LCC tinggal dihitung jari lagi, sekarang setiap hari bakal belajar bareng sama orang-orang pecinta buku. Kaya Alex dan Vanilla.
Setelah babak penyelisihan tiga kali, mereka bertigalah yang lolos. Mencengangkan bagi Jio karna perwakilan dari kelasnya ada dua orang sementara Alex dari kelas sebelah.
Tapi Jio bisa bernafas lega karna sekarang udah selesai belajarnya, dan dia bakal langsung futsal. Dia gak minta dijemput, sengaja mau jalan aja soalnya rumah Vanilla deket sama tempat futsal.
Pas lagi pake sepatu diteras rumah Vanilla, Jio menyadari sesuatu.
"Ih lucu banget," Kemudian ia mendekati tempat itu dan jongkong sembari menatapnya. Kandang kelinci yang berisi anak-anaknya yang menggemaskan.
Vanilla kemudian menyusul dan berjongkok disebelah Jio.
"Iya! Mereka baru satu bulan." Perjelasnya.
Kemudian karna Vanilla ngeliat wajah Jio yang kayanya suka banget sama kelincinya, dia buka kandangnya kemudian dia keluarin dan kasih ke Jio.
Telapak tangan Jo yang cukup besar pun cukup untuk memegang anak kelinci itu.
"Kamu mau?" Tanyanya ke Jio yang masih mengelus-elus kepala kelincinya.
Jio pun mendongak dan mengangguk, "Mau kalo boleh."
"Yaudah kamu mau yang mana? Pilih aja."
"Serius?" Tanya Jio yang dibalas anggukan oleh Vanilla.
"Kamu ulang tahun kan kemarin, aku belum kadoin. Jadi aku kadoin anak kelinci aja ya."
Kemudian Vanilla menghadap ke Alex yang lagi memperhatikan mereka berdua.
"Alex gausah ya, kan gak lagi ulang tahun." Ucapnya enteng.
Alex hanya bergedik tidak peduli. Masa bodo mau dikasih ga, orang dia gak suka hewan.
"Eh, kalo aku ambil besok aja boleh ga? Kalo sekarang aku mau futsal dulu, nanti kelincinya mati lagi."
"Oh okey! Gapapa besok juga kok." Jawab Vanilla sembari senyum manis sekali.
"Kamu futsal dimana?"
"Di futsal 99, deket kok dari sini."
Vanilla langsung membulatkan mulutnya, "Ohhh, itu deket tempat les balet aku dulu."
"Namanya sunflower ballerina."
Karna penasaran banget, Jio akhirnya mutusin buat mampir sebentar ke Sunflower Ballerina. Tapi kenapa dia bisa penasaran banget ya? Lah kok aneh.
Bener ini tempatnya, di samping dia sekarang. Tapi dari luar sepi, gak keliatan anak balet yang biasanya rame di jam segini.
Sampai akhirnya, matanya menangkap sosok kecil yang gak asing.
Dia mendekat ke gerbang, memicingkan mata tajam-tajam.
Benar. Itu Ciara—Ciara Aurora Aciella.
Adik tirinya, anak dari istri ayah yang dulu selalu dia hindari.
Gadis kecil itu sedang menangis, wajahnya merah, dan tubuh mungilnya digendong erat oleh seorang perempuan—mungkin gurunya. Ciara terisak keras, sesekali memukul pelan pundak sang guru.
Ah sudahlah namanya juga anak kecil, biasa nangisin yang gak penting. Dia pun memutuskan pergi.
Dia pun berbalik, berjalan santai sambil mengemut permen lolipop kecil. Tapi...
Sebelum benar-benar pergi, dia melirik sekali lagi.
Ciara menatap ke arahnya.
Tatapan yang sayu dan basah.
KAMU SEDANG MEMBACA
J Sibling's
FanfictionEmpat bersaudara-Jia, Jaka, Jaki, dan Jio-hidup di bawah satu atap dengan sejuta dinamika keluarga. Meski terlihat seperti keluarga sempurna, setiap dari mereka menyimpan luka dan keinginan yang tak terucap.
