Haiiiii
Part ini adalah part perdamaian perdamaiannn~~
————————————-———————————-
"Bunda, Anela nya ada?" tanya Fabian kepada Bunda Anela yang sibuk memasak di dapur.
Bunda Anela cukup terkejut, karena yang ia tahu keduanya sudah saling menjauh karena memiliki sebuah masalah yang ia sama sekali tidak tahu apa itu. Dengan perasaan penuh harap, Bunda Anela menganggukkan kepalanya dan menunjuk ke arah kamar anaknya itu.
Fabian tersenyum ramah lalu izin untuk pergi ke kamar Anela. Ia lebih dulu mengetuk pintunya dengan perlahan dan jantung yang berdegup kencang.
"Apa Bun?!" teriak Anela yang mengira jika Fabian adalah Bunda nya. Ia senang mendengar suara gadis itu lagi, ia harap jika perjuangannya sekarang bisa menghasilkan sesuatu yang membantunya kembali dekat dengan Anela.
"Ini Fabian," jawab Fabian sendiri agar Anela mengetahui jika dirinyalah yang berada di depan pintu sekarang.
Di sisi Anela, ia tentu sangat terkejut. Setelah rumit nya permasalahan yang terjadi antara dia dan Fabian membuat gadis itu sedikit ketakutan untuk mulai bertemu atau bahkan berbicara lagi dengan Fabian.
Dengan langkah pelan, Anela berjalan ke arah pintu kamarnya. Sebelum ia membuka pintu, ia lebih dulu menghela nafasnya panjang untuk menetralkan rasa gugupnya.
Kini, di hadapannya sudah berdiri lelaki yang sangat ia rindukkan dan belum sepenuhnya ia lupakkan. Namun Anela sudah memutuskan jika ia akan tetap melupakkan rasanya pada Fabian karena kini ia malah lebih menyukai seseorang yang juga sedang mulai ia jauhi.
"Hai?" sapa Fabian dengan nada canggung nya dan senyuman tipis yang terlihat di wajah lelaki itu. Anela juga membalas senyuman tipis itu dan mempersilahkan Fabian masuk kedalam kamarnya.
Keduanya terduduk di karpet putih yang ada di samping bawah ranjang Anela. "Maaf," ucap Fabian pada akhirnya.
Anela terdiam, rasa sakit hati oleh lelaki itu masih terasa, namun keinginan untuk terus bersama juga masih sangat terasa. Kini ia diposisikkan dalam sebuah tempat yang tidak bisa ia pilih dengan cepat.
"Gue tau kalau gue gak pantes ngomong ini sama lo, tapi gue beneran minta maaf lo. Can we go back to how we used to be? So friends who keep sharing stories with each other? Gue kangen La." ucapnya.
Gadis itu melihat ketulusan di mata Fabian, ia juga rindu dengan segala kenangan yang pernah mereka alami berdua. Anela menghela nafasnya panjang, ia kemudian menatap ke arah Fabian.
"Tapi lo udah keterlaluan Bi," ucapnya. Fabian sudah pasrah sekarang, ia paling tidak bisa memaksa Anela, lelaki itu tidak ingin memaksa keinginan Anela.
"Gue juga kangen, sama kita yang dulu. Ayo, jadi sahabat kaya dulu lagi? Tapi gue gak bisa deket sama lo lagi kalau kita punya masalah yang sama kaya kemarin, gue takut." ucap Anela.
Fabian tersenyum lebar, ia langsung memeluk sahabat nya itu erat. "Gue seneng, makasih La." ucapnya yang membuat Anela juga tersenyum sangat lebar.
Rasanya tidak ada yang berbeda, mereka bagaikan kembali ke suasana pertemanan yang selalu menemani mereka sedari kecil. Anela menyenderkan tubuhnya di sisi ranjang sembari menatap Fabian yang mulai memakkan cemilan miliknya.
"Gimana? Udah move on dari gue La?" tanya nya dengan nada jahil dan wajah yang sangat mengesalkan untuk Anela lihat.
"UDAH!" bentak nya kesal. Fabian tertawa melihat nya, ia kemudian menghela nafas nya panjang. "Banyak hal yang kita belum ceritain satu sama lain ya La? Gue jadi kangen cerita sama lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
