Jayden memperhatkan pantulan dirinya dari pantulan cermin. Surai arang yang biasaya ia biarkan jatuh kini ia tata sedemikian rupa hingga menampilkan dahinya, cukup menonjolkan aura jantannya. Ia membenahi dasi hitam yang melekat di kemeja birunya yang sedikit miring dan, hasilnya sempurna.
"Anak mama ganteng banget.
Tubuh Jayden sedikit terperanjat, ia menggulirkan pandangan nya pada cermin dan mendapati sosok familier yang baru saja memasuki kamarnya.
Senyumnya terkembang begitu saja, menatap sang mama yang berdiri tepat dibelakangnya. Ia memutar tubuhnya menghadap ssosok yang membawanya terlahir ke dunia ini.
"Mama juga cantik banget malam ini," puji Jayden.
"Cuma malam ini?" tanya Rasti main-main.
"Ya enggak lah, mama selalu cantik setiap hari. Tapi malam ini benar-benar luar biasa," tutur Jayden yang dihadiahi tawa kecil serta cubitan lembut di pipi padatnya.
"Kamu bisa saja deh."
Jayden ikut mengulas senyumnya, namun tak bertahan lama karena melihat sang mama yang melunturkan senyumnya dan digantikan dengan raut wajah murung.
"Jay, apa kamu bahagia sama keputusan ini?"
"Tentu aja, aku udah nunggu momen ini sejak lama," balas Jayden tanpa ragu.
"Benar? Kamu nggak bohong kan?" tanya Rasti memastikan, ia tidak ingin Jayden menyesali keputusannya setelah ini.
"Aku nggak bohong kok, aku yakin sama pilihan mama. Aku yakin pilihan mama pasti yang terbaik." Jayden mengambil telapak tangan sang mama dan menggenggamnya, "jangan masang wajah sedih gini dong, harusnya kan kita bahagia," lanjutnya diiringi dengan senyum cerahnya.
Rasti turut mengulas senyumnya, ia menarik sebelah tangannya dan membawanya mengusap surai sang anak, "kamu benar, harusnya kita lagi bahagia."
Jayden menganggukkan kepalanya setuju,"gimana kalau kita berangkat sekarang? Aku nggak sabar ketemu sama dia."
.
Indra melangkahkan kakinya pada pintu utama rumahnya saat mendengar suara ketukan yang berasal dari pintu jati tersebut. Dengan perlahan dibukanya pintu tersebut, senyumnya seketika terbit kala mendapati sosok yang berdiri didepannya.
"Selamat malam," sapa salah satu dari mereka.
"Selamat malam, kalian udah sampai? Ayo masuk dulu," tutur Indra dan menggiring tamunya memasuki rumah.
"Terimakasih."
"Bibi, bisa tolong panggil Bella di kamarnya?" ujar Indra pada sosok wanita paruh baya yang kebetulan melintas didepannya.
"Baik, tuan." Wanita paruh baya itu mengangguk kecil lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar majikan mudannya sesuai dengan perintah yang diberikan.
Indra mengulas senyum pada kedua tamunya, "kalian duduk dulu ya, anak saya masih bersiap-siap," ujarnya mempersilahkan.
"Nggak apa-apa, namanya juga anak gadis."
Tak lama kemudian sosok yang mereka tunngu-tunggu akhirnya menampakkan dirinya. Bella melangkahkan kakinya dengan anggun menuruni tangga, dress berwarna coklat pastel yang membalut tubuhnya terlihat sangat cocok untuknya. Ditengah-tengah langkahnya, kedua netra madu itu membulat kala menangkap sosok yang sangat familier tengah duduk di sofa bersama sang papa dan sosok lain yang tak dikenalnya.
"Bella, ayo duduk sini dulu."
Bella mengerjapkan matanya beberapa kali, tersadar dari lamunannya saat bariton sang papa menginterupsi.
"Ah, iya."
Bella kembali melanjutkan langkahnya sempat terhenti lalu duduk di samping sang papa, menghadap dua orang yang bertamu dirumahnya.
Indra menatap putri semata wayangnya dengan senyum yang terlukis di bibirnya. Cantik, anaknya selalu terlihat cantik.
"Bella, kenalin ini Tante Rasti."
Kedua netra madu Bella menatap sosok yang diperkenalkan sang papa. Seorang wanita yang masih terlihat sangat cantik meskipun ia yakin jika usianya tak lagi muda, terlebih lagi senyum manis itu menambah nilai plus dimatanya.
"Selamat malam Tante, saya Bella," sapa Bella dengan ramah diiringi dengan senyuman.
Rasti membalas uluran tangan Bella dan membawanya ke dalam pelukan singkatnya, ia menatap gadis muda yang tersenyum hingga menampakkan gusinya. Terlihat cantik, manis dan menggemaskan disaat bersamaan, sebelah tangannya terangkat mengusap surai arang yang berkilau itu dengan perlahan.
"Malam juga sayang, kamu cantik banget," puji Rasti yang dihadian tawa kecil oleh Bella.
"Makasih banyak, Tante juga cantik banget."
"Tentu aja nggak secantik kamu," balas Rasti.
Indra terseyum kecil, hatinya menghangat melihat interaksi manis dihadapannya, "dan yang duduk disana itu namanya Jayden. Kamu pasti kenal sama dia kan? Dia satu sekolah sama kamu," lajutnya.
Jayden. Sosok yang sedari tadi menjadi fokus Bella, dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang dilakukan Jayden nya disini? Terlebih lagi sosok itu sejak tadi hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, begitupula dengan raut wajahnya yang datar. Terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Oh, iya. Dia juga-" perkataan Bella terputus saat Jayden mngulurkan tangan ke arahnya. Ia menatap uluran tangan tersebut dengan tatapan bertanya, apa maksudnya ini? Kenapa Jayden bertingkah seolah-olah tak mengenalnya?
Lamunan Bella seketika buyar saat merasakan senggolan kecil di lengannya, ia menolehkan kepalanya pada sang papa yang melakukan aksi tersebut padanya. Kedua netra lelaki itu menatapnya dan lengan Jayden secara bergantian.
Sadar dengan kode yang diberikan sang papa, Bella pun menatap Jayden dan menerima uluran tangan tersebut dengan ragu.
"Jayden."
Bella memaksa bibirnya untuk mengulas senyum mendengar sepatah kata yang diucapkan Jayden dengan nada datar.
"Bella," lirihnya lalu jabatan tangan mereka terlepas begitu saja. Jayden pelakunya.
Sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri membuat bella tersentak saat merasakan sapuan pelan pada surainya. ia menolehkan kepala dengan cepat dan menatap sang papa yang tengah mengulas senyum lebar ke arahnya.
"Ada yang mau papa sampaikan ke kamu, sayang," ujar Indra tanpa melunturkan senyumnya.
“Ya?"
Indra menolehkan kepalanya, menatap Rasti yang duduk disampingnya yang dibalas anggukan kecil oleh wanita tersebut. Ia terseyum kecil lalu kembali menatap bella yang menatapnya penuh tanya.
"Setelah ini, Tante Rasti sama Jayden akan jadi bagian dari keluarga kita."
Bella mengerjapkan matanya beberap kali dengan kening berkerut lalu bertanya, "maksudnya?"
"Papa akan menikah sama Tante Rasti."
Dan saat itu juga Bella merasa dunia berhenti berputar, begitupula dengan sosok lain yang kini mengetatkan rahangnya kuat-kuat.
To Be Continue.
Sorry for typo(s).
KAMU SEDANG MEMBACA
RUWET [END]
Dla nastolatków[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA, TERIMAKASIH] [BELUM DI REVISI] Warning! 18+ Murder scene, strong language. Harap bijak dalam memilih bacaan Summary: Jayden dan Bella adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun hubungan mereka yang manis itu...
![RUWET [END]](https://img.wattpad.com/cover/247997831-64-k680824.jpg)