Suasana ceria dan tak sabar dari para murid Galaxy High School semakin terasa. Acara pensi sudah tinggal satu bulan lagi akan terlaksana. Satu sekolah sedang sibuk membantu keperluan pensi ini yang di bimbing oleh para panitia dan ketua OSIS yang lainnya.
Reynald sudah kembali ke sekolah, lelaki itu juga sudah mulai berlatih untuk tampil di pensi awal yang di khusus kan untuk sekolah mereka saja. Kedekatan Anela dan Reynald semakin meningkat, dimulai dari pulang bersama, belajar bersama, dan terkadang bermain bersama.
Sahabat mereka yang lainnya juga merasa senang dengan kedekatan keduanya, termasuk Daren dan Fabian. Mereka cukup senang ketika melihat kedua sahabatnya yang bisa dibilang sulit untuk mempelajari apa itu cinta, kini malah saling merasakkan nya bersama.
Anela kini sedang bersama Daren saja. Raphael sedang sibuk berlatih dan Vania yang dijadikkan panitia acara pilihan oleh OSIS. Awalnya gadis itu merengek malas mengikuti nya, namun ternyata kedua orang tua Vania memaksa gadis itu untuk mengikuti nya agar Vania tidak menjadi anak yang malas-malasan mulai hari itu.
"La, lo gak akan pergi juga kan?" tanya Daren yang takut ditinggalkan Anela karena para teman-teman dekat lainnya sedang sibuk mempersiapkan acara. Anela tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Enggak, yang lainnya udah dikerjain kok. Kata ketua nya sih santai aja."
"Kalau ada acara dadakan, jangan tinggalin gue. Anjir gue sendirian mulu deh La!" kesal Daren sembari meminum jus jeruk miliknya.
Jam kosong kini agak terus terjadi. Mungkin karena semua murid dan guru sedang sibuk mempersiapkan semuanya. Tak lama, Vania tiba-tiba datang menghampiri mereka dan meminum habis jus jeruk milik Daren.
"Lah! Jangan di habisin juga kali Van." Daren menatap gadis itu tak percaya sekaligus kesal, ia kemudian menghela nafasnya kasar lalu menatap Anela dengan tatapan lesu nya.
"Nih, punya gue." ucap Anela sembari memberikkan jus jeruk miliknya yang langsung membuat Daren tersenyum kembali.
Vania menghela nafasnya panjang. "Gue gak sanggup deh kayanya La! Nyerah!" ucapnya.
"Tadi panitia banyak yang berantem urusan dana, katanya ada yang kelupaan. Aneh kan La?! Kalau gue bilang pake duit punya gue aja, pasti mereka ngamuk kan? Tapi kalau gue diem mereka juga ngamuk kan?" tanya Vania dengan polos nya sembari memberikkan wajah kelelahan.
Anela mengusap punggung gadis itu perlahan, "Ya iyalah. Sabar, pasti ada komunikasi yang gak tepat. Selalu kaya gitu kan kalau diskusi? Pasti ada perbedaan pendapat. Ntar juga nemu solusi nya kok."
Gadis itu lagi-lagi menghela nafasnya panjang. "Gue ke ruangan lagi ya La, dadah." Anela melambaikan tangannya sembari melihat gadis itu pergi dari hadapannya.
Daren yang sedari tadi hanya diam kembali terdiam. Minumnya dihabiskan oleh Vania, tak dianggap ada, dan yang terakhir ia juga diabaikan. Karena sudah kesal dengan keadaan sekolah yang sekarang, ia memutuskan untuk ikut menyibukkan dirinya.
"Tugas gue sebagai siswa udah selesai La, sekarang gue mau futsal aja, bosen gue lama-lama."
Anela menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangannya sebagai tanda ia menyemangati lekaki itu dari sana. Di kantin, kini tinggal tersisa dirinya saja. Sudah biasa.
Entah ini kebetulan atau emang takdir, Reynald baru saja memasuki kantin lalu membeli satu botol air mineral dan duduk dihadapan Anela. "Lo dari tadi sendirian La?" tanya nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Tienerfictie[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
