Viona memandang lurus tepat kearah halte, terlihat Jei disana, duduk sendirian ditengah ramainya siswa-siswi berlalu lalang.
Viona melangkahkan kakinya kearah Jei, mendekat dan kini ia sudah berdiri disampingnya. Viona mengeluarkan satu buah hansaplast kehadapan Jei, membuat Jei mau tak mau menoleh kearahnya.
"Luka lo." Ujar Viona sambil terus menyodorkan hansaplast yang belum juga di gubris oleh Jei, terlihat dahi Jei yang sedikit terluka akibat berkelahi dengan Sera tadi.
Belum sempat Jei membuka suara Dirga datang dari arah belakang Viona dan langsung menarik pergelangan tangannya, membuat hansaplast itu jatuh kebawah.
"Eh! " Pekik Viona karena pergerakan tiba-tiba dari Dirga.
"Ayok pulang, jangan ngebaikin orang yang gak tau dibaikin." Ujar Dirga datar lalu menarik Viona agar berlalu dari sana.
Jei menatap datar perginya dua sejoli itu, ia menghela napas kasar, berjongkok lalu memungut hansaplast yang terjatuh didekatnya.
"Thanks Vi." Ucapnya pelan lalu memakaikan hansaplast pemberian Viona tadi pada luka di dahinya.
••
"Dirga. Dirga! Ihh berenti dulu." Viona terus meronta dari cekalan tangan besar Dirga, sesampainya mereka didepan motor Dirga baru lelaki itu melepaskan cekalannya.
"Ih sakit tau!" Dirga lantas mengelus lembut pergelangan tangan kekasihnya itu.
"Kita pulang, aku ada urusan di markas." Ucap Dirga lalu memakaikan helm ke kepala kekasihnya.
"Hm." Gumam Viona, gadis itu lantas naik ke motor sang kekasih dan melingkarkan tangannya pada perut sang kekasih, membuat senyum tipis tampak dibalik helm fullface Dirga.
Dirga pun mulai menjalankan motornya berlalu dari MP, selama perjalanan keheningan melanda mereka tak ada satupun yang mau membuka obrolan, Viona tampak menyenderkan kepalanya pada punggung Dirga.
Citt..
Viona menegakan tubuhnya kala motor Dirga tampak mengerem mendadak.
"Sial!" Umpat Dirga dan turun dari motor.
"Kamu tetep disitu Vi." Perintahnya pada Viona yang diangguki oleh gadis itu, terlihat beberapa orang memakai pakaian sekolah yang dilapisi jaket kulit hitam bertuliskan Morir.
"Hai Dirga." Sapa si ketua geng, Allan.
"Apa kabar? Wow lagi mau kencan ya sama pacar." Ledek Allan menatap singkat dan tersenyum manis kearah Viona.
"Lo banci? Beraninya keroyokan, heh?!" Dirga berdecih, ia tampak menengok kearah Viona sebentar sebelum ia kembali berpandangan dengan sepupunya, Allan.
"Shit! Jangan bikin gue marah Dirgaa!!" Allan berujar dengan keras, terlihat wajahnya yang memerah menahan amarah. Dirga lantas tersenyum miring menampilkan smirk nya.
"Langsung aja boss." Ucap salah seorang yang bersama Allan. Allan tampak menaikan tangannya tanda nanti dulu.
"Cewek lo cantik juga." Allan mengelus dagunya sambil memandang Viona yang tengah memeluk tasnya di dekat motor Dirga. Posisi mereka berada beberapa meter dihadapan Viona.
"Anjing!" Umpat Dirga lalu meludah kearah samping.
"Gak usah ngebawa-bawa cewek gue dalam urusan kita!" Ujar Dirga, Allan tampak terkekeh dan memandang remeh kearahnya.
Allan menampilkan gestur tubuh agar orang-orang yang bersamanya mulai menghajar Dirga.
Lantas Dirga pun membalas pukulan telak dari anggota Morir lainnya yang menyerangnya. Terjadilah perkelahian tak terhindar antar lima orang dengan satu orang, Allan tampak tersenyum sambil duduk diatas motornya dan memandang Dirga yang tengah baku hantam dengan anggotanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dirgantara ✔
Fiksi Remaja[ PART AWAL MEMANG TIDAK JELAS KARENA SAYA BELUM MENGERTI BAHASA KEPENULISAN, SILAHKAN BACA HINGGA PART AKHIR ] "Jika harus melepasmu, aku ingin melepasmu baik-baik. Seperti awan yang melepas hujan." 🚫 cover edit by me 🚫 cerita tidak jelas 🚫 baha...
