29. Maksud terselubung.

28 4 0
                                        

"Kamu tahu nggak? Luna sering banget cerita tentang kamu," tutur Herman yang membuat anak semata wayangnya itu menoleh dengan cepat ke arahnya.

"Papa." peringat Luna, namun sang papa malah memasang senyumnya.

"Kenapa? Bukannya emang benar?"

"Iya, tapi aku kan malu kalau papa ceritain ke Jayden." Luna menutup sebagian wajahnya yang mulai memerah dengan tangan kanannya.

Jayden yang merasa kebingungan pun akhirnya mengangkat suara, "emangnya kenapa? Kenapa lo harus malu?" tanyanya.

"Benar sayang, kenapa kamu harus malu?" ujar Laras yang ikut bergabung menggoda anaknya.

"Mama..." rengek Luna saat sang mama malah ikut menggodanya, ia kemudian menoleh pada sang papa yang terlihat ingin membuka suaranya, "papa, jangan."

"Kenapa? Lagipula Jayden kelihatannya pengen tahu."  Herman menunjuk Jayden yang memasang raut wajah ingin tahunya.

"Udahlah sayang, nggak apa-apa kok," ujar Laras meyakinkan.

Sedangkan Jayden masih diam ditempatnya sembari menatap percakapan keluarga kecil yang sedang mendebatkannya, "sebenarnya ada apa?" tanyanya kemudian.

Herman menatap Jayden lalu tersenyum kecil, "Luna sering cerita kalau katanya kamu selalu bantu dia di sekolah. Kamu juga ngenalin Luna sama teman-teman kamu, apa itu benar?"

Jayden mengangguk kecil sebagai balasan, "oh, iya om. Aku ngenalin Luna sama teman-teman aku. Aku pikir sekarang kita sudah berteman baik, iya kan?" tanyanya sembari menatap Luna yang dibalas anggukan oleh gadis tersebut.

"Makasih banyak udah bantu Luna bersosialisasi. Berkat kamu sekarang Luna bisa menjalani harinya di sekolah dengan mudah," tutur Herman dengan tulus.

"Ah, enggak kok om. Aku nggak ngelakuin apa-apa, aku cuma bantu Luna sedikit. Selebihnya karena Luna yang berusaha membuka dirinya buat bersosialisasi."

"Tetap aja, itu semua nggak lepas dari bantuan kamu. Jayden, Tante benar-benar berterimakasih. Berkat kamu, sekarang senyum Luna kembali setelah sekian lama menghilang," ujar Laras.

Luna menatap Jayden yang yang memasang senyum kikuknya, membuat ia ikut tersenyum kecil, “benar Jay, makasih banyak udah bantu gue."

"Sama-sama. Lo kan emang temen gue, jadi wajar lah kalau gue nolong lo."

Herman tersenyum kecil melihat pemuda tersebut, sekarang ia tahu kenapa anaknya begitu menyukai Jayden hingga rela kembali ke Indonesia setelah menjalani pengobatannya. Jayden adalah pemuda yang baik, ia membantu orang lain dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun. Dengan begini ia merasa tenang karena anaknya tidak salah menyukai orang.

"Jayden," panggil Herman sekali lagi, membuat pemuda tersebut menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya.

"Om minta tolong buat jaga Luna, ya? Om percayakan Luna sama kamu."

Jayden sempat terdiam mendengar perkataan on Herman. Menjaga Luna? Tentu saja, Luna adalah temannya, jadi ia akan menjaga Luna selayaknya menjaga teman-temannya yang lain.

"Iya om. Aku pasti jaga Luna kok, om nggak perlu khawatir," ujar Jayden dengan mantap tanpa tahu maksud lain dari perkataan tersebut.

.

"Kapan kita sampainya?"

Jayden menolehkan kepalanya ke samping kiri pada sang kekasih yang menatapnya dengan raut wajah bertanya.

"Kita pasti sampai sebentar lagi kok," ujar Jayden lalu kembali menatap jalan raya didepannya.

Bella mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan kekasihnya itu, “lagi? Kamu udah ngomong kayak gitu 15 menit yang lalu, tapi buktinya kita nggak sampai-sampai," ujarnya dengan nada kesal.

Jayden melirik sekilas pada sang kekasih yang memasang wajah kesalnya lalu tersenyum kecil, "itu karena kamu juga nanyain hal yang sama 15 menit yang lalu."

Bella mengantupkan bibirnya rapat-rapat, apa yang dikatakan kekasihnya itu memang benar tapi bukan itu yang ia maksud.

"Sebenarnya kamu mau ngajak aku kemana sih? Kenapa pakai rahasia-rahasiaan segala?"

Bella benar-benar kesal pada Jayden, pasalnya kekasihnya itu datang pagi-pagi ke rumahnya saat dirinya bahkan belum sempat mandi. Lalu setelah ia mandi, kekasihnya itu mengatakan jika ia ingin membawanya ke tempat yang indah, namun ia tak mau memberitahunya kemana tujuannya.

"Kita benar-benar akan sampai sebentar lagi. Percaya sama pacar kamu yang ganteng ini, kamu nggak akan nyesal waktu sampai ditempatnya nanti," ujar Jayden yang berusaha membujuknya sang kekasih yang tengah merajuk itu.

"Oke, terserah. Lakuin apapun yang kamu mau." final Bella. Ia lebih baik menolehkan kepalanya pada jendela menatap pohon-pohon rindang yang ada di pinggir jalan, ini lebih baik daripada harus berbicara pada sang kekasih yang berakhir membuatnya merasa kesal.

To Be Continue.

Sorry for typo(s).

RUWET [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang