"Gue inget banget waktu lo marah gara-gara ada yang minta nomor gue, padahal kan buat lomba barengan." ucap Anela sembari tertawa mengingat kejadian kejadian di masa lalunya bersama dengan Fabian saat itu.
Fabian merespon ucapan Anela dengan tertawa juga, ia merasa sangat marah saat itu. Ia kira lelaki yang meminta nomor kepada Anela itu memang berniat untuk mendekati Anela namun ternyata salah. Fabian hanya belum siap jika Anela harus mengenal cinta pada saat itu.
"Ya lagian, dia minta pake gugup segala. Kan gue jadi salah paham La," balas Fabian dengan tawaan yang masih belum selesai juga.
"Lo nya aja yang sensi," ucap Anela sembari mendorong pelan bahu lekaki itu. "Kalau inget-inget masa lalu suka ngerasa geli sendiri ya La, tapi gue kangen."
Anela menganggukkan kepalanya, "Gue kaya pengen ngulang lagi dan gak mau ngelakuin hal-hal yang bikin malu saat gue inget sekarang." ucap Anela yang langsung disetujui oleh Fabian.
"Kangen gue waktu nangis gara-gara lo habisin ayam gue, lo yang nangis gara-gara pasta nya jatoh, cerita tentang gue dapet gitar pertama gue, banyak banget yang pengen gue ulang."
"Rasa nya waktu itu bahagia banget, sekarang udah ngerti banyak hal yang bikin gue malah tambah susah buat bahagia." Anela menaruh kepalanya di bahu lelaki itu. Memberikkan rasa semangat juga ketenagan secara tidak langsung.
Masa lalu mereka sangat dipenuhi dengan kebahagiaan, jarang sekali ada yang namanya pertengkaran dalam waktu lama, rasa sedih dan sakit karena orang-orang, dan yang lainnya. Dulu, mereka kira kehidupan dewasa akan sangat menyenangkan karena mereka bisa lebih mempelajari kehidupan yang lebih luas lagi, namun ternyata saat mereka akan menginjakkan kakinya di kedewasaan ini mereka langsung diserang ole banyaknya rasa sakit dan pemikiran mereka dalam kehidupan.
Ternyata, kehidupan menuju dewasa tidak semudah dengan apa yang selalu keduanya dengar. Mereka lebih ingin terus menjadi muda, tetapi tentu saja itu semua tidak akan pernah terjadi, mereka tidak akan bisa belajar jika terus mengharapkan hal itu.
"Bi, makasih, lo udah jagain gue, bahkan sampai lo ngerasa berat banget. Gue terlalu egois, maaf." ucap Anela yang masih menyenderkan kepalanya pada bahu lelaki itu.
Fabian yang mendengar hal itupun langsung saja mengelus kepala Anela perlahan. "Its okay La, gue terlalu muda aja buat ngerti hal itu semua. Gue seneng kok jagain lo, temenin lo cerita, apalagi bakal terus teringat dalam ingatan lo."
"La, lo kaya adik gue banget. Gue gak mungkin bisa biarin lo gitu aja, gue selalu pengen jagain lo, temenin lo, dan yang lainnya. Gue juga minta maaf kalau gue terlalu kaya bocah buat selesai in masalah kita, terlalu egois dan keras kepala. Jangan pernah ngerasa bersalah lagi ya La." ucapnya.
Anela kini menatap wajah Fabian dengan tatapan penuh nya, Fabian juga menatap ke arah gadis itu. Tiba-tiba saja Anela langsung memeluk lelaki itu dengan erat nya. "Makasih karena lo masih mau jadi temen gue sampai saat ini."
"Kayanya kalau lo gak minta maaf duluan waktu itu, kita mungkin gak bakalan jadi kaya gini lagi Bi, gue bakalan nyesel banget pasti." ucap Anela yang masih memeluk lelaki itu erat.
Fabian tertawa gemas, ia mengusap punggung Anela agar gadis itu bisa lebih tenang dan nyaman. "Makasih juga karena lo udah mau maafin gue La, kalau enggak maafin, mungkin gue udah nyerah dan berakhir dengan menyesal juga."
"Jangan sampai pisah?" ucap Anela sembari melepaskan pelukannya lalu mengangkat satu jari kelingking nya ke arah Fabian.
Fabian membalasnya dengan jari kelingking juga. Janji kelingking adalah salah satu jalan yang selalu mereka lakukkan ketika ingin berjanji atas sesuatu hal. Keduanya tersenyum lebar, merasakkan kembali rasa bahagia dan kenangan masa lalu nya.
"Beruntung banget gue punya temen kaya lo," Fabian mengatakkan hal itu sembari tertawa yang membuat Anela menjadi malu sekarang. "Gue juga,"
"Siapa sih yang gak tau sama Fabian, si pemain gitar dan vokalis The Petrichor yang terkenal satu Indonesia ini." ucap Anela dengan nada bagaikan pembawa acara ternama. Fabian mengelus kepala Anela dan mendorong dahi nya pelan.
"Siapa juga sih yang gak tau sama Anela, si pemenang lomba terus, anak jurnal cantik, dan pacarnya seorang pemain drum The Petrichor yang paling terkenal itu?!" seru Fabian sembari mengikuti bagaimana cara Anela berbicara tadi.
Keduanya kembali tertawa kencang, merasa bahagia dengan interaksi seperti ini yang selalu menjadi hal yang akan mereka terus rindukkan.
"Lo kenapa bisa suka sama gue sih La?" tanya Fabian yang mulai ingin mengejek gadis itu sekatang. Anela tertawa kencang, "Gak tau, mungkin karena lo cowo yang ada di deket gue terus." jawabnya.
"Eh Bi, waktu itu lagu yang cocok banget buat lo adalah lagu nya Billie Eilish yang Wish You Were Gay."
"Untung aja gak ke-kabul beneran La, gila lo." Fabian tertawa saat mendengarnya dan dibalas dengan tawaan juga oleh Anela.
"Pas banget tau!" ucap Anela lagi.
"Iya sih, tapi mikir lah dikit." balas Fabian dengan wajah kesal nya yang membuat Anela semakin tertawa. Bukannya Fabian yang mengejek gadis itu, kini malah sebaliknya. Anela memang selalu peka terhadap sekitarnya.
Fabian langsung saja mengambil gitar miliknya lalu memetikkan nada-nada disana. Lagu dari Billie Eilish dengan judul Wish You Were Gay akan Fabian nyanyikkan.
Lagu yang Anela pikirkan untuk menggambarkan bagaimana isi hati nya untuk Fabian saat itu. Lagu yang Anela inginkan terjadi dalam kehidupan nyata nya pada saat itu. Karenya nyatanya mengetahui Fabian tidak menyukai nya karena kepribadian gadis itu membuat rasa itu lebih menyakitkan dibandingkan dengan Fabian yang menolaknya karena alasan tak masuk akal seperti pada lagu ini. Anela mulai mendekatkan dirinya dengan Fabian lalu mulai ikut menyanyikkan lagu itu dengan suara indahnya.
"Baby, I don't feel so good", six words you never understood,
"I'll never let you go", five words you'll never say,
I laugh along like nothing's wrong, four days has never felt so long,
If three's a crowd and two was us, one slipped away,
I just wanna make you feel okay,
But all you do is look the other way,
I can't tell you how much I wish I didn't wanna stay,
I just kinda wish you were gay.
Inilah akhirnya, persahabatan yang memiliki akhir indah dan sangat sulit untuk mencoba saling berpisah. Walau banyak ada masalah dalam kehidupan mereka, namun tetap saja keduanya tidak akan pernah menginginkan sesuatu perpisahan pada hubungan mereka.
Rasa senang, sedih, dan banyak rasa lainnya telah mereka rasakkan dari saat awal kehidupan hingga saat ini. Keduanya sudah terbiasa hidup dengan terus bersama di berbagai waktunya. Dan kini, mereka akan terus tetap menjalankan hubungan pertemanannya hingga mereka sudah tidak ada lagi di dunia. Keduanya yakin akan hal itu, karena rasa sayang dan ingin menjaga satu sama lain sudah tertanam sejak kecil yang membuat mereka selalu ingin bersama sampai nanti.
Terimakasih karena pernah menjadi saksi kehidupan perjalanan keduanya, dan doakan keduanya bisa terus bersama hingga apa yang selalu menjadi harapan di keduanya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Akhirnya END juga ya teman-teman. tapi harapan Anela ke Fabian itu udah sampai wish you were gay banget. Yang penting sekarang Anela udah happy dan Fabian pun udah menerima keadaan walaupun dia harus mengorbankan perasaannya ya.
Terimakasih buat semua yang udah setia baca HIDDEN LOVE ini sampai tamat padahal aku jarang banget update. semoga kalian bisa baca cerita aku yang lain dengan seru yaa!!
THANK YOUUUUUUU
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
