3 | Keinginan Anela

447 15 0
                                        

"ANELA!" teriak Fabian yang sudah setia berada di ruang tengah rumahnya dengan piyama hitam yang masih digunakkan oleh lelaki itu.

Anela dengan terpaksa bangun dari tidur santai nya lalu berjalan keluar kamar untuk melihat apa yang sedang dilakukkan oleh sahabat kecil nya itu.

Hari ini adalah hari libur, biasanya Anela dan Fabian selalu bermain bersama. Entah itu berkeliling kota, main playstation Fabian, atau mungkin menonton film dan yang lainnya.

"Apa?!" teriak Anela membalas teriakkan Fabian tadi. "Pagi-pagi udah teriak! Ganggu aja!"

"Pagi-pagi udah saut-sautan kaya monyet ngobrol aja!" omel Bunda Anela sembari membawa satu piring besar berisi mie goreng khas rumahan kesukaan Fabian.

Tak lama, datanglah Bunda Fabian dengan satu piring besar berisi ayam goreng di kedua tangannya. "Sini makan," ajak Bunda Fabian dengan senyuman nya ke arah Anela.

Anela menghampiri Fabian dan berdiri disamping lelaki itu. "Kenapa masih diem?" tanya Anela ke arah Fabian.

"La, kayanya gue tau deh kenapa Bunda lo nyebut kita kaya monyet. Kita kan emang monyet waktu dulunya, pas zaman purba. Lo gak bego kan La?" ucap Fabian dengan wajah polos nya yang membuat Anela menghela nafasnya panjang karena lelah dengan sikap lelaki itu.

"Iya sih pinter, dapet beasiswa sekolah mahal lagi. Tapi otaknya kadang suka eror," ejek Anela ke arah Fabian sembari memberikkan gerakkan tangan yang mengatakkan jika Fabian 'bodoh' secara tidak langsung.

Fabian menghela nafasnya kesal lalu mengejar Anela, dan terjadilah keributan kedua di awal hari libur ini. Setelah mereka merasa lelah dan berhasil di omeli oleh Bunda Fabian, mereka akhirnya duduk di meja makan rumah Anela sembari membawa piring kosong mereka masing-masing.

"Bun, Papah mana?" tanya Fabian ke arah Bunda nya. "Udah pergi kerja lah, ngapain tanya?" omel nya lagi yang membuat Anela menertawakkan Fabian dalam diam.

"Basa-basi aja kali Bund, serius amat," Fabian mengalihkan pandangannya kearah lain karena kesal dengan jawaban Bunda nya.

Anela yang melihat hal itu semakin tertawa kencang, ia langsung saja mengambil mie goreng kesukaan Fabian lalu ditaruh dipiring nya dalam jumlah yang banyak. Piring itu lalu diberikkan ke arah Fabian dan Fabian memberikkan Anela piring nya yang ternyata sudah diisi sedikit mie goreng juga oleh Fabian.

Kebiasaan sejak kecil mereka adalah bertukar makanan, Anela yang menyiapka untuk Fabian, dan Fabian yang menyiapkannya untuk Anela. Entahlah, mereka menyadari semua hal itu saat mereka sudah ada di umur remaja, ingin berhenti tetapi tetap terus dilakukkan.

Fabian mengambil ayam goreng bagian sayap lalu diberikkan nya kepada Anela, ia mengambil lagi ayam goreng bagian dada untuk dirinya sendiri. Mereka pun mulai memakkan makanan nya masing masing dalam keadaan sepi karena memang tak baik jika makan sembari berbicara.

Setelah selesai melahap makanan mereka, Anela dan Fabian masih terdiam di meja makan sedangkan kedua Bunda mereka sedang berada di taman, membahas tanaman yang baru dibeli oleh Bunda Fabian.

Kedua sahabat kecil itu masih sibuk dengan ponsel mereka masing-masing, Anela dengan game di ponsel nya dan Fabian dengan salah satu pesan dari pujaan hatinya.

"La, kayanya gue mau nembak Melisa deh," jelas saja ucapan itu membuat napas Anela terdiam seketika dan jantungnya berdegup sangat kencang.

Hidden LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang