35 | Keresahan Fabian

304 17 0
                                        

"Anela?" panggil Fabian yang sudah setia didalam mobil nya dengan dua kaca jendela di kursi depan yang dibuka penuh.

Anela yang tadinya akan pergi bersama Ayah nya jadi menolehkan kepalanya menatap Fabian kebingungan. Ia jadi penasaran mengapa Fabian bisa kembali baik kepada dirinya secepat itu.

"Kenapa?" balas Anela mencoba tenang menghadapi lelaki di hadapannya ini. "Pergi bareng? ayo," ajaknya.

Tadinya Anela ingin menolak ajakan itu, namun Ayah Anela malah tersenyum lebar melihat sikap Fabian yang perhatian dan menyuruh anaknya itu untuk pergi saja bersama Fabian ke sekolah.

"Hati-hati ya Fabian! Kalau lecet sedikit mobil kamu om lecetin juga!" teriak Ayah Anela dengan nada serius padahal itu hanyalah perkataan becanda saja. Fabian membalas nya dengan gerakkan ibu jari ke atas ke arah Ayah Anela.

Akhirnya Anela masuk kedalam mobil lelaki itu dan menaikkan kaca jendela nya tanpa menatap ke arah Fabian lagi. Gadis itu merasa kesal dan gengsi jika harus lebih dulu mendekatkan dirinya kepada Fabian lagi.

"Maaf lagi La, kemarin gue pusing banget." jelas Fabian sembari melajukan mobilnya pergi menuju arah sekolah.

Anela menganggukkan kepalanya singkat, ia kemudian menyalakkan radio mobil yang sedang membahas suasana pagi kota Bandung. Fabian juga hanya terdiam, mereka saling terdiam menatap lancar nya perjalanan.

Seperti biasanya, Anela akan turun di pintu belakang sekolah. "Hati hati," ucap Fabian dengan kata kata perhatiannya. Anela tersenyum tipis ke arah lelaki itu lalu membenarkan rambutnya yang tadi diusap oleh Fabian.

Mobil lelaki itu sudah pergi meninggalkan Anela sendirian disana. Kebiasaan yang memang selalu membuat Anela kesal dan marah namun selalu ia ingin lakukkan. Ya, Anela belum bisa melupakkan Fabian.


•••


Tanpa sengaja, Fabian melihat Daren yang sepertinya sedang melakukkan panggilan dengan seseorang di ponsel nya. Namun yang membuat Fabian penasaran adalah karena wajah lelaki itu yang menunjukkan wajah penuh kebahagiaan.

Dengan sengaja, Fabian berjalan di hadapan Daren dengan jarak yang diperdekat sehingga ia bisa sedikit mendengar apa yang lelaki itu katakkan.

'Iya, nanti ya sayang,'

Kalimat itu membuat Fabian kebingungan, bukankah Daren menyukai Anela? Mengapa ada kata 'sayang' dalam panggilannya.

Emosi dan rasa kecewa mulai bermunculan dalam diri Fabian, lelaki itu tidak bisa langsung menanyakkan semuanya pada Daren langsung, tentu saja karena gengsi. Lelaki itu langsung saja berjalan menuju kelas Anela namun tak menemukkan keberadaannya.

Saat Fabian akan melewati gudang sebelum ke ruangan jurnal, ia akhirnya bertemu dengan Anela. Dengan gerakkan cepat, Fabian menarik Anela ke lorong gudang itu yang membuat Anela mengerutkan keningnya keheranan.

"Fabian?"

"Nanti ketahuan loh Bi?" omel Anela dengan nada yang sengaja gadis itu pelankan agar tak didengar oleh orang orang disekitarnya walaupun suasana disana sangatlah sepi.

"Gak apa apa," jawabnya dengan wajah yang mulai tenang sembari memberikkan senyuman manis yang selalu menjadi candu bagi Anela.

Anela menatap bertanya ke arah Fabian, "Ada apa?"

Fabian hanya terdiam, ia jadi kebingungan. Tubuhnya seakan bergerak sendiri mencari Anela dan ingin memberitahukkan segala hal itu kepada Anela, padahal ia sendiri belum tahu kebenaran dan dampak yang akan terjadi tentang hal ini.

Hidden LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang