Warning! 18+
Harap bijak dalam memilih bacaan.
.
"Gue cuma perjuangin cinta gue, apa itu salah?"
"Lalu apa artinya lo nganggep itu hal yang benar?" Bella membalikkan perkataan gadis didepannya.
Luna menutup mulutnya rapat-rapat, ia tak bisa menjawabnya. Tentu saja merebut kekasih orang bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan, tapi perasaannya juga tidak bisa disalahkan. Ia tidak bisa memilih kepada siapa ia harus jatuh cinta.
"Oke kalau gitu. Gue juga, disini gue juga mau perjuangin cinta gue, jadi gue benar kan?" ujar Bella kemudian karena gadis didepannya itu tak kunjung membuka suara.
"Bella, lo udah gila. Lo nggak cinta sama Jayden, itu cuma obsesi gila lo aja!"
"Shut up your mouth, bitch! Apa lo nggak penah berkaca? Lo juga terobsesi sama pacar gue, lo gunain penyakit sialan lo itu sebagai alasan buat deketin Jayden. Apa lo pikir selama ini gue nggak tahu kalau lo udah sembuh?" desis Bella.
"A-apa?"
Bella terkekeh sinis, "lo seorang pelakon yang baik, haruskah gue kasih penghargaan buat lo?"
Bella tersenyum kecil lalu mengambil busur yang ia letakkan diatas meja berdebu dan membawanya mendekat pada Luna, membuat gadis itu semakin meringsut mundur pada senderan kursi.
"Jangan gila, Bella!" seru Luna dengan suara bergetar.
Kedua mata Bella menyipit tak suka, "bahkan dalam kondisi kayak gini pun lo masih berani teriak ke gue? Hebat, besar juga nyali lo."
"Nggak! Lepasin gue!"
Bella menjambak surai kecoklatan Luna, membuat sang empu mendongak dengan mulut yang mengeluarkan erangan.
"Tutup mulut sialan lo, jalang! Jangan paksa gue untuk berbuat lebih berengsek lagi!" seru Bella tepat didepan wajah Luna.
Bella melepaskan cengkeramannya pada rambut Luna dengan kasar hingga beberapa helai tertinggal di telapak tangannya.
"Nggak banyak orang yang tahu tentang ini, tapi gue akan kasih tahu sama lo,” kata Bella.
“Waktu SMP gue dulu adalah seorang atlet panahan, gue bahkan menempati posisi Ace dan meraih juara dua di ajang nasional. Gue lumayan hebat kan?" lanjut Bella dengan nada ceria, seolah-olah dirinya bukanlah sosok iblis yang baru saja dan akan menyiksa Luna.
"Gue mohon, lepasin gue Bell. Gue mohon sama lo," lirih Luna yang meminta belas kasihan Bella, air mata mulai turun membasahi pipinya sebab rasa takut yang menyerangnya bertubi-tubi. Namun nampaknya hal tersebut tidak berhasil dan malah membuat Bella murka dilihat dari matanya yang berkilat tajam.
Bella menyergap kedua pipi Luna, "gue pengen dengar pujian dari mulut lo, bukan tangisan!" serunya denga keras.
"Nggak, gue mohon lepasin gue. Gue janji bakal jauhin Jayden setelah ini, Bella. Gue mohon lepasin gue."
Bella berdecih, sebelah tangannya menepuk keras pipi Luna hingga berwarna kemerahan, "apa lo pikir gue bakal percaya sama kalimat yang keluar dari mulut busuk lo itu?"
"Lo bajingan!" umpat Luna sarat akan kebencian.
"Oh... mulut lo itu, gue pengen banget mencabiknya. Ngomong-ngomong, makasih banyak udah ngingatin gue, gue emang bajingan."
Bella mengecek arloji dipergelangan tangan kirinya lalu mengaduh kecil.
"Ah, gue terlalu banyak ngomong dan itu gara-gara lo, sialan. Gue harus segera selesaiin ini atau Cakra yang bakal habisin gue," gerutu Bella.
Bella berjalan sedikit menjauh untuk mengambil posisi yang tepat. Ia menarik satu anak panah dari balik punggungnya, sebelah matanya tertutup untuk memfokuskan bidikannya.
"Enggak! Bella, jangan lakuin itu! Gue mmohon lepasin gue!" Teriakan Luna menggema di ruangan kosong tersebut.
"Diam! Atau lo lebih memilih jantung lo gue cabik pakai anak panah ini?!" Bella berseru kesal karena Luna terus bergerak brutal yang membuat dirinya sulit untuk memfokuskan bidikannya.
"Gue mohon Bella."
Bella melirik sekilas pada Luna yang mengais rasa iba, perutnya merasa tergelitik, "mohon, huh? Kalau gitu memohon lah sesuka lo," balasnya tak acuh.
Bella mengabaikan raut wajah memohon Luna yang berantakan dan lebih memilih untuk melayangkan pertanyaan.
"Ada permintaan terakhir?"
"Nggak ada?" tanya Bella lagi karena Luna yang tak kunjung membuka suara.
"Lepasin gue. Gue masih pengen hidup," balas Luna dengan suara bergetar sarat akan ketakutan.
Bella tersenyum miring lalu menggeleng kecil, "kalau gitu lo memang pantas untuk mati." Bersamaan dengan itu, ia melepaskan anak panah dan mendarat tepat di tengah dahi Luna.
"Akkhh!!" jerit Luna lalu setelah itu kesadarannya menghilang bersamaan dengan darah yang mengalir deras dari dahinya.
Bella menurunkan busurnya dan menikmati pemandangan dihadapannya. Bagaimana Luna yang terlihat begitu tersiksa namun tidak bisa melakukan apapun selain pasrah dan berakhir dengan nyawanya yang melayang.
"Itu adalah akibat karena lo udah berani main-main sama gue."
Bella berjalan mendekati Luna yang kini terbujur kaku dengan kedua mata terbelalak. Jari telunjuknya yang terlapisi sarung tangan hitam menyusuri darah yang mengalir dari dahi Luna dan meratakannya hingga pipi.
"Kematian adalah sebuah takdir dan sayangnya takdir terakhir lo adalah, mati ditangan gue,” bisik Bella tepat dismping telinga Luna yang tubuhnya tela terbujur kaku.
"Benar, aku adalah pelakunya."
Bella tersenyum teramat lebar hingga kedua netra madunya menyipit, cukup untuk menyampaikan betapa bangganya dirinya.
To Be Continue.
Sorry for typo(s).
Sampai sini, siapa yang masih dukung Bella?
KAMU SEDANG MEMBACA
RUWET [END]
Teen Fiction[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA, TERIMAKASIH] [BELUM DI REVISI] Warning! 18+ Murder scene, strong language. Harap bijak dalam memilih bacaan Summary: Jayden dan Bella adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun hubungan mereka yang manis itu...
![RUWET [END]](https://img.wattpad.com/cover/247997831-64-k680824.jpg)