Ngomongin tentang Jeffrey.
Jeffrey ini memang teman Jia sejak mereka duduk di bangku kelas 7. Pertemuannya cukup mengharukan karna Jeffrey menemani Jia disaat titik terendahnya kala itu. Karna ketika Jia duduk di bangku SMP, ia benar-benar kehilangan arah dan putus asa.
Sejak saat itu Jeffrey dan Jia terus bersama, pertemanan mereka selayaknya air dan api, kadang tenang kadang juga membara.
Suatu saat dikelas 7...
↪Flashback on
Keluarga Jia baru menginjak 3 bulan setelah perceraian dan mereka berpisah. Ya mereka, Jia dan Jaka ikut ayah nya, sementara Jaki dan Jio ikut Mama.
Sedih? Tentu. Pikirannya sangat kacau, memang dari dulu ia sering melihat kedua orang tuanya bertengkar. Namun yang membuat sedih adalah mereka harus berpisah.
Pikirannya semakin berantakan sebab ia tidak diterima di SMP Negeri pilihannya, yang merupakan SMP ter-favorit di kotanya.
Sekarang hari ke 5 Jia di SMP swastanya, SMP yang sebenarnya merupakan lanjutan dari SD dan TK nya, alias sekolah swasta yang sama.
Karna perceraian orang tuanya lah ia tidak pernah bisa fokus belajar untuk UN. Jangankan belajar untuk UN, tugas sekolah saja sampai banyak yang ia tidak kerjakan, rangking dikelas pun merosot drastis, dari 1 ke 20, bukan hanya dia, melainkan adik-adiknya juga.
Sudah hampir masuk jam sekolah namun ayahnya belum selesai merapihkan rumah, ia bingung, karna jika telat akan dimarahi anak OSIS.
Ayahnya sangat lama, lantas sebuah ide meluncur di otaknya.
"Ayah aku bawa motor sendiri boleh?"
Sang ayah ditengah kesibukannya pun menengok, "Emangnya bisa?"
Jia mengangguk.
"Yaudah tapi pake helm sama jaketnya ya, jangan ngebut-ngebut, ayah gamau sampe ditilang polisi loh." Tanpa pikir panjang Arash langsung mengizinkannya saja
Sebenarnya disekolah tidak boleh membawa motor sebelum kelas 9. Namun Jia tidak mengetahui itu.
Dengan santai ia masuk ke parkiran sekolah dan memarkirkan motornya.
Satpam tidak melihat, sebab ia menggunakan jaket dan helm, terlebih saat itu lingkungan sekolah sedang ramai.
Tiba disekolah ternyata hanya duduk dilapangan, sambil mendengarkan anggota OSIS. Ia hanya bengong sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. hingga tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang.
"Nanti selesai ini ikut kita ya." Suruh seorang anggota OSIS perempuan.
Ia cukup kaget dan menoleh, lalu mengangguk saja dengan kaku.
Acara sudah selesai, Jia langsung diajak oleh 3 anak OSIS tersebut.
"Lo tau ga disini yang boleh bawa motor tuh kalo udah kelas 9?" tanya anak OSIS perempuan dengan ber name tag Revi yang di dampingi oleh 2 temannya dikanan dan kiri.
Jia kebingungan, ia malah balik bertanya "Maaf ka salah aku apa ya?".
"Oh berarti selama ini kita ngomong di depan ga lo perhatiin ya?"
Jia hanya menundukan kepala merasa bersalah dan juga malas melihat muka Revi.
"Udah sok cantik, sok paling kece, centil lagi markir di depan kakel cowo yang hits, cakep lo begitu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
J Sibling's
FanfictionEmpat bersaudara-Jia, Jaka, Jaki, dan Jio-hidup di bawah satu atap dengan sejuta dinamika keluarga. Meski terlihat seperti keluarga sempurna, setiap dari mereka menyimpan luka dan keinginan yang tak terucap.
