Reynald kini sedang tertidur di kamarnya setelah ia diberikkan obat oleh pekerja dirumah nya tadi. Anela akan bersiap untuk pulang karena memang sudah tidak ada hal yang harus gadis itu lakukkan sekarang.
Baru saja Anela menginjakkan kakinya di ruang tamu rumah Reynald, ia sudah lebih dulu dipanggil oleh seorang wanita yang memiliki rumah ini. Mamih Reynald.
"Halo Anela?" sapa nya dengan senyuman manis namun tubuhnya tegak dan wajah yang dingin. Anela tersenyum gugup lalu menyapa Mamih Reynald itu dengan pelan.
"Anela mau pulang Tante, tadinya mau cari Tante dulu, tapi takut gak sopan kalau muter-muter sembarangan." ucapnya dengan nada gugup dan jantung yang berdetak cepat. Anela mulai ketakutan sekarang, ia takut salah bicara dan sebagainya.
"Mau ngobrol dulu gak?" tanya nya dengan ramah. Anela dengan ragu menganggukkan kepalanya. Mereka kini duduk di sofa ruang tamu dengan posisi bersebelahan.
"Kenal Reynald udah lama?" Mamih Reynald meminta tolong kepada pekerja dirumah itu untuk membawakkan mereka minum dan beberapa cemilan.
Anela menggelengkan kepalanya, "Baru-baru ini Tante,"
"Tapi kaya yang udah deket gitu ya?" setelah mengatakkan ini, Mamih Reynald tertawa perlahan diikuti dengan Anela. "Kata Reynald kamu suka belajar bareng sama dia ya? Masuk lima besar seangkatan? Apa bener?" tanya nya lagi.
"Iya Tante, Anela dapet beasiswa juga, makannya suka belajar bareng sama Rey." ucapnya sembari tersenyum tipis. Anela takut jika kejadian semacam yang ia lihat di acara-acara televisi akan ia alami.
"Oh, hebat ya." puji Mamih Reynald. Anela lagi-lagi hanya tersenyum tipis saja lalu menganggukkan kepala nya berulang dengan perlahan.
"Kamu emang suka belajar gitu ya?" tanya nya dengan wajah ramah dan penasarannya. Aneal tertawa pelan, "Mungkin? Karena Anela suka penasaran sama banyak hal. Makannya Anela lebih milih buat cari tau semuanya sendiri biar Anela bisa lebih tau jelas apa yang lagi Anela cari."
Mamih Reynald menganggukkan kepalanya, merasa puas dengan jawaban yang diberikkan oleh Anela itu. "Kamu mau jadi apa setelah lulus? Cita-cita kamu apa sih?"
"Anela sih pengennya jadi jurnalis Tan, kayanya seru aja gitu."
"Tante juga sama, pengennya jadi jurnalis, seru kan? Tapi gak bisa, keluarga Tante lebih suka Tante kerja di perusahaan besar kaya gini. Kamu harus wujudin cita-cita kamu ya? Biar kamu bisa tau gimana rasanya berhasil seperti apa yang banyak orang pengen rasain."
Anela menganggukkan kepalanya, ia mulai merasa nyaman bisa mengobrol dengan Mamih Reynald ini. Ternyata ia tidak seburuk apa yang Anela pikirkan, mereka memiliki banyak kesamaan, dimulai dari bagaimana mereka berbicara, sudut pandang, dan apa yang mereka sukai.
Reynald benar, Anela mirip seperti Mamihnya. Keduanya sangat sama, mungkin itulah mengapa Reynald bisa sangat menyukai Anela sekarang.
Mamih Anela takut jika Anela adalah orang yang memiliki sifat hampir sama dengan Melisa, ia takut jika anaknya salah memilih karena untuk pertama kalinua Reynald berani bercerita mengenai rasa suka nya kepada kedua orang tuanya itu yang membuat ia sedikit terkejut dan penasaran dengan sosok yang disebutkan oleh Reynald.
Tiba-tiba saja, Reynald datang ke arah mereka dengan wajah bangun tidur nya. "Aku kira Anela udah pulang," ucap Reynald kepada Mamihnya itu.
"Reynald emang suka tidur sebentar sekarang, malahan pernah 1 hari cuman tidur 3 jam aja. Makannya sakit kan," adu Mamih Reynald kepada Anela yang membuat Anela tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
