Seluruh keluarga Purnawarman kini telah berkumpul di rumah keluarga Reynald. Terlihat dari masing-masing wajah yang kebingungan kecuali Reynald, Mamih nya, dan Neneknya.
Melisa sudah mulai gugup, ia merasakan sesuatu yang akan berakhir tidak baik hari ini. "Saya kumpulin kalian disini karena ada yang mau dibahas." ucapnya kepada seluruh keluarga itu.
"Perusahaan akan di turunkan ke Reynald saat dia sudah lulus, itu tidak bisa diubah, sudah keputusan tepat." Reynald menundukkan kepalanya yang langsung di elus perlahan oleh Mamihnya.
"Untuk Melisa, saya tidak setuju. Dia tidak se-pintar Reynald, tidak se-dewasa Reynald, masih banyak yang kurang. Kamu kuliah saja dulu." ucapnya yang sudah seperti kalimat perintah dari Neneknya itu.
Melisa menghela nafasnya panjang dan menatap penuh kesedihan ke arah Papih nya itu. "Mah tapi-"
"Gak bisa dibantah, ini sudah keputusan terbaik. Belajar yang lebih lagi biar kamu pantas ada disana." ucapnya setelah memotonh ucapan Papih Melisa tadi.
"Jangan ikuti Reynald lagi. Dia butuh waktu belajar untuk dirinya sendiri, bukan ingin membantu kamu belajar. Tolong hargai anak saya,"ucap Mamih Reynald kepada Melisa yang membuat tatapan tidak setuju keluar dari kedua orang tua Melisa.
"Kak? Ada apa sih ini?!" Papih Melisa benar-benar kebingungan dan dibuat kesal sekaligus atas hal ini. Ia benar benar tidak mengerti.
"Jauhin anak kamu dari anak aku, Reynald capek kalau harus jagain anak kamu dan fokus belajar." ucapnya.
Papih Melisa menghela nafasnya panjang, "Iya aku tau Kak, tapi kenapa harus menjauh? Kan bisa belajar bareng juga? Bisa tambah dekat sebagai keluarga kan?"
"Tidak," ucap Nenek Reynald lagi yang membuat tatapan kebingungan terus bermunculan.
"Melisa bukannya membantu tetapi dia mengganggu,"
"Mah? Anak aku ganggu apa?" tanya Mamih Melisa yang mulai tak terima jika anaknya harus di sudutkan seperti ini.
"Aku tau anak aku bukan asli darah keluarga ini, tapi Melisa masih bisa belajar sampai ke tingkatan keluarga ini. Mah, Melisa bisa jadi sederajat sama keluarga ini."
"Bukan soal itu Kinara." ucap Nenek nya yang mulai merasa tak suka dengan Mamih Melisa itu karena terlihat jika dirinya menyudutkan Melisa karena bukan anak darah asli keluarga Purnawarman.
"Terus apa Mah?" tanya nya dengan nada yang masih dipenuhi rasa tak terima. Mamih Melisa mulai menundukkan kepalanya dan menghela nafasnya panjang.
Suasana seketika sepi, Papih dan Kakek Reynald paling tidak suka jika membahas sesuatu dengan dipenuhi berbagai emosi seperti saat ini, mereka memilih diam dan mencerna nya perlahan.
Kakek Reynald mulai menghela nafasnya, "Reynald, kamu masih mau ikutin apa yang diminta keluarga ini? Belajar jadi penerus walau kamu masih muda? Berkuliah sambil bekerja dengan giat? Sanggup?" tanya nya.
Reynald menghela nafasnya pelan, ia kemudian menganggukkan kepala nya perlahan dan tersenyum tipis ke arah Kakek nya.
"Melisa, kamu bisa belajar cepat? Kamu yakin mau langsung berkerja seperti Reynald? kamu siap?" tanya Kakek nya dengan nada bertanya dan tatapan yang meragukan.
Melisa menganggukkan kepala nya cepat, ia tidak ingin dipisahkan dengan Reynald, bagi nya Reynald adalah sesuatu yang membuatnya bisa senang hingga sekarang. "Baik,"
"Melisa pakai guru baru, ruangan berbeda dengan Reynald, adil bukan?" ucapnya.
Gadis itu mulai khawatir, takut jika nantinya ia tidak akan bertemu dengan Reynald lagi. "Tap-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
