Gilang mengedarkan pandangannya pada penjuru kantin, mencari sosok yang belum ia temui seharian ini. Namun nampaknya sosok yang dicarinya sedang tak berada di satu ruangan yang sama dengannya. Gilang lantas mengambil ponselnya dari saku celana dan mengetikkan sesuatu.
"Lo dimana?"
10.15
Tidak sampai satu menit, pesan yang ia kirim telah dibalas.
"Di perpustakaan."
10.15
"Ngapain disana? Nggak ke kantin?"
10.16
"Pengen aja dan enggak."
10.16
"Sendirian?"
10.16
"Iya."
10.17
Gilang menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, ia berniat untuk bangkit dari duduknya sebelum sebuah suara menginterupsinya.
"Lo mau kemana?" tanya Cakra sembari memasukkan telur rebus utuh ke dalam mulutnya.
Gilang memandang jijik temannya itu, tidak bisakah ia makan dengan cara yang sewajarnya? Bagaimana bisa dia memasukkan telur sebesar itu ke dalam mulutnya dengan sekali lahap.
"Gue ada urusan."
Cakra mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan cepat dan berusaha keras menelannya, "lo mau ninggalin gue disini, sendirian?"
"Emangnya lo nggak bisa makan sendiri? Haruskah gue nyupain makanan ini ke mulut lo?" sarkas Gilang.
"Jawab aja, sat. Gue tanya lo mau kemana?" ujar Cakra yang kekeuh meminta Gilang untuk menjawab pertanyaannya.
"Gue mau nyusul Bella," ungkap Gilang pada akhirnya.
Cakra mengangguk kecil mendengarnya, "Bella? Emangnya dia ada dimana?" tanyanya sekali lagi yang membuat Gilang merotasikan kedua bola matanya.
"Kepo aja lo, makan aja sana. Udahlah, gue mau pergi dulu." Gilang lalu pergi meninggalkan Cakra yang menatap kepergiannya dengan raut wajah kesal.
"Sial, itu anak bener-bener ya."
.
Bella mendongakkan kepalanya saat sebuah tangan mengusap, atau lebih tepatnya mengacak-acak surai arangnya. Rasa kesal yang sebelumnya bersarang dihatinya seketika lenyap saat melihat siapa pelakunya.
"Wah, lo beneraan datang?"
Gilang mengangguk kecil, ia mendudukkan dirinya di kursi seberang Bella sembari meletakkan kantung plastik berisi makanan di atas meja.
"Kenapa lo disini sendirian? Elga kemana?" tanya Gilang saat menyadari dirinya tak mendapati gadis yang selalu bersama Bella.
"Dia juga anggota klub musik kalau lo lupa," balas Bella. Pandangannya kemudian tertuju pada kantung plastik yang dibawa Gilang.
"Ini apa? Buat gue?" tanya Bella sembari menunjuk barang yang ia maksud.
"Makan aja, gue tahu lo pasti belum makan," kata Gilang yang membuat Bella tersenyum mendengarnya. Namun di detik berikutnya senyum itu hilang kala mengingat peraturan saat berada di perpustakaan.
"Nggak boleh makan di perpustakaan, gue bisa kena masalah nanti," balas Bella dengan raut wajah lesu. Ia merasa lapar karena memang belum makan sejak tadi pagi, tapi ia juga tidak ingin diusir dari perpustakaan.
"Nggak boleh itu kalau ada yang tahu," pungkas Gilang yang membuat Bella menatap penuh minat mendengar kalimat yang di ucapkannya.
"Jadi maksud lo, nggak bakal jadi masalah kalau nggak ada yang tahu?" tebak Bella yang dibalas anggukan oleh pria didepannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUWET [END]
Teen Fiction[HARAP FOLLOW SEBELUM MEMBACA, TERIMAKASIH] [BELUM DI REVISI] Warning! 18+ Murder scene, strong language. Harap bijak dalam memilih bacaan Summary: Jayden dan Bella adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun hubungan mereka yang manis itu...
![RUWET [END]](https://img.wattpad.com/cover/247997831-64-k680824.jpg)