38

34 4 0
                                        

Seorang gadis menaruh sebuket bunga mawar merah pada meja disamping brankar rumah sakit. Ada seorang gadis yang seusianya juga yang tengah terbaring disana, mata gadis itu mulai berkaca-kaca memandang wajah damai temannya yang tetap pada posisinya, terlelap.

"I miss you so much. " Setelah meletakan bunga gadis itu pun keluar dari sana.

"Gimana?" Tanya seorang lelaki didepan pintu, berdiri dengan wajah kusutnya.

"Gak ada perubahan, tetap sama." Jawab sang gadis.

Lelaki itu menghela napas kasar dan mengacak rambutnya lalu pergi dari sana, diikuti sang gadis.
••

Tiga bulan kemudian...

"MAHESA DIRGANTARA!!! LARI KELILING LAPANGAN SEPULUH PUTARAN." Teriak melengking seorang guru muda yang kita tahu bernama Bu Kinan.

"Tar putar diwajah, bilas multivitamin." Seru Deon.

"Tetetetew..." Timpal Jaff.

Dirga tengah berjalan dengan santai di koridor kelas 12 , sedangkan dua monyet aka Deon dan Jaff tengah mengintip dari balik jendela kelas.

Sudah tiga bulan lamanya setelah kejadian itu. Mereka kini sudah memasuki bulan kedua duduk dibangku kelas 12.

Bruk

Terlemparnya sebuah tas ditubuh Deon membuat dia yang tengah bergelayut di tiang jendela pun terlonjak kaget.

"Anjing!" Umpatnya.

"Telat lagi lo?" Tanya Arjuna pada seseorang yang baru melemparkan tas kearah Deon.

Dirga mengangguk lalu kembali berjalan keluar kelas memenuhi perintah Bu Kinan.

Setelah selesai menjalankan hukuman dari Bu Kinan lelaki yang berstatus sebagai ketua dark itu berjalan dengan santai kearah kantin. Teman-teman nya mungkin sudah pada disana.

Bruk!

Seorang lelaki menabrak tubuh tegap Dirga, bukannya Dirga yang terjengkang tapi lelaki itu malah jatuh tersungkur.

"Ma-aaf Kak.." Cicit lelaki yang sudah tersungkur dilantai, terlihat badge bertuliskan angka 10 yang artinya dia siswa baru.

Dia belum tau siapa Dirga, heh?

Bugh!

"Mata digunakan untuk melihat!" Ujar Dirga sambil terus menonjok wajah lelaki itu.

Bugh!

Lelaki itu tak melawan seakan pasrah akan apa yang tengah terjadi padanya, sementara disekelilingnya sudah dipenuhi anak-anak MP yang hanya menyaksikan kejadian ini.

Tak ada yang berani melerai apalagi menolong lelaki yang sudah terkapar dilantai akibat ulah Dirga itu.

Dirga membenarkan letak kerahnya yang sedikit compang. Ia menatap tajam sekelilingnya membuat siswa-siswi yang tadi menonton perkelahiannya jadi kembali melakukan aktivasi seolah tak terjadi apa-apa.

Kembali, Dirga berjalan kearah kantin dengan dua tangan yang ia masukan dalam saku celananya. Baju yang tak dimasukan dan dasi yang entah berada dimana menambah kesan cool dalam dirinya.

"Mana pesenan gue?" Tanya Dirga setelah ia mendudukkan bokongnya dibangku kantin dimana terdapat teman-temannya disana.

"Nih." Deon menyodorkan satu mangkuk bakso tanpa sayur.

Bukan, bukan karena Dirga tak suka sayur tapi jika ia memakan makanan tanpa sayur rasanya ia seperti menemukan kepingan dirinya yang hilang.

Suasana meja tempat Dirga makan tampak hening seolah tak ada yang berniat membuka obrolan. Deon si makhluk paling pecicilan kini pun tampak diam, tak ada lagi senda gurau yang menyelingi setiap makan mereka.

Dirgantara ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang