Kedua sahabat yang sudah mulai merenggang ini kini sedang duduk di ruang tamu rumah Fabian. Anela datang kerumah Fabian karena memang lelaki itulah yang memintanya datang kesana.
"Murid baru di sekolah, siapa sih namanya La?" tanya Fabian tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah film yang diputar di TV depan Fabian.
"Daren." jawab Anela santai lalu mengambil cemilannya dan kembali mengusap layarnya untuk melihat gambar-gambar yang ada di salah satu aplikasi ponsel Anela.
Fabian langsung mengalihkan tatapannya berubah menjadi menatap Anela terkejut. "Kenal? Biasanya lo gak tau apa apa," ucapnya yang langsung berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Anela.
"Kata siapa? Gue tau kok," balas Anela sembari menarih ponsel nya ke sofa dan ikut menonton film yang di putar didepannya.
Keduanya menjadi terdiam, namun setelahnya lengan Fabian tiba-tiba memutar di bahu gadis itu sehingga membentuk pergerakkan merangkul. Anela menolehkan kepalanya kebingungan ke arah Fabian, "Orang itu kayaknya suka sama Melisa deh La,"
Anela jelas saja terkejut, namun wajahnya berhasil menyembunyikkan itu semua. "Kenapa bilang gitu?" tanya Anela dengan wajah penasarannya.
"Tadi waktu di sekolah, gue liat Melisa ngobrol sama Daren. Keliatan asik aja gitu," Fabian semakin menundukkan kepalanya hingga menyentuh kepala Anela juga.
"Lo cemburu ya Bi?" tanya Anela dengan degupan jantung yang kini kembali hadir.
Berkat Daren, ingatan Anela terhadap Fabian seketika sedikit menghilang. Anela hanya akan memikirkan lelaki itu jika ia sedang dalam kesendirian saja, bahkan selama ini keduanya sudah jarang bermain bersama ataupun mengobrol. Hanya bertemu di sekolah secara tidak sengaja saja.
Dengan cara Daren, Anela juga bisa mengubah pikirannya menjadi bebas. Bukan bebas dalam artian buruk namun Anela yang sekarang bisa belajar tentang apa saja hal yang harus gadis itu katakkan kepada orang lain atau tidak. Demi kenyamanan nya sendiri, Anela harus bisa mengontrol perasaan dan sekitarnya juga.
Fabian berdehem pelan, ia kemudian menganggukkan kepalanya. "Udah lah Bi, Melisa juga udah jadi pacar lo kan." Anela berusaha menghapus perasaannya lagi dan memanfaatkan kesakitan hatinya di hari ini untuk menjadi sebuah rasa benci untuk kembali menyimpan rasa kepada Fabian lagi.
"Tapi kan kalau ada orang ketiga, bisa aja gagal La." Fabian benar benar terlihat lemas dan bersedih. Anela juga ikut kecewa melihatnya, mengapa lelaki itu menganggap jika seakan akan Melisa adalah orang penting di hidupnya yang sampai tidak boleh untuk tidak didapatkan dalam kehidupannya.
"Kalau mereka deket, kan sama aja bohong. Nanti Melisa malah suka sama Daren, terus pacaran dan ninggalin gue. Gue gak mau La..." ucap Fabian yang semakin menundukkan kepalanya hingga bersentuhan dengan bahu Anela.
Sialnya, di posisi ini Anela sudah menyerah untuk berusaha melupakkan Fabian. Hati nya kembali tergoyahkan. Patah hati dan perasaan yang Anela sekarang rasakkan benar benar membuat rasa itu kembali seperti semula. Gadis itu benar benar menyerah hari ini.
"Yaudah, jangan sampai deket dong." jawab Anela dengan nada kesal nya dan langsung berdiri dari duduknya yang membuat kepala Fabian hampir saja terjatuh kedepan.
"Kok marah sih La?" tanya Fabian tiba tiba.
"Gak ada yang marah tuh." jawab Anela sembari membesarkan matanya ke arah Fabian dan berjalan ke arah dapur untuk meminum segelas air putih disana.
"Tuh kan, matanya melotot, suara nya kaya gitu. Kenapa sih?" Fabian menghampiri Anela dengan senyuman yang lagi lagi berhasil membuat Anela lebih luluh kepada lelaki itu.
Anela menghela nafasnya kasar, "Ya abisnya, Fabian yang gue kenal gak kaya gini. Bukan Fabian yang pasrah dan nyerah sama keadaan. Kalau takut ya jagain dong,"
Fabian tersenyum lebar mendengarnya. "La, nasi goreng yu?" ajak Fabian sembari menarik lengan gadis itu ke arah garasi nya.
Mereka kemudian masuk kedalam mobil milik Fabian lalu berjalan untuk mencari pedagang yang menjual makanan yang mereka inginkan.
Tempat nasi goreng di malam hari adalah tempat dimana Fabian dan Anela selalu datangi jika mereka merasa lapar di malam hari. Sesampainya mereka disana, hanya Fabian yang turun dari mobil dan memesankan makanan untuk dirinya dan Anela.
Setelahnya, Fabian masuk lagi ke mobil karena memang mereka akan makan didalam mobil. Apalagi jika bukan karena ketakutan Fabian untuk dikenali orang jika ia berteman dekat dengan Anela.
Tak lama, datanglah penjual nasi goreng itu sembari membawa dua piring berisi nasi goreng disana. Fabian mengambilnya dan memberikkan satu piring itu ke Anela.
"Pake telor nya 2 kan Bi?" tanya Anela yang langsung diangguki cepat oleh Fabian. Lelaki itu kemudian mengambil air putih yang sebelumnya telah ia beli lalu diminumnya sedikit untuk membuat tenggorokkan nya tidak terlalu kering.
Fabian menatap Anela yang kini sedang mengadukkan sedikit nasi gorengnya. "Pedesnya udah pedes banget La, tadi gue bilang gitu sama bapaknya."
"Orang marah ditambah makan pedes bakal jadi api gak ya?" tanya Fabian yang berhasil membuat Anela tertawa. Fabian pun ikut tertawa saat melihat sahabat kecil nya itu tertawa.
"Gue tebak, pasti lo lebih pedes dari gue. Iya kan?" tanya Anela dengan wajah yang dibuat bagaikan detektif yang sedang mengintrogasi seseorang.
Fabian hanya memberikkan senyuman lebar nya saja lalu memakkan satu suap nasi goreng didepannya. Fabian adalah lelaki yang sangat menyukai rasa pedas. Selain lelaki itu menyukai ayam, Fabian juga sangat menyukai sambal atau apapun itu yang memiliki rasa pedas.
Sedangkan Anela, gadis itu hanya menyukai pedas saja, tidak yang sangat seperti Fabian. Anela lebih suka rasa yang penuh dengan bumbu dibandingkan dengan rasa yang normal pada biasanya. Entahlah, menurut Anela jika bumbu nya banyak akan lebih terasa di lidahnya.
Anela mengambil satu sendok milik Fabian dan memakkan nya dengan perlahan. Fabian yang melihat hal itu mulai penasaran dengan reaksi Anela. Benar saja, Anela langsung menutup mulutnya terkejut karena rasa pedas milik Fabian tidak ada tandingannya lagi.
Fabian tertawa kencang melihat Anela, ia kemudian mengambil air minum di mobil nya dan langsung diberikkan kepada gadis itu. Air minum yang tadinya penuh, sekarang hanya tersisa kurang dari setengahnya. "Pedes banget!"
"Kaya omongan lo kan La." Anela langsung saja memukul bahu lelaki itu kesal. "Rasa air nya juga hambar, kaya selera humor lo. Gak ada apa apanya." balas Anela sembari mengeluarkan lidah nya tanda mengejek ke arah Fabian.
Keduanya terus menerus bercanda dan mengobrol dengan ditemani nasi goreng sebagai penambah energinya. Setelah puas dengan segala percakapan yang telah mereka bahas dan sudah merasa kenyang dengan makanan yang tadi mereka pesan. Fabian pun langsung memutar mobil nya untuk kembali pulang kerumah karena malam sudah semakin larut dan mereka masih harus bersekolah di esok harinya.
Sebelum Anela turun dari mobil, Fabian tiba tiba saja memegang lengan gadis itu, menahan Anela untuk keluar lebih dulu. Fabian menarik lengan Anela dan langsung memeluknya erat.
Degupan jantung Anela semakin bertambah, rasa kebingungannya muncul seketika, dan tubuhnya seakan membeku tidak bisa digerakkan. Tak lupa, Fabian juga mengusap kepala Anela secara perlahan yang membuat gadis itu semakin sulit untuk menghela nafasnya.
"Tidur yang nyenyak ya La. Jangan jauh jauh lagi, jangan kabur kalau gue ajak main, jangan marah kalau gue curhat sama lo. Gue kangen."
Ucapan itu membuat Anela semakin membeku. Fabian melepaskan pelukannnya lalu menatap Anela dengan senyuman manis milik lelaki itu. "Dadah! Besok bareng gue kaya biasanya ya La."
Anela pun hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan lalu turun dari mobil Fabian tanpa ingin menatap kembali lelaki itu. Gadis itu benar benar dibuat jatuh cinta dengan sikap Fabian tadi. Semua perjuangan untuk melupakkan Fabian dan segala pemikiran untuk keluar dari perasaannya kembali digagalkan.
Gadis itu hanya berharap jika perasaannya bisa segera menghilang dan kembali berubah menjadi perasaan seorang sahabat sedari kecil tanpa adanya rasa cinta kepada seorang pria seperti apa yang kini Anela sedang rasakkan. Semoga saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hidden Love
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bukan cerita tentang percintaan mulus yang berawal dari persahabatan, tetapi jalan hidup Anela yang menjadi rumit karena ulah sahabatnya. Termasuk kedalam salah satu anggota band terkenal, membuat Fabian mengubah kepribadia...
