5. Pertemuan yang tak diduga.

99 13 5
                                        

Seorang gadis berpakaian serba hitam duduk di samping sebuah makam dengan kedua tangan yang menyatu didepan dada, memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa.

Kedua kelopak mata yang sebelumnya terpejam mulai terbuka, menampilkan iris madunya yang memikat. Kedua tangannya mengambil bunga yang ia bawa dan menaburkannya di atas makam berhiaskan nisan putih.

"Bella pulang dulu ya ma, semoga mama tenang disana." Pamit Bella sembari mengelus pelan nisan almarhumah sang ibunda, ia beranjak dari posisi jongkoknya lalu mulai melangkahkan kaki.

Namun sebelum sempat kakinya menapak keluar dari area pemakaman, netranya tanpa sengaja menangkap sosok yang terlihat tidak asing di matanya. Tanpa pikir panjang, ia segera melangkahkan kakinya mendekati sosok tersebut.

"Jayden?" panggil Bella, sedikit terselip nada ragu dari kalimatnya. Namun senyum di bibirnya langsung terkembang saat sosok tersebut menoleh ke arahnya. Ternyata ia tidak salah lihat, pria itu memang kekasihnya.

"Bella, kamu ada disini juga?" tanya Jayden dengan raut wajah terkejutnya.

"Iya, aku habis jenguk mama."

Bella menunjuk tempat sang ibunda di semayamkan, tak jauh dari tempat mereka berada.

"Oh gitu."

Bella memiringkan badannya guna melirik nama yang tertulis di atas nisan, ingin tahu siapa sosok yang dikunjungi Jayden.

"Dia siapa?"

Jayden mengikuti arah pandang Bella, tepatnya pada makam seseorang di balik tubuhnya, "dia"

Jayden menjeda kalimatnya, sebenarnya ia merasa enggan untuk melanjutkannya.

"Suami mama aku," sambung Jayden pada akhirnya. Ia tidak sudi mengakui pria tersebut sebagai papanya.

Bella mengangguk pelan mendengar penuturan Jayden. Sekarang ia tahu kenapa Jayden terlihat enggan menjawab pertanyaannya tadi. Bella mendongakkan kepalanya menatap Jayden dan dengan ragu bertanya.

"Apa aku boleh, berbicara sebentar sama-"

"Suami mama kamu?" imbuh Bella.

Jayden sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya menganggukan kepalanya, "iya, tentu."

Jayden melangkah mundur, memberi jarak agar Bella bisa dengan leluasa berbicara dengan suami mamanya. Tak lama kemudian Bella berjalan menghampirinya dengan senyum manis yang terkembang di bibirnya.

"Udah selesai?"

"Udah."

Jayden mengangguk kecil mendengarnya, ia lalu bertanya, "kamu kesini naik apa?"

"Taksi," balas Bella apa adanya yang disambut kerutan tipis di dahi Jayden.

"Taksi? Harusnya kamu tadi bilang sama aku, aku bisa" namun belum sempat Jayden menyelesaikan kalimatnya, Bella terlebih dahulu memotongnya.

"Hei, aku nggak apa-apa kok. Lagipula akhirnya kita ketemu disini, kan?" tutur Bella yang membuat Jayden mau tak mau mengiyakannya.

"Setelah ini mau kemana?"

Bella berpikir sejenak mendengar pertanyaan tersebut, ia tak memiliki acara lain setelah ini, "pulang?" ujarnya namun terkesan bertanya.

Jayden mengecek arloji ditangan kirinya, jam masih menunjukkan pukul 17.15, bukanlah masih terlalu dini untuk pulang ke rumah?

"Masih terlalu cepat buat pulang ke rumah, mau jalan-jalan dulu?" tawar Jayden yang nampaknya berhasil membuat kekasihnya itu tertarik.

"Boleh, kemana?"

"Ikut aku, aku akan bawa kamu ke tempat yang indah. Aku jamin kamu pasti suka," ujar Jayden dengan antusias lalu menarik lengan sang kekasih dengan semangat.

.

Malam itu setelah pertemuan tak disengaja sepasang kekasih di pemakaman umum, Jayden mengajak Bella menikmati pemandangan malam kota dari bukit Moko. Kedua mata Bella tak berhenti memancarkan binar penuh minat menatap pemandangan kota di bawah sana.

"Waah!"

Jayden mengulas senyum tipis melihat antusiasme sang kekasih, "kamu suka?"

Bella menolehkan kepalanya lalu mengangguk semangat dengan senyum yang masih terpatri di bibir tipisnya.

"Suka! Makasih udah ngajak aku kesini," tutur Bella yang dibalas anggukan kecil oleh sang kekasih.

Jayden mengamati atensi sang kekasih yang kembali menikmati pemandangan di bawah sana. Seulas senyum tipis terukir di bibir Jayden. Bella itu sangat manis, tutur katanya yang lembut, tingkahnya yang anggun namun terkadang menggemaskan, serta senyum secerah matahari yang selalu menghiasi wajahnya bisa dengan mudah membuat siapapun jatuh cinta padanya.

Begitu pula dengan dirinya, Bella bisa dengan mudah membuat Jayden bertekuk lutut dihadapannya, bahkan tanpa melakukan apapun. Hanya saja pesona Bella begitu kuat, begitu sulit diabaikan, pesona yang hanya dimiliki Bella seorang.

Maka dari itu Jayden merasa sangat beruntung memiliki Bella, sosok yang begitu menarik, begitu indah dan begitu sempurna.

"Bella."

Bella menolehkan kepalanya mendengar namanya dipanggil, "hm?"

"Bella," panggil Jayden sekali lagi, namun tak kunjung melakukan apapun. Yang dilakukannya hanya menatap lurus ke arah sang kekasih yang menatap penuh tanya ke arahnya.

"Iya?"

"Stevani Arabella."

Kedua mata Bella mengerjap bingung, kenapa Jayden terus memanggil namanya tapi tak mengatakan apapun? Kekasihnya ini kerasukan atau apa?

"Ada apa?" tanya Bella pada akhirnya.

"Nggak ada, cuma pengen manggil nama kamu saja."

Bella mendengus kecil lalu mengangkat kepalan tangannya yang mungil, "jangan main-main sama aku ya."

"Sayang," panggil Jayden untuk kesekian kalinya, namun diabaikan oleh Bella. Kekasihnya itu sedang dalam mode menyebalkan, jadi lebih baik diabaikan saja

"Sayang dengar, aku pengen ngomong sesuatu," paksa Jayden.

"Ya udah, apa?" tanya Bella dengan ogah-ogahan menatap Jayden yang kini memasang senyum hangatnya.

Jayden melangkahkan kakinya mendekati Bella, ia meraih kedua tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat.

"Kamu tahu kan kalau aku cinta sama kamu?"

Bella terkikik kecil mendengar kalimat yang dilontarkan Jayden dengan nada serius, "iya, aku tahu. Terus?"

Raut wajah Jaydan perlahan berubah sendu, "tapi aku minta maaf."

Kening Bella berkerut tipis, sebab merasa kebingungan, "kenapa tiba-tiba meminta maaf?"

"Aku minta maaf, karena nggak bisa jadiin kamu prioritas utama di hidup aku."

To Be Continue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

To Be Continue.

Sorry for typo(s).

RUWET [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang