Sudah seperti biasanya, Anela dan Fabian pergi bersama menuju ke sekolah menggunakkan mobil yang juga pernah menjadi saksi kedekatan mereka sejak kecil.
Anela menatap heran saat ia telah melewati jalan yang selalu menjadi tempat nya untuk turun dari mobil ini. Fabian yang melihat hal itu hanya tertawa kecil lalu mengelus kepala Anela perlahan.
"Sekarang udah gak usah turun disini La, gue bakalan anterin lo sampai ke tujuan. Mau sampai ke depan kelas juga boleh." ucapnya yang membuat senyuman di wajah Anela semakin terlihat.
"Serius nih?" tanya Anela memastikkan. Fabian menganggukkan kepalanya sembari tersenyum manis ke arah Anela.
Sesampainya mereka darisana, baru saja turun dari mobil, keduanya sudah mulai menjadi topik pembicaraan dari banyak orang di sekolahnya.
Anela dan Fabian tidak menghiraukannya, mereka pernah mengalami kejadian ini sehingga keduanya tidak terlalu khawatir dan takut akan segala hal yang terus berputar dalam pemikirannya masing masing.
Setelah menyimpan masing-masing tas mereka di kelas, keduanya berjalan bersama menuju kantin karena Vania dan yang lainnya ada disana, termasuk anggota The Petrichor.
Tatapan kebingungan dari teman-teman keduanya mulai bermunculan, Vania bahkan melebarkan kedua matanya sekarang, ia begitu terkejut saat melihat keduanya berjalan bersama tanpa terlihat adanya rasa canggung sedikitpun.
Vania langsung saja menarik lengan Anela, "Lo udah damai?" tanya nya dengan penuh rasa penasaran.
"Udah Van, santai aja." ucap Fabian. Anela menatap ke arah Vania penuh senyuman lalu menganggukkan kepalanya menandakkan jika keduanya sudah mulai berdamai.
Yoga yang masih terkejut menatap ke arah Fabian dan Anela bergantian. "Lo berdua kalau jalan berdua gitu lucu ya, kaya pasangan selebgram gitu."
"Halu lo." Fabian mendorong bahu lelaki itu pelan yang membuat tawaan dari yang lainnya keluar.
"Gimana cerita nya lo berdua bisa damai? Jadi penasaran deh gue." tanya Vania lagi ke arah Fabian dan Anela.
Fabian menatap ke arah Anela agar gadis itu yang menjawabnya karena ia takut jika salah bicara. "Ya biasa aja sih, kita udah kecil temenan, masa mau musuhan." jawabnya dengan singkat.
"Kalau lo macem-macem sama sahabat gue, gue bakar lo." ancam Raphael yang di respon oleh salah satu ibu jari yang diangkat oleh tangan Fabian.
Mau seberapa mereka kesal dan benci akan sikap keras kepala Fabian, mereka juga pasti ingin sahabatnya bisa kembali ke situasi dulu, dimana keduanya bisa saling bersama tanpa adanya masalah lagi. Mereka tentu senang saat mengetahui masalah besar yang entah kapan akhirnya ini bisa menemukkan ujungnya.
"Reynald mana?" tanya Fabian saat menyadari mata Anela yang terus mencari ke seluruh kantin. "Gak sekolah dia, udah sibuk." jawab Gavin.
Fabian menganggukkan kepalanya lalu kembali menatap ke arah Anela yang juga sudah tidak mencari keberadaan seseorang lagi.
"Lo gak akan minta maaf sama gue nih?" tanya Daren dengan nada dingin nya namun wajah lelaki itu menunjukkan kejahilan.
Fabian tertawa sebentar, "Sorry, gue salah paham. Gue kira lo emang deketin Anela. Kenalin pacar lo dong," ucapnya sembari saling bersalaman sebagai tanda akhir dari permasalahan keduanya.
Yoga dan Gavin lagi-lagi kebingungan. Mereka bagaikan seorang anak kecil yang diberi pelajaran untuk anak dewasa, tidak tahu apa-apa. Yang lain menertawakkan kedua orang itu karena melihat ekspresi mereka yang begitu terkejut saat mendengarkan segala ucapan yang keluar sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Jugendliteratur[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
