66 | Berdamai dengan keadaan (end)

124 6 0
                                        

Hari hari telah berlalu, kini sekolah Anela sedang mengadakkan acara main event pensi mereka. Anela dan Reynald terus bersama sejak tadi, Daren juga membawa Syifa sekarang.

Acara ini memang dibuka untuk umum, mengundang para penyanyi luar biasa disana yang bisa membuat orang-orang tertarik dan ingin datang. Jangan lupakkan banyaknya penjual makanan dan minuman disana yang menjadi penambah energi mereka agar bisa lebih semangat menonton acara ini.

Syifa dan Anela sedang duduk sembari memakkan makanan kesukaan Syifa, Daren dan Reynald yang juga duduk di samping para kekasihnya sembari memfokuskan mata mereka pada orang-orang yang menikmati penampilan.

Tak lama, datanglah Gavin dan Lily sembari membawa minuman di tangan mereka masing-masing. Gavin merangkul Lily yang membuat mereka terlihat bagaikan pasangan yang sangat pas saat ini. "Woi," sapa Gavin kepada mereka dengan nada pelan nya yang membuat Reynald, Daren, Anela, dan Syifa tersenyum menyapa mereka.

"Si Bian mana? Tumben gak nempel sama lo La," tanya Gavin kepada Anela karena biasanya Fabian masih akan tetap menjaga Anela dimanapun gadis itu berada.

Anela tertawa pelan, "Tadi sih sama Yoga, Raphael, tapi gak tau deh kemana." jawab Anela santai yang langsung dimengerti oleh lelaki itu.

Lily menatap ke arah Syifa canggung. Anela yang melihatnya langsung saja tersenyum gemas dan memperkenalkan keduanya. Vania datang dengan luaran khusus panitia yang membuat gadis itu terlihat sangat menggemaskan sekarang.

"Keren kan gue? Panggil gue Kak Vania 'si panitia acara.' hahaha." sombong Vania yang membuat Anela tertawa dan Daren yang menatap nya penuh rasa kesal.

Akhirnya lelaki yang dicari-cari ini datang dengan membawa banyaknya makanan di tangan mereka. Fabian memberikkan pasta untuk Anela yang tanpa sengaja ia lihat saat berkeliling tadi, Anela tersenyum berterimakasih kepada lelaki itu.

Raphael langsung memeluk kekasihnya, "Kangen tau gak? Kamu sibuk banget Van," ucap Raphael yang memang sudah tidak bertemu dengan Vania selama dua hari ini karena kesibukkan gadis itu, bahkan mereka hanya saling berkomunikasi sebentar sekali.

Vania membalas pelukkan lelaki itu lalu tersenyum manis, merasa sangat senang memiliki kekasih yang perhatian dan manja seperti Raphael ini. Yoga yang melihat pasangan itu mulai berakting seperti orang mual, "Bucin, jadi mual banget gue."

"Jomblo suka ngiri aja lo jelek," ejek Daren dengan wajah sombongnya lalu memegang lengan Syifa dengan senyuman manis nya. "Gatel juga, alergi sama pasangan gue."

"Jomblo seumur hidup dong nanti?" balas Vania yang mulai ingin ikut mengejek lelaki itu. "Enggak gitu juga kali Van, untuk kali ini aja."

"Ditolak kan lo sama gebetan lo? Makannya jadi alergi sama mual kaya gitu." ucap Reynald dengan wajah datarnya yang membuat ucapan lelaki itu terasa lebih menyakitkan. "Sabar gue mah sabar." pasrah Yoga pada akhirnya.

"Tungguin gue ya Bi, jangan punya pacar dulu." minta Yoga kearah Fabian yang sedang memakkan pasta miliknya disamping Anela. "Sorry, gak dulu."

"Anjir!" kesal Yoga yang membuat semua orang disana tertawa.

Obrolan mereka terus berjalan hingga tak terasa langit sudah mulai menggelap dan suasana acara yang semakin meriah. Reynald memegang pinggang Anela, tak ingin gadis itu jauh dari sisinya. Fabian yang berada di depan Anela, Yoga yang ada di samping Fabian, dan Gavin, Lily yang ada di samping Anela. Yang lainnya tidak ada disana karena memang tidak bisa ikut berkerumun disana.

Mereka kini sudah setia menonton penyanyi selanjutnya yang akan tampil di hadapan mereka. Anela tersenyum lebar yang dibalas dengan tatapan tulus Reynald.

"La," panggil Reynald yang membuat gadis yang dipanggil itu menatapnya penuh pertanyaan. "Seneng?" tanya nya.

Anela semakin keheranan dan mengerutkan keningnya kebingungan. "Kenapa sih?" Reynald langsung tertawa gemas melihat respon kekasihnya ini. Ia kemudian mengeratkan genggamannya pada pinggang Anela lalu menaruh kepalanya di kepala gadis itu.

"Bosen," ucap Reynald. Akhirnya Anela sadar mengapa lelaki itu terus menerus memberikkan pertanyaan yang aneh untuknya. Anela kemudian melihat jam yang ada di tangannya, masih pukul 8 malam.

"Mau pulang?" tanya Anela kepada lelaki itu yang membuat Reynald terdiam lalu mengangkat kedua bahu nya sebagai tanda jika lelaki itu bingung untuk menjawab pertanyaan itu.

Anela memegang bahu Fabian lalu memajukkan kepalanya agar saat ia berbicara bisa terdengar oleh lelaki itu. "Pulang jam berapa lo Bi?"

"Kenapa emang? Mau pulang lo?" tanya Fabian yang menjawab pertanyaan itu dengan jarak keduanya yang lumayan dekat. Anela menganggukkan kepalanya, "Reynald bosen katanya."

Fabian akhirnya mengerti lalu membalikkan badannya menuju ke arah mereka lalu menatap ke arah Reynald untuk kali ini. "Mau balik lo?" tanya nya.

"Gak tau gue, lebih seru jadi tamu daripada nonton begini." jawab Reynald yang langsung diangguki setuju oleh lelaki itu. "Yaudah, ayo gue anter kedepan." ucap Fabian.

Reynald dan Anela berpamitan kepada yang lainnya dengan melakukkan 'tos'. Mereka kemudian berjalan menjauhi kerumunan dan bertemu dengan Daren juga Syifa yang masih duduk di bangku yang tadi mereka tempati.

"Salam buat Vania sama Raphael ya, gue sama Anela balik duluan." ucap Reynald kepada Daren yang langsung dijawab oleh anggukkan kepala gadis itu.

Anela menatap Syifa dengan senyuman lebar nya lalu memeluk gadis itu dengan lumayan erat. "Nanti ketemu lagi ya," ucap Anela. Syifa menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat sembari melambaikan tangannya ke arah Anela yang sudah mulai berjalan pergi meninggalkan mereka.

Kini ketiga orang itu sudah berada di parkiran, sebelum masuk kedalam mobil, Anela lebih dulu menatap Fabian yang juga masih menatap ke arah dirinya. "Gue pulang duluan ya Bi," pamitnya.

Fabian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tenang dan melambaikan tangannya ke arah Anela. "Hati-hati lo berdua, kalau Bunda gue tanya, jawab gue nginep di Yoga ya La,"

Anela mengangkat satu ibu jari nya sebagai tanda ia akan mengikuti apa yang diucapkan oleh Fabian tadi. Ingin sekali rasanya Fabian mengelus puncak kepala Anela lagi atau bahkan memeluknya sebagai tanda mereka akan berpisah walau hanya sementara.

Namun tentu saja semua itu tidak bisa ia lakukkan, Fabian ingin yang terbaik untuk sahabatnya, ia juga tak ingin menyakiti hati pasangan Anela yang juga adalah sahabat nya.

"Dadah Fabian!" seru Anela sembari tertawa lebar dan melambaikan tangannya dari kaca mobil. Reynald juga tersenyum ke arah lelaki itu sampai mobil yang ditumpangi keduanya sudah menghilang dan menjauh dari pandangan Fabian.

"Anela, gue seneng lo bisa mencoba sesuatu yang paling gue takutin saat itu. Gue pengen lo ngerasain jatuh cinta tapi gak mau buat lo ngerasain gimana pahitnya cinta. Semuanya pengen banget gue kasih tau sama lo tanpa lo harus bisa ngalamin nya, tapi nanti lo gak akan pernah bisa belajar yang bener-bener belajar tentang kehidupan lo sendiri, gue gak akan ikut campur lagi, kehidupan lo cuman bisa diatur sama lo sendiri."

"Jujur aja, gue pernah suka sama lo, siapa sih yang gak akan suka sama tipe cewe kaya lo. Cantik, baik, pinter, perhatian, apalagi yang kurang coba? Ya walaupun sedikit galak sih. Tapi gue mundur La, lo pantas dapetin yang lebih baik dari gue ini, gue juga ikhlas udah bisa liat lo yang sekarang bahagia sama Reynald. I always hope the best for you Anela, i love you."

Hidden LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang