2. Akting Jayden yang gagal.

208 18 7
                                        

Bella melebarkan kedua matanya saat Aji, salah satu rekannya memasuki ruang UKS dengan memapah Jayden yang terkulai lesu di lengan kanannya.

"Ya ampun! Jay, kamu kenapa?!" seru Bella dengan raut terkejut yang begitu ketara di wajah ayu nya.

"Katanya sakit perut," sahut Aji, Bella lantas dengan sigap membantu Aji memapah Jayden ke ranjang UKS.

"Bell, jagain pacar lo ya. Gue mau balik ke lapangan lagi, upacaranya belum selesai," tutur Aji.

Bella yang baru kembali mengambil kotak obat pun mengangguk kecil mendengar perkataan rekannya tersebut, "iya, makasih udah mau bantu Jayden."

Aji mengangguk kecil sebagai balasan, ia menepuk pelan bahu Jayden yang berbaring lemas di ranjang UKS.

"Cepat sembuh," ujar Bima Aji pada Jayden yang masih meringis sambil memegang perutnya.

"Yoi, thanks," balas Jayden dengan lirih.

Sepeninggal Aji dari ruang UKS, Jayden langsung mendudukkan tubuhnya dan menyandarkan punggungnya di dinding dengan nyaman, membuat Bella menghentikan pergerakannya memilah obat.

"Kenapa tiba-tiba duduk? Bukannya perut kamu masih sakit?"

Jayden mengerjapkan netranya beberapa kali begitu melihat Bella menaikkan sebelah alisnya. Ia segera kembali berakting kesakitan sembari memegang perutnya.

"Ah! Sakit, sayang tolong aku, perutku sakit!" keluh Jayden yang melebih-lebihkan.

Bella merotasikan kedua matanya melihat aksi konyol Jayden, ia melupakan fakta bahwa kekasihnya ini sangat jahil. Bagaimana bisa kekasihnya itu berpura-pura sakit sedangkan ia sangat mengkhawatirkannya?

"Jay, berhenti."

Jayden mengangkat kepalanya guna menatap sang kekasih yang tengah menatapnya dengan raut wajah masam, apa ini artinya ia ketahuan?

"Kamu pura-pura ya?" tebak Bella tepat sasaran.

Jayden sedikit meringis melihat tatapan tajam yang dilayangkan sang kekasih padanya.

"Nggak, aku nggak pura-pura, aku beneran sakit," elak Jayden.

"Kalau gitu bilang, dimana sakitnya?"

"Disini." Jayden meletakkan sebelah tangannya di dada, membuat Bella semakin kesal dibuatnya.

"Jay, aku serius."

"Aku juga serius, sayang. Aku sakit karena kangen banget sama kamu," ujar Jayden yang berusaha menggoda Bella. Namun bukannya tersipu malu, kekasihnya itu malah memasang raut wajah datar seolah-olah jengah mendengar perkataannya. Atau memang benar?

Bella menghela napas lelah, menghadapi tingkah ajaib Jayden memang membutuhkan tingkat kesabaran yang tinggi.

"Kamu ngomong apa sih? Berhenti main-main, aku beneran khawatir tahu."

Jayden menutup mulutnya mendengar Bella yang mengatakan kalimat tersebut dengan nada serius. Kekasihnya itu memang manis, tapi sangat mengerikan saat marah.

"Iya, maafin aku."

Bella mengangguk kecil sebagai balasan, "jadi, kenapa kamu kesini?" tanyanya kemudian.

"Kan aku tadi udah bilang, sayang. Aku tuh sakit."

Bella menghela napas kasar saat kekasihnya itu kembali mencoba memancing emosinya.

"Jay, aku serius," potong Bella dengan cepat, membuat Jayden terkikik kecil melihatnya.

"Oke, bu Dian dari tadi banyak bicara nggak penting jadi aku pura-pura sakit terus datang kesini buat ketemu sama kamu," jelas Jayden yang tidak sepenuhnya jujur.

Bella memijat pelan kepalanya yang terasa pening akibat tingkah ajaib sang kekasih yang tak ada habisnya. Bagaimana mungkin seseorang kabur dari barisan upacara hanya karena alasan koyol seperti itu?

"Jangan jadiin aku alasan buat kabur dari barisan upacara, padahal alasan yang sebenarnya kamu pengen tidur di sini kan?"

Jayden kembali meringis mendengar penuturan Bella. Bagaimana mungkin kekasihnya itu mengetahui niatnya yang sebenarnya? Astaga, kekasihnya itu terlalu mengenal dirinya.

"Iya kamu bener, aku pengen tidur di sini. Aku capek, aku bahkan nggak punya tenaga lagi buat berdiri, kaki ku mati rasa," rengek Jayden, ia berusaha mengelak fakta yang ada didepan mata.

"Lebay banget deh."

"Tapi aku beneran capek, ayang." kekeuh Jayden tak mau kalah.

"Ya udah, lagian kamu udah ada disini juga. Tidur sana, itu kan yang kamu mau?" ujar Bella yang disambut anggukkan oleh Jayden. Kekasihnya itu langsung berbaring dan merentangkan selimut untuk menutupi tubuhnya dengan suka cita.

Jayden tersenyum ke arah Bella yang juga tengah menatapnya, ia mengedipkan sebelah matanya, "kamu emang yang terbaik."

Bella tersenyum kecil melihat tingkah kekanakan Jayden, kekasihnya ini selalu membuatnya tidak bisa marah berlama-lama padanya.

"Oh iya, aku hampir lupa!"

"Ada apa?" Bella menatap penuh tanya pada kekasihnya yang tiba-tiba saja berseru.

"Jam istirahat nanti kita nggak bisa makan siang bareng, aku ada rapat sama anggota klub musik," tutur Jayden yang membuat Bella menganggukkan kepalanya.

"Nggak apa-apa, aku bisa makan siang sama temen aku. Mendingan kamu tidur aja, kalau udah bel nanti aku bangunin."

"Oke, i love you."

Bella menaikkan sebelah alisnya mendengar kalimat random yang diucapkan Jayden.

"Nggak mau jawab?"

Untuk kesekian kalinya Bella menghela napas, kekasihnya ini selalu bisa membuatnya tak berkutik dengan kalimatnya.

"Yes, i love you too." final Bella.

"Puas?" sambung Bella.

Jayden terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Bella yang terus berubah-ubah sejak berbicara dengannya.

"Puas dong."

"Udah ah, tidur sana," ujar Bella lalu melangkah kakinya menjauhi ranjang Jayden. Ia kembali mendudukkan dirinya di tempat sebelum Jayden datang, dari sini ia bisa melihat sang kekasih yang mulai memejamkan matanya.

Terkadang Jayden memang kerap kali bertingkah aneh, dia selalu bisa membuat emosinya berubah-ubah setiap waktu. Namun karena sifat anehnya itu juga yang membuat Bella sangat mencintainya.

Tentu saja, karena Jayden adalah kekasihnya.

Tentu saja, karena Jayden adalah kekasihnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

To Be Continue.

Sorry for typo(s).

RUWET [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang