Satu jam telah berlalu, masih ada waktu 30 menit lagi untuk Ara menyelesaikan hukumannya. Berdiri sendirian di lapangan sambil membawa buku, sungguh memalukan.
Keringat terus saja menetes di dahinya, membuat ia sedikit kehausan. Namun masih seperti tadi, ia harus kuat bagaimana pun ini ada kesalahan yang ia buat sendiri.
Tak terasa bel istirahat berbunyi, tanda ia sudah menyelesaikan hukumannya. Ara langsung saja mengambrukan badannya di lapangan lalu duduk selonjor sambil mengusap keringat yang bercucuran dengan menggunakan tangannya.
"Gila panas banget, kaya mau kebakar tubuh gue" gumam ara.
Seseorang menghampirinya lalu duduk di sebelah ara.
"Ara?" Ara pun menoleh ke arah asal suara itu.
"Kenapa?" Ara berdiri lalu berjalan ke tepi lapangan dan duduk di kursi dekat lapangan. Chika pun mengikuti langkah ara dan berdiri di hadapan ara.
"Ngapain lo disitu diem ngeliatin gue? Gue tau gue cantik tapi ga gitu juga kali ngeliatin nya" ucap ara dengan pedenya.
Respon chika? Ia langsung mengangguk sambil nyengir.
"Ara emang cantik, makanya chika suka sama ara" ucap chika. Ara terkekeh melihat tingkah chika.
"Yaudah sini duduk jangan berdiri mulu ntar cape" ucap Ara sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. chika langsung menurutinya dan duduk di sebelah ara.
"Chika mau nanya boleh?"
"Mau nanya apa?"
"Ara suka ya sama chika?"
"Kok lo bisa bikin opini seperti itu? apa gara gara tulisan yang ada di buku gue itu?" Ucap ara.
"Iya"
"Itu cuman tulisan chika, tadi juga gue ga sengaja nulisnya. cuman gara gara oniel sama adel yang berisik jadi ketahuan"
"Apa susahnya si ra tinggal jujur, coba sekarang Ara bilang ke chika"
"Bilang apa?"
"Bilang gini, ara suka sama chika"
"Ga mau, emang gue suka sama lo?" Wajah Ara terlihat memerah.
"Suka'' Ara terdiam sejenak, ia juga masih bimbang dengan hatinya apakah ia suka dengan chika atau tidak.
Lantaran terkadang ia tidak mau jika jauh dari chika, tapi terkadang juga ia risih jika chika terlalu posesif terhadap dirinya. Yang ia tahu ia nyaman jika berada di dekat chika begitupun sebaliknya.
"Berduaan terus di lihat-lihat" ucap oniel berhasil buat ara dan chika terkejut.
"Lama banget si kesini nya" ucap Ara kesal.
"Ya maaf kita lupa kalau temen kita ada yang di hukum gara-gara-" ucap adel.
"Diem lo del, ini gue di hukum juga gara-gara lo" ara memotong pembicaraan Adel.
"Belum juga selesai gue ngomong main potong aja lo ra"
"Jadi gimana ra?" Tanya chika.
"Gimana apanya?"
"Tadi ara kan bilang suka sama chika" mendengar ucapan chika, Ara membulatkan matanya. Kapan dirinya bilang suka ke chika? apa yang sedang gadis itu pikirkan sehingga berbicara seperti itu di hadapan ke tiga temannya.
"Kapan gue ngomong kalau ara suka sama Chika?"
"Nah itu barusan ara bilang kan?" Ucap chika sambil mengulas senyumnya.
"Coba tampar gue sekarang gue pasti mimpi kan"
Plakkkkk Adel menampar pipi ara dengan keras, seperti ada dendam tersendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA HADIR KEMBALI
De TodoHari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun ia tidak pernah lagi mendengar kabarnya, Dia yang slalu ia tunggu. Bagaimana jika Dia hadir kembali dalam hidupmu?
