kayak ini, kita perlu nyelesaiin masalah kita secara baik-baik."
Lalu tanpa mendapatkan persetujuan, Jayden segera menarik tangan Bella membuat kekasihnya itu mau tak mau mengikuti langkahnya.
"Lepasin tangan gue!" Bella berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman sang kekasih.
Jayden menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping menatap Bella. "Aku udah kubilang, kita perlu selesaiin masalah kita," ujarnya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Elga tersenyum kecil mengamati kejadian tersebut, ia merasa tertarik dengan kelanjutan dari pembicaraan mereka. Maka dari itu, ia melangkahkan kakinya mengikuti kemana sepasang sejoli tersebut pergi. Namun langkahnya harus terhenti kala seseorang dari arah belakang menarik tas punggungnya, membuat Elga mau tak mau memutar tubuhnya.
"Lo mau pergi kemana?" tanya sosok tersebut, membuat Elga memasang wajah tak sukanya.
Elga menepis tangan yang menahan tasnya, "bukan urusan lo, lepas."
Sosok tersebut melepaskan tas yang sempat ia tahan kemudian beralih mencengkeram lengan Elga saat gadis tersebut hendak melangkah kakinya untuk pergi.
"Lo mau ngikutin mereka lagi? Emangnya lo mata-mata, hah? Penguntit? Intel?"
Elga memicingkan matanya tajam mendengar perkataan pemuda didepannya tersebut. "Berapa kali gue bilang sama lo, berhenti ikut campur urusan gue. Lo nggak punya hak atas hal tersebut."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.