33 Kau akhirnya membongkarnya, Elga?

34 6 0
                                        

"Mau gue antar pulang?"

Bella menggelengkan kepalanya sebagai balasan, "nggak perlu, gue pulang bareng Elga aja." tolaknya secara halus.

Gilang menatap arloji di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 23.17.

"Lo yakin? Sekarang udah larut malam."

Elga menjetikkan jarinya membuat tiga pasang mata disana menatapnya, "lo ngeraguin gue ya? Ngeremehin gue?"

"Bukan gitu, tapi sekarang udah larut malam, gimana kalau terjadi sesuatu sama kalian?" ujar Gilang sarat akan kekhawatiran, bagaimanapun juga tidak baik untuk gadis keluar sendirian malam-malam. Baiklah mereka berdua, tidak sendirian, tapi tetap saja berbahaya.

"Tenang aja tuan, kita akan baik-baik saja. Jadi hentiin pikiran buruk lo itu, gue pastiin ngantar Bella sampai rumahnya dengan selamat."

Bella menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan temannya tersebut, "Elga benar Gil, kita pasti baik-baik aja kok, jangan khawatir."

Gilang menghela napas kecil, walaupun merasa tak rela ia menganggukan kepala sebelum akhirnya membuka suara.

"Ya udah kalau gitu, tapi kalian harus tetap berhati-hati. Kabari gue kalau jika ada sesuatu terjadi."

“Hm...." Elga menjawabnya dengan malas-malasan, kenapa Gilang belebihan sekali? Beberapa bulan belakangan ia mengikuti kelas takewondo ngomong-ngomong, jadi dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri beserta Bella.

Cakra yang sedari tadi hanya diam pun ikut angkat bicara, "jangan lupa kasih kabar kalau udah sampai di rumah," ujarnya yang di tujukan pada Elga.

Elga mengangguk kecil saat menyadari kalimat tersebut ditujukan padanya, "ya, kalau gitu kita pergi dulu."

Kedua gadis itu berjalan beriringan memasuki mobil dengan Elga yang memegang kemudi, tak butuh waktu lama mobil tersebut mulai berjalan membelah jalanan kota.

"Kenapa lo harus kasih kabar sama Cakra? Lo lagi dekat ya sama dia?" ujar Bella yang akhirnya menyuarakan rasa penasarannya.

Kedua netra Elga membulat beberapa detik sebelum akhirnya kembali ia normal kan.

"H-hah? Nggak! Enggak gitu!" balas Elga cepat.

"Terus?"

Elga memaksa otaknya berpikir keras untuk menemukan alasan atas pertanyaan Bella. Sial, harusnya Cakra tidak mengatakan hal tadi didepan Bella, temannya ini memiliki rasa penasaran yang tinggi.

"Bukannya dia emang gitu? Dia peduli banget sama temannya," balas Elga pada akhirnya

Bella berpikir sejenak lalu mengangguk kepalanya, "benar juga sih."

Elga menghembuskan napasnya lega saat Bella terlihat mempercayai perkataannya, ia mengeryit kecil saat tak mendengar suara apapun dari Bella. Tumben sekali, padahal biasanya temannya itu suka sekali berbicara. Elga menolehkan kepalanya dan mendapati temannya itu tengah menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.

Tiba-tiba melamun?

"Lo lagi mikirin apa?"

Bella sedikit terlonjak ia kemudian menatap Elga dan menghela napas kecil, "gue merasa bersalah banget sama Luna karena udah ngelarang Jayden buat ngangkat teleponnya tadi."

Elga melirik sekilas pada Bella lalu kembali fokus pada jalanan di depannya, "kenapa lo ngerasa bersalah? Harusnya Luna yang ngerasa bersalah sama lo, gimana mungkin dia meluk Jayden bahkan saat lo ada disana?"

"Luna pasti lagi terpukul banget karena kepergian papanya. Dia pasti butuh Jayden sebagai sandaran, tapi gue malah ngelarang Jayden ngangkat teleponnya, gue benar-benar jahat."

Elga merotasikan kedua matanya mendengar perkataan Bella yang terkesan melantur. Ia sangat yakin jika Luna pasti memanfaatkan keadaan ini dengan baik, gadis itu sangat licik.

"Lo nggak perlu nyalahin diri lo sendiri, Luna pasti lagi manfaatin keadaan biaar Jayden deket sama dia terus."

Bella mengabaikan perkataan tersebut, ia menggigit jarinya dan menatap Elga dengan raut wajah khawatir.

"El, gimana kalau fobia Luna malah makin parah? Kalau iya, itu pasti gara-gara gue."

Elga menghembuskan napasnya kasar dan menepikan mobilnya di pinggir jalan. Sepertinya ia perlu membuka mata Bella agar temannya itu sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.

Elga menghadapkan tubuhnya pada Bella yang masih menggigiti jarinya, "lo benar-benar udah kemakan sandiwara murahan Luna ya? Biar gue kasih tahu sesuatu sama lo."

Kedua tanganya diletakkan pada masing-masing pundak Bella, memaksa sang sahabat menatap dirinya.

"Luna nggak memiliki fobia atau apapun itu, semuanya cuma omong kosong. Dia bahkan udah sembuh sejak lama," lanjut Elga.

To Be Continue.

Sorry for typo(s).

RUWET [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang